Opini
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 September 2016

Problematika Pendidikan Menantang Zaman

Bisma Putra A
Ketua BEM FIP UNY 2016
Dari seluruh rangkaian diskusi tentang pendidikan, dirasakan ada sedikit ketimpangan dalam seluruh aktivitas berfikir yang ada terhadap pendidikan. Jika menilik pada pengertian pendidikan secara sederhana dapat dimaknai sebagai suatu usaha yang direncanakan, disengaja, untuk memanusiakan manusia. Pengertian iut seakan-akan tertelan oleh luasnya cakupan "wacana modern" pendidikan.
Hal yang terkadang dilupakan oleh para praktisi pendidikan adalah membicarakan penerapan-penerapan filosofis terhadap proses pelaksanaan pendidikan itu sendiri. Konsep riil yang merupakan implementasi dari nilai-nilai filosofis pendidikan sesungguhnya sangat dibutuhkan. Hal tersebut bertujuan agar pendidikan menjadi suatu proses "mendidik" kepada peserta didik di lembaga pendidikan. Sehingga tidak melupakan bahwa sesungguhnya semua proses pendidikan itu adalah proses memanusiakan manusia.

Selasa, 07 Mei 2013

Ibnu Khaldun; (ajaran) Fanatisme Kepemimpinan


*berkaitan dengan kalimat pertama dalam catatan ini, itu karena awalnya saya memberi judul Generasi yang Hancur

