Jumat, 05 Mei 2017

STUDI KRITIS TERHADAP SALAH SATU PRINSIP GERAKAN KAMMI, “PERBAIKAN ADALAH TRADISI PERJUANGAN KAMMI”

http://serialinspirasi.blogspot.co.id/2016/01/studi-kritis-terhadap-salah-satu.html

STUDI KRITIS
TERHADAP SALAH SATU PRINSIP GERAKAN KAMMI,
“PERBAIKAN ADALAH TRADISI PERJUANGAN KAMMI”


VIKI ADI NUGROHO

KAMMI KOMISARIAT UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

KAMMI DAERAH SLEMAN






KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum. Wr. Wb.
Segala Puji bagi Alloh yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk banyak belajar. Sehingga mampu bersyukur dan menyelesaikan tulisan yang sedikit ini. Sholawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, dimana karena beliau lah islam kemudian menyebar, menjadikan dunia ini makmur.
Saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung dan membantu dalam segenap proses penyusunan makalah yang sederhana ini. Meski tuntutan dari berbagai aktivitas lebih banyak, namun Alhamdulillah bisa terselesaikan. Semoga Alloh memberikan kebaikan atas hasil usaha ini.
Dalam menyampaikan perbaikan ini, tentu kita paham bahwa mahasiswa ini ialah anasir perubahan, dan kampus adalah salah satu medan perubahan. Maka tidak patut kalau ia disiakan berlalu begitu saja. Semoga apa yang saya tulis bisa bermanfaat.
Saya yakin masih banyak kekurangan, karena memang sumbernya juga masih sedikit dan diakumulasi dengan pengalaman yang belum genap satu tahun kepengurusan. Tentu ini belumlah lengkap. Masih banyak acuan yang bisa dijadikan rujukan. Kritik dan saran sangat ditunggu untuk perbaikan ke depan.
Terima kasih.
Wassalamu’alaikum. Wr. Wb.



Penulis







BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang Masalah

Alloh menciptakan manusia di bumi ini pasti bukanlah hal sia-sia seperti yang telah digariskan dalam aqidah. Seperti disebutkan dengan jelas dalam nash Al-Quran bahwa tiada lain tugas manusia ialah beribadah. Arti ibadah di sini tentu sangatlah luas.
Dialog Alloh dengan malaikat telah menjadi catatan bahwa Alloh menciptakan manusia sebagai pemakmur di bumi, sebagai pemimpin di bumi, dan ini juga merupakan ibadah dalam cakupan yang lebih luas lagi. Karena sebagai pemakmur bumi, pemimpin bumi, maka sudah jelas bahwa misi manusia ialah misi peradaban. Ia membawa misi perbaikan (ishlah). Perbaikan inipun secara jelas Rasulullah telah mencontohkan bergerak dalam sebuah komunitas (jamaah), tidak cukup jika hanya dilakukan sendirian.
Sebagai organisasi yang mewadahi mahasiswa muslim, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia menawarkan salah satu prinsip dari enam prinsipnya, yaitu “Perbaikan adalah Tradisi Perjuangan KAMMI”. Tentu ini bukanlah hal yang baru. Karena memang ini adalah prinsip yang telah ditegaskan Alloh kepada hamba-Nya yang juga sudah dicontohkan kepada Rasulullah.
Dari sini lah kemudian saya ingin mencoba memberikan studi kritis terhadap prinsip ini.


B.   Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang akan saya analisis:
1.    Apa arti dari prinsip “perbaikan adalah tradisi perjuangan KAMMI”?
2.    Bagaimana cara KAMMI melakukan prinsip tersebut?

C.   Tujuan dan Manfaat

Adapun tujuan dan manfaat dari penulisan makalah ini, antara lain:
1.    Mengetahui arti atau maksud dari prinsip “perbaikan adalah tradisi KAMMI”.
2.    Mengetahui bagaimana cara KAMMI melakukan prinsip ini.







BAB II
PEMBAHASAN

A.   Arti dari Prinsip “Perbaikan adalah Tradisi Perjuangan KAMMI”

Disini saya akan mengawali dengan menganalisis per makna kata yang nantinya akan disimpulkan menjadi makna secara utuh.