Panca Zumbon | @5_zumbon

Ketika sebuah pembahasan telah sampai pada kesimpulan tentang hancurnya sebuah generasi. Maka disana pastilah membahas tentang kepemimpinan dan fanatisme. Kepemimpinan hanya mampu direbut oleh mereka yang memiliki fanatisme yang tinggi melebihi golongan yang berada di sekelilingnya. Pertanyaannya, apakah benar antara fanatisme dan kepemimpinan berkaitan?
Fanatisme menurut thesaurus memiliki padanan kata keyakinan, keteguhan, orthodoksi. Sedangkan dalam KBBI fanatik memiliki arti teramat sangat kuat kepercayaannya (keyakinannya) terhadap ajaran (politik, agama, dsb.). Menurut saya, kita tidak bisa menghakimi apakah fanatisme itu baik atau buruk. Karena fanatisme hanyalah sebuah kata, kita bisa memvonis fanatisme baik atau buruk ketika sudah ada praktiknya, jadi yang dinilai adalah praktik fanatisme, bukan fanatisme itu sendiri.
Ketika kepemimpinan hanya dapat diraih dengan kekuasaan, maka disana mutlak diperlukan fanatisme!. Ibnu khaldun dalam muqaddimah nya menjelaskan “fanatisme mereka yang menduduki tampuk kepemimpinan haruslah lebih kuat dibanding fanatisme-fanatisme lain yang ada diantara mereka, sehingga memungkinkannya dapat menguasai dan meraih puncak kepemimpinan dengan baik. Sebab jika kekuasaan tersebut keluar dari kalangan mereka dan berpindah ke fanatisme yang lain, maka mereka tidak dapat memimpin dengan baik. Perlu diingat, kepemimpinan tersebut tidak akan berpindah kecuali kepada golongan yang memiliki fanatisme yang lebih kuat”.
Yang menjadi menarik adalah, banyaknya fakta yang menunjukkan bahwa adanya satu golongan tunggal yang mampu mempertahankan tampuk kepemimpinan secara abadi. Ini menunjukkan bahwa sifat kepemimpinan adalah dinamis, ia senantiasa berpindah. Kepada siapakah kepemimpinan berpindah? Jelas, kepada golongan yang memiliki fanatisme atau keyakinan yang jauh lebih kuat dibanding golongan yang sedang memimpin. Pertanyaan pentingnya adalah, berapa lamakah usia fanatisme kepemimpinan mampu bertahan?
Rosulullah pernah menggambarkan ketahanan fanatisme kepemimpinan dalam sebuah hadits riwayat Bukhari dalam kitab Al-Anbiya’ “sesungguhnya orang mulia, putra orang mulia, putra orang mulia, putra orang mulia adalah Yusuf bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim.” Pun dalam taurat disebutkan “Allah Tuhanmu adalah Dzat yang mengawasi dan mencemburui. Dia akan meminta pertanggungjawaban dosa-dosa orang tua kepada anaknya selama tiga hingga empat generasi.” Hadits ini memberikan pengertian bahwa ketahanan fanatisme kepemimpinan pada umumnya hanya bertahan pada empat generasi.
Tidakkah kita bertanya, mengapa fanatisme kepemimpinan hanya bertahan pada empat generasi? Ibnu Khaldun menjelaskan dengan apik bahwa:
Generasi pertama adalah generasi yang memiliki fanatisme tinggi lantas memperjuangkan kepemimpinannya. Sehingga mereka mengetahui segala sesuatu yang dibutuhkan dalam membangun kepemimpinan tersebut. Selain itu, mereka mampu menjaga karakter yang merupakan rahasia dibalik eksistensi dan kelanggengan kepemimpinannya.
Generasi kedua adalah generasi yang melanjutkan kebesaran generasi pertama dengan bermodalkan pengajaran yang didengan dan diwarisinya dari generasi pertama. Hanya saja kualitas pengajaran dan pewarisan kebesaran tersebut mengalami kekurangan, layaknya keterbatasan pemahaman seseorang yang mendengar atas pengertian tentang sesuatu.
Generasi ketiga adalah generasi yang hanya sekedar mengikuti jejakdan melanjutkan tradisi dari dua generasi sebelumnya. Dengan realitas semacam ini, maka bisa dipastikan bahwa kualitas pengajaran yang diterima generasi ketiga tidak sepadan dengan kualitas pengajaran yang diterima generasi kedua.
Generasi keempat pada umumnya adalah generasi yang mengalami penurunan kualitas multi-aspek. Selain itu, generasi keempat memiliki persepsi bahwa kepemimpinan bukanlah hasil kerja keras, tetapi susuatu yang biasa saja yang sudah mereka terima sejak lahir. Sehingga digambarkan bahwa generasi keempat adalah generasi yang menunggu kehancuran!
Lantas bagaimana nasib generasi kelima, keenam, dst? Dalam surat Ibrahim ayat 19-20 menjelaskan “tidakkah engkau perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah telah menciptakan langit dan bumi dengan haq? Jika Dia menghendaki, niscaya Dia membinasakan kamu dan mengganti(mu) dengan makhluk yang baru, dan yang demikian itu sekali-kali tidak sukar bagi Allah.”
Berkaitan dengan surat Ibrahim ayat 19-20, saya pribadi pernah mengikuti sebuah kajian yang membahasnya. Tafsir dari ayat diatas setidaknya ada dua, gambaran ringkasnya sebagai berikut:
Pertama, jika sebuah golongan dari kalangan umat Islam tidak memiliki ghiroh yang baik dalam berdakwah dan tidak memiliki kepahaman yang bagus dalam beragama, maka akan digantikan dengan golongan yang lain yang seagama dengan mereka (Islam).
Kedua, jika umat islam tidak memiliki sensitifitas yang tinggi dalam berdakwah. Mereka lebih cenderung pasif dan tidak mau berlelah-lelah dalam berdakwah, maka akan digantikan dengan dakwah selain Islam. Bukankah fenomena kristenisasi di daerah terpencil akibat dari dakwah Islam yang tidak menjangkau wilayah tersebut?
Sebagai refleksi, dalam konstelasi kepemimpinan dakwah kampus UNY, mari kita menarik nafas dalam-dalam dan sejenak menghitung, siapakah diantara kita yang berhak mewarisi kemuliaan sebagaimana gambaran generasi pertama nya Ibnu Khaldun? Dan angkatan berapakah yang menjadi sebab sekaligus saksi kehancuran kepemimpinan dakwah kampus UNY? Dengan memohon kepada Allah, semoga generasi keempat itu bukan angkatan saya (2009).
Tidaklah menjadi penting mendiskusikan siapa yang akan menjadi generasi keempat, yang lebih penting adalah, setiap kita harus memiliki sikap skeptic pada angkatannya masing-masing. Jangan-jangan memang angkatan kita lah yang ditakdirkan sebagai generasi keempat! Pertanyaan yang muncul berikutnya adalah, apakah tampuk kepemimpinan benar-benar hanya bertahan sampai empat generasi? Tidak adakah cure atau formula untuk memperpanjangnya?
Ada. Lain ibnu khaldun lain Burns. Jika ibnu khaldun memakai fanatisme, maka Burns mengenalkan konsep kepemimpinan transformasional.
… dari penelitian  deskriptif  mengenai pemimpin-pemimpin  politik.  Burns, menjelaskan  kepemimpinan transformasional  sebagai  sebuah proses  yang  padanya  para  pemimpin dan pengikut saling menaikkan diri ke tingkat  moralitas  dan  motivasi  yang lebih  tinggi.  Para  pemimpin  tersebut mencoba menimbulkan kesadaran dari para  pengikut  dengan  menyerukan cita-cita  yang  lebih  tinggi  dan  nilai-nilai  moral  seperti  kemerdekaan, keadilan.  dan  kemanusiaan,  bukan didasarkan  atas  emosi,  seperti misalnya  keserakahan,  kecemburuan, atau  kebencian.  Kepemimpinan  yang seperti  inilah  yang  sekarang  ini diharapkan  agar  dapat  lepas  dari aneka  macam  'krisis’
Dari sejak awal pembahasan empat generasi kepemimpinan Ibnu Khaldun sampai dengan teori kepemimpinan transformasional nya Burns, kita bisa menarik benang merah atas solusi keberlangsungan kepemimpinan. Ilmu dan motivasi. Jika proses transformasi ilmu dari generasi ke generasi berjalan dengan baik dan konsisten, maka tidak ada istilah generasi keempat. Transformasi ilmu yang saya maksud adalah transformasi ilmu agama dan kepemimpinan. Tidak ada cara yang lebih baik untuk mempelajari ilmu agama selain dengan guru (ustadz, kiyai, syaikh, dsb). Dan tidak ada cara yang paling efektif sekaligus paling menarik dalam mempelajari ilmu kepemimpinan selain dengan mencoba kepemimpinan itu sendiri!. Sedangkan motivasi adalah cara untuk membuat kita tetap mempelajari ilmu, sampai masuk liang lahat nanti.
Akhir cerita dari catatan ini adalah, dengan cara apakah kita bisa melangsungkan transformasi ilmu dan motivasi dalam rangka meneruskan estafet kepemimpinan dakwah kampus? Dengan cara apakah kita mempertahankan kekokohan fanatisme kepemimpinan generasi pertama? Tidak lain jawabannya adalah HALAQOH.
Seberapa rajinkah kita menimba ilmu?
Seberapa rajinkah kita membagi ilmu?
Berapa kelompok halaqoh yang kita kelola?
Berapa MUTAROBBI kita?