1.    Perbaikan
Perbaikan menurut KBBI ([Daring]badanbahasa.kemdikbud.go.id/kbbi/) antara lain: pembetulan (hasil, perbuatan, usaha), keadaan menjadi baik, dsb.
Saya garis bawahi pada membetulkan dan keadaan menjadi baik.
Sementara dalam Al-Quran makna perbaikan (ishlah) ini juga banyak sekali disebutkan dengan berbagai maknanya, mulai dari amal sholeh, hidayah, iman, saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran, hingga keutamaannya sebagai perintah Alloh seperti dalam Q.S. Hud: 88, Al-Asr: 1-3, Al-Anam: 48, Ar-Ra’du: 23-24, dan masih banyak yang lainnya. Saya garis bawahi pada saling mengingatkan.
Juga dalam Q. S Al-Anfal: 39, bahwa upaya perbaikan ini ialah supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Alloh. (Hasan Al-Banna, 2012: 36) Saya garis bawahi pada jangan ada fitnah dan agama itu semata-mata untuk Alloh.
Upaya perbaikan kehidupan harus bersandar pada syariat islam yang secara kuat berupaya memelihara lima aspek kehidupan dalam kehidupan manusia yaitu: agama, akal, jiwa, kehormatan, dan harta. (Mahfudz Sidiq, 2003: 216) Saya garis bawahi pada syariat islamdan lima aspek kehidupan.
Dalam Fiqih Dakwah pada Bab Penjelasan Umum Tentang Dakwah, maka konsep perbaikan akan tercermin dalam tujuan dakwah dengan menjadikan tujuannya ialah Alloh semata. (Musthafa Masyhur, 2013: 5) Saya garis bawahi pada tujuannya ialah Alloh semata.
Begitu pula Sayyid Quthb dalam buku Petunjuk Jalan nya dalam konsep Laa ilaa ha ilallaah, maka jalan ini memang jalan yang harus diawali dengan pemurnian dan penghambaan hanya kepada Alloh untuk mendapatkan tujuan. (Sayyid Quthb, 2013: 166) Saya garis bawahi pada pemurnian dan penghambaan.
Dalam Risalah Pergerakan Hasan Al-Banna bab Kepada Apa Kami Menyeru Manusia (7) pada sub bab jalan tersebut sudah jelas, dijelaskan bahwa perbaikan ini pada dasarnya ialah amar ma’ruf nahi munkar. (Hasan Al-Banna, 2012: 58) Saya garis bawahi pada amar ma’ruf nahi munkar.
Dalam strategi Perubahan KAMMI – secara konsep sama dengan risalah pergerakan Hasan Al-Banna – secara garis besar upaya perbaikan ini ada tahapannya, yaitu: mewujudkan pribadi muslim yang diridhoi Alloh, mewujudkan rumah tangga dan keluarga islami, mewujudkan masyarakat dan lingkungan islami, mewujudkan negara yang diridhoi Alloh, dan mewujudkan peradaban dunia yang diridhoi Alloh. (Amin Sudarsono, 2010: 89) Saya garis bawahi padatingkatan/ tahapan amal.
Dalam Risalah Muktamar Kelima dalam sub bab Fikrah ikhwanul muslimin menghimpun seluruh makna ishlah (perbaikan) dijelaskan bahwa fikrah Islam adalah fikrah yang melingkupi seluruh aspek ishlah al ‘ummah (perbaikan masyarakat) dan didalamnya setiap unsur dari berbagai pemikiran dalam rangka perbaikan.  (Hasan Al-Banna, 2012: 538) Saya garis bawahi pada perbaikan seluruh aspek perbaikan masyarakat.
Dari pengertian-pengertian diatas maka dapat saya simpulkan bahwa yang dimaksud perbaikan di sini ialah upaya mengubah atau membetulkan kehidupan masyarakat dengan cara ber amar ma’ruf nahi munkar pada seluruh aspek – politik, sosial, budaya, pendidikan, dsb – dengan segala tahapan/ tingkatan amal dengan tujuan semata-mata untuk Alloh.
2.    Tradisi
Dalam KBBI ([Daring] badanbahasa.kemdikbud.go.id/kbbi/), tradisi diartikan dengan makna: (1) adat kebiasaan turun-temurun (dari nenek moyang) yang masih dijalankan di masyarakat. (2) Penilaian atau anggapan bahwa cara-cara yang telah ada merupakan yang paling baik dan benar.
Saya yakin dalam hal ini tidak ada perdebatan mengenai pengertian tradisi, yang jelas poin di sini ialah “kebiasaan”, dan “penilaian bahwa cara-cara yang telah ada adalah benar”.
3.    Perjuangan
Perjuangan dalam KBBI ([Daring]badanbahasa.kemdikbud.go.id/kbbi/) ialah: (1) perkelahian (merebut sesuatu, peperangan), (2) usaha yang penuh  dengan kesukaran dan bahaya, (3) salah satu wujud interaksi sosial, termasuk persaingan, pelanggaran, dan konflik. Saya garis bawahi usaha penuh kesukaran dan bahaya dan wujud interaksi sosial.
Di dalam Al-Quran bisa dilihat dalam Q. S Al-Hujurat: 15, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” Berjuang di sini lebih diartikan dengan istilah beramal dan jihad (kesungguhan). Jihad memiliki banyak dimensi seperti jihad melawan hawa nafsu, jihad berperang, dan sebagainya. Saya garis bawahi berjuang disini identik dengan beramal dan berjihad.
Juga dalam Q. S. Al-Ankabut: 1-3, sudah jelas bahwa Alloh akan menguji manusia sehingga akan terlihat mana mana yang bersungguh-sungguh, mana yang berdusta. Konsep perjuangan di sini bisa kita lihat bahwa perjuangan yang dimaksud ialah “kesungguhan” dalam hal “berdakwah” karena ujian yang datang pasti butuh yang namanya “saling mengingatkan”. Sehingga Perjuangan dalam jalan dakwah tidaklah mudah, tidaklah halus, tidaklah selalu cepat. (Musthafa Masyhur, 2013: 6). Saya garis bawahi tabiat jalan perjuangan “dakwah”.
Perjuangan dalam “berdakwah” memiliki tiga aspek amal, yaitu hati, lisan, dan tangan. Sehingga perjuangan melalui ketiga aspek amal ini harus disesuaikan dengan situasi kondisi, khususnya yang berkaitan dengan tangan (kekuatan) karena ini akan berkaitan dengan cara yang dilakukan dalam berdakwah, tidaklah mungkin menebar nilai kebaikan jika dilakukan dengan keburukan. (Muhith Muhammad Ishaq, 2012: 69) Saya garis bawahi situasi kondisi dan cara yang dilakukan.
Sehingga saya simpulkan bahwa perjuangan adalah usaha atau amal yang dilakukan dengan sungguh-sungguh – karena tabiat jalan dakwah yang tidak mudah - dengan meniatkannya untuk berjihad di jalan Alloh (dakwah) sesuai dengan situasi kondisi dan dilakukan dengan cara yang baik dan sesuai syariat.

Setelah mengetahui arti dari beberapa kata di atas, saya akan kembali pada pembahasan awal, apa arti dari prinsip “perbaikan adalah tradisi perjuangan KAMMI”. Bahwa KAMMI memiliki tujuan perbaikan. KAMMI berupaya mengubah atau membetulkan kehidupan masyarakat dengan cara ber amar ma’ruf nahi munkar pada seluruh aspek – politik, sosial, budaya, pendidikan, dsb – dengan segala tahapan/ tingkatan amal dengan tujuan semata-mata untuk Alloh. KAMMI menjadikan tujuan perbaikan ini sebagai hal yang mendasar, sebagai suatu prinsip yang sebenarnya bukan prinsip baru, namun sudah tertera dalam nash Al-Quran dan dicontohkan oleh Rosulullah. Sehingga tersebut lah sebagai kata “tradisi”.
Tentu dalam upaya menuju perbaikan ini memiliki berbagai tahapan seperti perbaikan diri sendiri, keluarga, masyarakat, pemerintahan, negara, dan dunia. Juga tahapan dakwah mulai dari pengenalan, pembentukan dan amal nyata.
KAMMI sebagai penyeru kebaikan, maka cara yang dilakukan pun adalah cara-cara yang baik dan sesuai aturan/ syariat, cara-cara yang sesuai dengan situasi kondisi. Karena islam adalah rahmat untuk seluruh alam.

B.   Cara KAMMI melaksanakan Prinsip Perbaikan sebagai Tradisi Perjuangan

Sebelum melihat cara pelaksanaan prinsip ini, maka alangkah baiknya jika kita melihat apa visi misi Gerakan KAMMI. Adapun visinya ialah wadah perjuangan permanen yang akan melahirkan kader-kader pemimpin masa depan yang tangguh dalam upaya mewujudkan masyarakat islami di Indonesia. Perlu digaris bawahi pada “kepemimpinan” dan “masyarakat islami (madani)”. (Mahfudz Sidiq, 2003: 206)
Sedangkan misi nya, yaitu: (1) menjadi pelopor, perekat, dan pemercepat proses perubahan, (2) memberikan pelayanan sosial, (3) memberikan pendidikan politik kepada masyarakat. (Mahfudz Sidiq, 2003: 211)
Visi misi di atas ialah visi misi awal terbentuknya KAMMI, meski hingga kini sudah terjadi penyempurnaan. Namun intinya sama hanya diperjelas bagian perinciannya.
Kenapa kita harus melihat visi KAMMI lalu setelah itu melihat prinsip KAMMI? Apa hubungannya? Dalam GBHO yang dibentuk pada saat Muktamar VII (Aceh). Visi KAMMI ialah tujuan yang hendak dicapai atau kondisi yang ingin diwujudkan oleh KAMMI. Sedangkan prinsip gerakan KAMMI adalah nilai-nilai dasar gerakan yang menjiwai pergerakan KAMMI sebagai suatu amal jama’i. Prinsip gerakan adalah ciri khas pergerakan KAMMI yang secara unik membedakannya dengan gerakan lain. Prinsip ini merupakan tradisi yang menjadi tetapan (tsawabit) gerakan dan menjadi tolak ukur konsistensi (asholah) gerakan KAMMI.
Kita bisa menyimpulkan hubungan visi dan prinsip. Bahwa untuk mencapai visi tersebut, maka KAMMI harus berpegang pada prinsip-prinsipnya. Sehingga dalam mencapai tujuan digunakanlah cara-cara yang baik.
Di sini saya tidak akan membahas contoh apa saja yang sudah dilakukan KAMMI dalam usaha melakukan perbaikan, namun saya lebih menyoroti pada konsep caranya, antara lain:
1.  Dalam hal “kepemimpinan”, sesuai dengan visinya untuk mencetak kader-kader yang memiliki karakter kepemimpinan muslim untuk masa depan, kita bisa merujuk pada bidang/departemen serta agenda-agenda yang dilakukan KAMMI. Selain Ketua, Sekjen dan perangkatnya, bendahara, ada bidang Kajian Strategis/ Kajian Publik, ada kaderisasi, ada Sosial/ Pemberdayaan Masyarakat, Pembinaan Wilayah, serta Dana dan Usaha.
Sesuai pembahasan “perbaikan”, salah satunya dengan mencetak pemimpin muslim masa depan yaitu dengan adanya sistem/alur kaderisasi salah satunya Dauroh Marhalah dan sertifikasinya. Dalam hal ini KAMMI juga sangat memperhatikan bab pembinaan dan keilmuan, mulai dari kelompok MK (madrasah KAMMI – semacam liqo), kajian fikroh dan manhaj, diskusi, baca buku, dan sebagainya. Sehingga kesadaran/ nalar politik islam kader ini akan tergugah sehingga dengan kesadarannya bisa menempati pos-pos penting dalam lembaga kampus (konteks mahasiswa), baik lembaga dakwah, maupun lembaga umumnya, seperti DPM, BEM, HIMA, UKM, dsb. Dalam hal ini kedudukan bukan tujuan, namun hanya sarana. Efek samping menduduki pos penting ini juga akan menjadi daya tarik kaderisasi karena ketokohannya. Karena pemimpin “masa depan”, maka harapannya kader yang di kampus sudah belajar, setelah keluar mampu menjadi pemimpin pembaharu di masyarakat.
Seperti kita tahu mengapa awal terbentuknya KAMMI, ternyata sudah mampu mengumpulkan massa dengan jumlah banyak saat rapat akbar di masjid Al-Azhar hingga 20ribu orang, salah satunya karena sudah tersebarnya kader dakwah di berbagai bidang, sehingga untuk mengumpulkan massa dan memberi pengaruh lebih mudah karena ia punya karakter kepemimpinan yang bagus.
Selain dari situ, kepemimpinan juga bisa dibentuk dengan daya kritis mahasiswa mengkaji kebijakan dan berbagai masalah yang terjadi di sekitarnya lalu mengambil sikap apa yang akan dilakukan. Seperti saat suksesi kepemimpinan dan penggulingan Soeharto hingga mengawal proses pemerintahan transisi.
Sehingga harapannya karakter “kepemimpinan muslim masa depan” ini mampu menjadi agen pelopor, perekat, dan pemercepat proses perubahan ke arah perbaikan.
2.  Dalam masyarakat, sesuai visinya membawa perbaikan ke arah “masyarakat madani” yaitu masyarakat yang jauh dari otoriterianisme (demokratis), dipenuhi dengan nilai-nilai keadilan, persamaan, kebebasan, dan kemerdekaan. (Mahfudz Sidiq, 2003: 210).
Namun masyarakat madani tidak akan terwujud jika pemerintahannya juga tidak bisa madani, sehingga mengapa “kepemimpinan muslim masa depan” sangat penting dalam KAMMI sebagai agen perubahan.
Adapun untuk mencapai visi ini, telah tertuang dalam misinya yaitu pelayanan sosial dan pendidikan politik pada masayarakat. Dalam pelayanan sosial, maka ada bidang khusus menangani ini yaitu bidang sosial/ pemberdayaan masyarakat yang memiliki kegiatan berbasis amal sosial. Bahkan untuk menangani krisis atau semacam musibah pernah dibuat lembaga semi otonom seperti SSC (Social Service Center) yang mengurusi aksi sosial. Sedangkan dalam pendidikan politik kepada masyarakat sebenarnya sederhana, yaitu dengan merespon isu-isu, masalah-masalah, kebijakan-kebijakan di sekitar yang kemudian diboomingkan melalui aksi, dan itu sebenarnya ialah bagian dari pencerdasan politik bagi masyarakat.







BAB III
PENUTUP

A.   Kesimpulan

Kesimpulan yang bisa diambil, yaitu:

1.    Perbaikan adalah tradisi KAMMI merupakan Prinsip yang dibawa KAMMI adalah perbaikan dalam segala aspek kehidupan di masyarakat dan penyebarannya pun dengan cara-cara yang baik.
2.    Cara-cara atau peran perbaikan ini, KAMMI mengaplikasikannya dengan membuat bidang yang spesifikasi pada hal tertentu, membuat perangkat kaderisasi dan pembinaan serta jenjang nya, menyadarkan kader-kadernya akan pentingnya masuk ke berbagai aspek atau pos penting sehingga bisa berkontribusi memberikan perbaikan.

B.   Saran

1.    Makalah ini sangatlah sedikit referensi dan masih banyak pendapat subyektif berdasarkan pengalaman yang masih sedikit, sehingga masih banyak kekurangan. Pembaca bisa menelaah di berbagai sumber lain.
2.    KAMMI sebagai gerakan perbaikan yang menyeru tentu butuh pembinaan, maka gencarkan lagi bab pembinaan ini.








DAFTAR PUSTAKA

Al-Banna, Hasan. 2012. RISALAH PERGERAKAN HASAN AL-BANNA Jilid 1. Surakarta: Era Adicitra Intermedia.
Ishaq, Muhith Muhammad. 2012. FIQH POLITIK Hasan Al-Bana. Jakarta: Robbani Press.
Masyhur, Musthafa. 2013. Fiqih Dakwah Jilid 1. Surakarta: Era Adicitra Intermedia.
Quthb, Sayyid. 2013. MA’ALIM FI ATH-THARIQ Petunjuk Jalan yanag Menggetarkan Iman. Yogyakarta: Darul Uswah.
Sidiq, Mahfudz. 2003. KAMMI DAN OERGULATAN REFORMASI (Kiprah Politik Aktivis Dakwah Kampus dalam Perjuangan Demokratisasi di Tengah Gelombang Kritis Nasional Multidimensi). Solo: Era Intermedia.
Sudarsono. Amin. 2010. IJTIHAD MEMBANGUN BASIS GERAKAN. Jakarta: Muda Cendekia Press.

badanbahasa.kemdikbud.go.id/kbbi/ , 19 Oktober 2015, Pukul 21.56 WIB.

Sabtu, 22 April 2017



Bismillah...
☪☪☪

Susunan Pengurus Komisariat
Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia
Universitas Negeri Yogyakarta
2017/2018

Ketua: Viki Adi Nugroho

Sekjend: Hermadeta Widya S
BKSK:
1. Riza Oktariani
2. Nurul Khoirunisa
BPO:
1. Koor: Martyah
2. Layla Hasanah
3. Siti Maghfiroh

Bendahara:
1. Syifa Nurrahmah
2. Wiwik Halifah
BUMK:
1. (Koor): Fadhi Qahharsyah P
2. Ashia Inti
3. Azi Wanska

Dep. PSDM-S:
1. (Koor)Annisa Suminar
2.Tri Joko
3.  Inoui Widi Hakiki
4. Riri Purborapi
5. Ula Yafi' Inayah

Dept. Kaderisasi:
1. (Koor): Bisma Putra A
2. Jodi
3. Adivta
4. Ira Nofi S
5. Kifti
6. Abbiyu Amar
7. Rosyid Siddiq H
KOMANDER:
1. Koor: Yuyun Wijayanti
2. Ali Abdul Hakim
3. Nusaibah Al Istiqomah

Dep. Kebijakan Publik:
1. (Koor): Eko Susanto
2. Nurdiansyah P
3. Khairuddin Ahmad
4. M. Izzuddin Al-azzam
5. Romi Yulianto
6. Eka Septianti Putri
7. Rahmana Mufti
8. Sintya Nirmayasari
9. Lusiana Indriani
10. Wahidya Difta
11. Wisnu Prawijaya
12. Mirda H
13. Dimas S
Divisi Perempuan:
14. (Koor) Siti Futikhaturomah

Dep. Sosmas:
1. (Koor) Aziz Ansori R
2. Ali Arif
3. Aprian N
4. Wilis
5. Galih A P
6. Rafli Dwiki D
7. Imam Nurseto

Dep. Pengembangan Wilayah (DPW):
1. (Koor) Niken Alima
2. Faza
3. Oki
4. Iqbal Nur F
5. Farida

Departemen Humas dan Media
1. (Koor) Setya Ambar Palupi
2. Ahmad Affandi
3. Hertin Eka R
4. Muarifah

Semoga Alloh menguatkan pundak2 kita semua.

ig: @kammiuny
tw: @kammiuny
fb: Komisariat KAMMI UNY
Blog: komisariatkammiuny.blogspot.com
email: kammikomsatuny@gmail.com

Rabu, 05 April 2017

Pendaftaran Pengurus Komisariat KAMMI UNY 2017

Pendaftaran Pengurus Komisariat KAMMI UNY 2017


Bismillah..
Pengurus Komisariat KAMMI UNY periode 2017/2018 membuka pendaftaran pengurus (open recruitmen), kepada kader-kader KAMMI khususnya UNY sekalian, bagi yang ingin berkontribusi lebih melalui kepengurusan, syarat, alur dan ketentuannya ialah sebagai berikut:





Pendaftaran Pengurus Komisariat KAMMI UNY 2017

Syarat:
1. Sudah mengikuti Dauroh Marhalah 1 KAMMI
2. Berkomitmen, ikhlas karena Alloh SWT

Alur wajib yang harus dilakukan:
1. Mendaftar
2. Mengisi formulir
3. Wawancara dengan membawa surat pernyataan
4. Pengumuman, setelah dinyatakan lolos, maka wajib mengikuti:
5. Temu Perdana Pengurus

Adapun teknis alurnya adalah sebagai berikut:

1. Pendaftaran pengurus dilaksanakan 5-19 April 2017
2. Mengikuti alur pendaftaran, dengan mendaftar terlebih dahulu via SMS/ WA dengan format: DAFTAR _ KAMMI UNY _ Nama Lengkap _ Prodi/ Fakultas/ Angkatan _ Pilihan Departemen Pertama/ Pilihan Departemen Kedua, kirim ke: 08990288943 (Bisma)
3. Mengisi formulir online hingga selesai [download disini]
4. Mencetak surat pernyataan yang dikumpulkan saat wawancara dengan Calon Kepala Departemen Pilihannya. [download disini]
5. Adapun wawancara dilaksanakan 12-19 April 2017, masih beriringan dengan proses pendaftaran
6. Pengumuman Insya Alloh akan dilaksanakan pada 21 April 2017

Info berkaitan pendaftaran bisa langsung menghubungi CP: 08990288943 (Bisma Putra A)
Terima kasih

Minggu, 20 November 2016

Walayat - Siyasah Syar'iyah

Siyasah Syar’iyah Ibnu Taimiyah

(BAB 1 Walayat)
Oleh Rakhyan Risnu Sasongko
 
Siyasah syar’iyah sesungguhnya merupakan bagian dari manhaj (metode) dakwah yang turut menjaga hukum hasil kreasi manusia agar selaras dengan hukum asli ciptaan Allah. Ia hadir sebagai sebuah tafsiran cerdas akan hukum agung asli yang azali. Tersususn secara sistematis yang berisi rambu-rambu ilahiyah tentang cara mengelola sebuah amanah besar dari Allah Swt kepada manusia. Berangkat dari sebuah kegelisahan yang mendalam tentang kondisi kaum muslimin yang mengalami kemunduran, sebagai dampak dari kemrosotan politik dan agama. Buku siyasah sya’iyah hadir untuk memberikan keterangan ide Islam tentang panduan ideal mengelola bumi, manusia, dan kepemimpinan agar dapat memberikan keadilan dan menumbuhkan kembali umat ini kepada posisi seharusnya, sehingga mampu memberikan rahmat bagi seluruh semesta raya. Sebagai obat dari akidah yang telah teracuni oleh berbagai amalan bid’ah dan madzhab ilmu kalam yang menyesatkan, serta teracuni oleh filsafat.

Rabu, 21 September 2016

Catatan KAHFI #1

📝📝📝📝📝

Kamis, 18-8-16

*Al Fahmu*
Oleh: Ust. Andi Alif

- al fahmu adalah tentang kepahaman, tentang suatu hal yang tidak hanya sekedar terdengar, namun lebih mendengarkan hingga mampu lebih meyakini. Seperti iman, diyakini dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan dilakukan dengan perbuatan.

- Kepahaman itu berada di atas pengetahuan. Layaknya ilmu sebelum amal. Seperti kata Imam Syafii, ilmu tanpa amal bagaikan pohon rindang tak berbuah. Sedangkan amal tanpa ilmu seperti orang gila yang bertindak tanpa berpikir.

Senin, 19 September 2016

GERAKAN MAHASISWA DALAM PERJUANGAN INDONESIA


Zaky Mubarok Izzudin
Ketua BEM UNY 2016

Bulan Agustus 2016, belum hilang dari ingatan kita tentang berita beberapa waktu silam. Reshuffle menteri kabinet kerja Indonesia yang cukup menuai pro-kontra. Pergantian ini menjadi perbincangan banyak kalangan karena beberapa menteri yang terlihat mempunyai kebijakan yang pro-rakyat mulai disingkirkan dari percaturan politik elit.  Belum cukup sampai disitu, setelah reshuffle jilid 1 selesai Indonesia lagi-lagi diguncang dengan isu bergantinya menteri yang hanya menjabat selama 20 hari. Apa yang sedang terjadi di negeri ini? Entahlah, namun yang jelas rakyat Indonesia sedang kebingungan tentang apa yang sedang terhadap negerinya.

Selasa, 13 September 2016

Problematika Pendidikan Menantang Zaman

Bisma Putra A
Ketua BEM FIP UNY 2016
Dari seluruh rangkaian diskusi tentang pendidikan, dirasakan ada sedikit ketimpangan dalam seluruh aktivitas berfikir yang ada terhadap pendidikan. Jika menilik pada pengertian pendidikan secara sederhana dapat dimaknai sebagai suatu usaha yang direncanakan, disengaja, untuk memanusiakan manusia. Pengertian iut seakan-akan tertelan oleh luasnya cakupan "wacana modern" pendidikan.
Hal yang terkadang dilupakan oleh para praktisi pendidikan adalah membicarakan penerapan-penerapan filosofis terhadap proses pelaksanaan pendidikan itu sendiri. Konsep riil yang merupakan implementasi dari nilai-nilai filosofis pendidikan sesungguhnya sangat dibutuhkan. Hal tersebut bertujuan agar pendidikan menjadi suatu proses "mendidik" kepada peserta didik di lembaga pendidikan. Sehingga tidak melupakan bahwa sesungguhnya semua proses pendidikan itu adalah proses memanusiakan manusia.

Selasa, 31 Mei 2016

Pendidikan sebagai Gerakan Semesta

Pendidikan sebagai Gerakan Semesta
Oleh : Bisma Putra Aprilianta
(Kebijakan Publik Komisariat KAMMI UNY)


Bukan salah Ki Hadjar Dewantara jika semboyan tentang pendidikan yang disampaikannya justru dipakai di negara lain selain Indonesia tercinta. Bukan salah para pendiri bangsa ini pula jika Pancasila ternyata tidak menjadi dasar dari segalanya yang ada di negeri ini termasuk dalam dunia pendidikan. 

Terus salah siapa? Tak perlu dijawab juga karena tulisan ini dibuat bukan untuk mencari kesalahan namun mencoba memberikan satu usul dan saran tentang perbaikan dunia pendidikan Indonesia ke depan. Bicara soal gerakan semesta, maka seharusnya gerakan itu dilakukan di semua tempat, dalam suatu waktu yang sama, dan dalam segala kondisi. Gerakan semesta harus dipahami bukan sebagai pemaksaan kehendak satu pihak atas pihak yang lain namun berlandaskan keinginan yang sama yang berawal dari buah pikiran yang luhur untuk kemajuan bangsa. Dalam dunia pendidikan, gerakan semesta harus fokus pada tujuan besar dan bukan tujuan masing-masing wilayah. Tapi salahkah kalau punya tujuan wilayah? 

Beberapa waktu yang lalu pernah membaca artikel tentang pendidikan di Papua, dalam artikel tersebut sempat membaca ide-ide pikiran ke depan yang diutarakan salah satu pemimpin kala itu. Papua harus punya seribu orang PHD dalam 10 tahun ke depan. Papua harus bisa mengirim anak-anaknya untuk belajar di Harvard atau bahkan MIT. Sukseskah? Ya. Sukses. Kita dapat melihat berita tentang anak-anak Papua yang mulai merambah dunia. Ada yang kuliah di MIT, Harvard, dan beberapa kampus bergengsi internasional lainnya. Jadi tidak ada yang salah mempunyai tujuan wilayah, tapi tujuan wilayah harus menjadi bagian dari tujuan besar yaitu tujuan pendidikan nasional atau bangsa. 

Kesulitannya adalah bangsa ini sangat majemuk. Permasalahan di satu wilayah belum tentu menjadi masalah di wilayah lain. Kesuksesan penerapan satu program di satu wilayah bisa berbuah petaka jika diterapkan di daerah yang lain. Jadi, bagaimana caranya agar gerakan semesta dipahami di setiap wilayah sebagai gerakan luhur yang harus dilakukan bersama-sama? Jawabnya hanya satu. Kembali ke pembelajaran kontekstual. Menurut Elaine B. Johnson (2009) pembelajaran kontekstual adalah suatu sistim pengajaran yang cocok dengan otak yang menghasilkan makna dengan menghubungkan muatan akademis dengan konteks dari kehidupan sehari-hari siswa. Johnson juga menyampaikan delapan komponen utama yang ada dalam pembelajaran kontekstual, yaitu: 

1.Melakukan hubungan yang bermakna (making meaningful connections), sebagai individu yang sedang belajar siswa dapat menemukan minatnya dan memutuskan untuk memilih bekerja sendiri atau berkelompok, relasi dibangun berdasarkan kebutuhan bersama dan tujuan bersama. Dalam hal ini akan terjadi pula proses belajar sambil melakukan (learning by doing) 
2. Melakukan kegiatan-kegiatan yang signifikan (doing significant work), sebagai bagian dari suatu wilayah, bagian dari suatu masyarakat, siswa dapat berusaha menemukan masalah dalam kehidupan nyata dan berusaha mencari solusinya.
3. Belajar yang diatur sendiri (self regulated learning), untuk mencapai tujuannya siswa dapat memahami apa yang dia butuhkan. Siswa dapat mengatur apa yang harus dia pelajari terkait dengan kebutuhan tersebut 
4. Bekerjasama (collaborating), hampir semua masalah yang ditemukan tidak mungkin diselesaikan sendiri. Siswa akan belajar berkomunikasi dengan baik dan juga keterampilan untuk saling mempengaruhi.

Memang tidak semua hal dapat dicapai begitu saja sesuai uraian Johnson, namun semangat pembelajaran kontekstual ternyata sudah membuahkan hasil di beberapa tempat di Indonesia. 

Oh ya? Apa saja? Pernahkah pembaca mendengar atau membaca tentang pendidikan harmoni di Sulawesi Tengah? Siapa yang sudah lupa konflik berbau agama yang terjadi di Poso? Nah, itulah awal munculnya pendidikan harmoni ini. Anak atau siswa diajak untuk mencapai tiga harmoni yaitu harmoni dengan diri sendiri, harmoni dengan sekitarnya, dan harmoni dengan alam. Melalui tiga harmoni ini, sedari kecil anak tidak lagi diajar untuk berkonflik hanya karena beda agama, beda suku, atau beda-beda yang lainnya. 

Konon kabarnya semangat pendidikan harmoni ini sudah tertular ke banyak sekolah di Sulawesi Tengah. Apa lagi? Pernahkan pembaca mendengar atau membaca tentang sekolah hijau di Kalimantan? Tepatnya di daerah Sajingan di dekat perbatasan RI-Malaysia? Nah, awalnya di daerah ini marak dengan pembukaan lahan sawit yang bertubi-tubi. Seolah-olah hanya untuk sawit. Hanya untuk bekerja di kebun orang. Wawasan sempit dan tidak berkembang. Konsep pendidikan menawarkan sesuatu yang lain. Anak bisa belajar dari keterbatasan. Belajar dari apa yang ada yang mereka dapat temukan dari kehidupan sehari-hari. Anak bisa belajar matematika dari menghitung setiap helai guguran daun yang jatuh tiap hari, memantaunya selama beberapa hari, dan kemudian belajar polanya sehingga akhirnya tahu berapa helai daun yang mungkin jatuh pada hari ketujuh. Hebat bukan? Bukan, karena itu hanya pikiran saya sendiri. Tidak ada pengajaran seperti itu. Tapi, kira-kira seperti itulah yang terjadi.

Referensi
1. Urgensi Pendidikan Karakter di Indonesia - Akhmad Muhaimin
2. Ilmu Pendidikan - Dwi Siswoyo dkk
3. Pendidikan dalam Perspektif Globalisasi - Nurani Soyomukti

*#Gerakan Intelektual Profetik*

Find us 📭

👥Facebook : Komisariat KAMMI UNY
🗣Twitter : @kammiuny
📸Instagram : @kammiuny
📚Website : uny-kammi.blogspot.com
💌Email : kammikomsatuny@gmail.com

Wujudkan Cita-Cita Reformasi Pendidikan Indonesia

Wujudkan Cita-Cita Reformasi Pendidikan Indonesia
Oleh : Bisma Putra Aprilianta

dalam Diskusi Kebijakan Publik Komisariat KAMMI UNY
Gaza, Karangmalang Blok B19A
Rabu, 18 Mei 2016
16.00

Pendidikan merupakan usaha yang dilakukan dengan sengaja dan sistematis untuk mendorong, membantu serta membimbing seseorang untuk mengembankan segala potensinya sehingga ia mencapai kualitas diri yang lebih baik. Hal ini berarti berbagai masalah kehidupan manusia menjadi masalah global atau setidaknya tidak dapat dilepaskan dari pengaruh kejadian dibelahan bumi yang lain, baik masalah politik atau sosial. Kesetiakawanan semakin kental berarti kepedulian umat manusia terhadap sesamanya semakin merupakan tugas setiap manusia, pemerintah, sistem pendidikan nasional.
Reformasi memiliki arti yaitu perubahan radikal untuk perbaikan dalam bidang sosial, politik atau agama di dalam suatu masyarakat atau Negara. Orang-orang yang melakukan atau memikirkan reformasi itu disebut reformis yang tak lain adalah orang yang menganjurkan adanya usaha perbaikan tersebut tanpa   kekerasan. Usaha-usaha untuk mementingkan nilai-nilai kemanusiaan dalam pendidikan telah melahirkan kembali pendekatan pendidikan yang mementingkan pengembangan kreatifitas dalam kepribadian anak. Inilah yang disebut gerakan humanisasi dalam proses pendidikan yang sedang kondang dibanyak Negara, baik Negara maju maupun Negara berkembang. Gerakan humanisasi ini meminta reformasi yang mendasar dalam pendidikan baik dalam metodologi belajar mengajar, kepada manajemen sampai kepada perencana pendidikan.
Saat ini fokus kerja-kerja pemerintah masih bertumpu pada sektor pendidikan formal. Untuk kinerja itupun pemerintah Indonesia, menurut data dari UNDP (United Nations Development Programs) dalam “Human Development Report 2015” untuk kualitas pembangunan manusia diganjar peringkat 108 dari 177 negara didunia. Potret UNDP itu sebangun dengan data BPS (Biro Pusat Statistik) tahun 2015 tentang angka penangguran menurut pendidikan dan wilayah desa-kota: persentase pengangguran tamatan SMA ke atas lebih besar disbanding tamatan SMP kebawah. Artinya, sistem pendidikan nasional belum berhasil mengantarkan anak bangsa untuk  survive mandiri dan terampil berwiusaha untuk kelangsungan hidupnya sendiri. Laporan terbaru Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD), Education at Glance 2015 Indonesia mendapati peringkat 2 di dunia angka putus sekolah setalah China dengan presentasi 60%.
Diantara permasalahan pelik tentang kondisi pendidikan dinIndonesia tentu saja aspek moral tidak boleh dilupakan. Sekolah adalah tempat menumbuhsuburkan nilai-nilai luhur dalam diri aanak bangsa  yang menjadi peserta didik. Tawuran perilaku asusila sebagian oknum pelajar/ mahasiswa adalah cermin belum terimplementasikannya amanat UUD 1945 dan UU system pendidikan  nasional tentang nilai-nilai agama. Kegiatan sekolah lebih besar porsinya untuk pengajaran. Padahal pengajaran tanpa bingkai pendidikan moral hanya menciptakan orang pintar yang kehilangan arah dari hakikat kemuliaan eksistensinya sebagai makhluk mulia yang bertakwa kepada tuhan yang maha esa.
Tujuan reformasi pendidikan nasional  memiliki agenda strategis yang harus dilakukan untuk memperbaiki dan membangun dunia pendidikan, diantaranya :
1.      Melakukan pembangunan sisitem pendidikan nasional yang komprehensif, integratif dan aplikatif.
2.      Meningkatkan wajib belajar dari sembilan tahun menjadi dua belas tahun.
3.      Meningkatkan kompetensi, kesejahteraaan dan perlindungan terhadap profesi guru.
4.      Mengawal realisasi anggaran pendidikan yang besarnya 20% dari total APBN.
5.      Melakukan monitoring dan evaluasi system terhadapberbagai aspek onsep dan operasional sistem pendidikan nasional.
6.      Menerapkan desentralisasi penyelenggaraan pendidikan.
7.      Meninkatkan kualitas pengelolaan manajemen sekolah.
8.      Terselenggaranya pendidikan yang terjangkau dan bermutu.
9.      Memberi perhatian yang khusus pada anak ABK di dunia pendidikan.

Karena itu, untuk tercapainya reformasi pendidikan secara komprehensif tentu seluruh komponen bangsa haurs bersatu padu dan meningkatkan komitmen untuk merumuskan merealisasikan kebijakan peningkatan mutu pendidikan. Sebab, pembangunan dan penyelenggara pendidikan nasional yang benar dan efektif merupakan amanat konsttusi sekaligus tuntutan zaman yang tak bisa dielakan.tanpa itu, bangsa besar ini akan masuk dalam daftar sejarah sebagai bangsa yang kalah dan musnah. Termasuk mereformasi di satu aspek yang didalamnya menentukan arah paradaban dunia kedepan.

Senin, 02 Mei 2016

PENDIDIKAN DAN POLITIK



Oleh: Bisma Putra Aprilianta
Kebijakan Publik Komisariat KAMMI UNY 2016
Ketua BEM FIP UNY 2016

Sejatinya pendidikan adalah usaha yang disengaja untuk mengembangkan potensi sumber daya manusia yang mampu menjawab tantangan kehidupan dan dapat memaknai kehidupan, baik pribadinya maupun untuk masyarakatnya. Secara teoritis, pendidikan harus mencakup empat aspek yakni : learning to know, learning to be, learning to do and learing to live together.

Diskusi : Benarkah Pemerintah sudah memberikan jaminan?





Kajian Diskusi tentang Kondisi Pendidikan Tinggi Nasional
Benarkah Pemerintah sudah memberikan jaminan?

Tanggal: 29 Maret 2016
Tempat: Gedung IEC Lt.2, UNY

Penyaji:
1. Deni Hardianto, M.Pd.
2. Ficky Fristiar, S.Pd.




Penyaji Pertama,
Sebenarnya ketika berbicara pendidikan, maka masalah yang sering terjadi ialah berkaitan dengan pembiayaan dan aksesibilitas. Perguruan Tinggi, sejak dikeluarkan UU no 12 tahun 2012. Perguruan tinggi itu berbadan hukum, jadi dia otonom. Punya karakter dan ciri khas masing-masing.

© Blog Komisariat KAMMI UNY
Maira Gall