#semoga catatan ini bisa menginspirasi saya pribadi dan antum sekalian, sehingga dengan catatan ini bisa menjadi sarana penggugur dosa-dosa saya di masa lampau. Allahu wa Rosullu ‘alam bi shawab.

Netcitizen


*judul ini terinspirasi dari opini harian republika 16 april 2013 karya Moch Nurhasim

Beberapa bulan ini Komisariat KAMMI UNY telah mengalami kemajuan peradaban. Kemajuan peradaban yang dimaksud adalah dalam dunia sosial media mikro-blog. Komisariat KAMMI UNY telah memiliki akun twitter (@kammiUNY) yang dari sejak pembuatannya sampai hari ini telah mengalami kenaikan signifikan dalam jumlah followershingga mencapai 1000%.
KAMMI merupakan lembaga dakwah Islam yang targetnya adalah mahasiswa dan pemuda. Dalam konteks berdakwah, maka sudah menjadi keharusan bagi lembaga dakwah manapun untuk bisa memanfaatkan segala peluang agar dakwahnya sampai pada madu’ (objek dakwah). Salah satunya adalah dengan memanfaatkan sosial media di internet.
Data terakhir menunjukkan, pada akhir maret lalu Maltepe University Istanbul, Turki, menghelat agenda International Communication Student Congress (ISCSC) dengan tema ‘’Media, Youth and Their Future’’. Kesimpulan sederhana dari agenda tersebut, bahwa Indonesia tercatat sebagai Negara pengguna facebook dan twitter terbesar kelima sedunia. Sumber lain mengatakan, terdapat sekitar 30 juta pengguna twitter di Indonesia dengan 2 juta pengguna aktif berkicau setiap harinya.
Jika kita analisis secara sederhana, tentu saja pengguna facebook dan twitter terbesar adalah kaum muda. Apakah semua kaum muda memiliki facebook dan twitter? Jawabannya tentu saja tidak! Tetapi dapat dipastikan bahwa mahasiswa lah yang menjadi penyokong terbesar dari seluruh pemuda pengguna facebook dan twitter. Hal ini karena mahasiswa membutuhkan ruang berekspresi yang lebih besar dibandingkan masyarakat secara umum.
Pengguna facebook dan twitter dengan jumlah besar ini seharusnya dapat ditangkap oleh KAMMI sebagai peluang mensyiarkan dakwah KAMMI secara lebih luas. Sejauh ini, komisariat KAMMI UNY telah memiliki akun twitter (@kammiUNY) dan grup facebook (KAMMI Universitas Negeri Yogyakarta). Dalam pengelolaannya, kedua akun tersebut belum optimal. Menurut kepala departemen humas komisariat KAMMI UNY, salah satu cara untuk mengoptimalkan kedua akun tersebut adalah dengan menunjuk orang yang khusus untuk mengelolanya dan tentu saja sokongan danadari lembaga sangat berperan pada kontinuitas eksistensi akun @kammiUNY.
Dalam konteks dakwah islam, idealnya pengurus komisariat KAMMI UNY menciptakan hubungan sederajat antara komisariat KAMMI UNY secara kelembagaan dengan mahasiswa UNY pada umumnya. Kesederajatan tersebut akan muncul ketika adanya anggapan tentang kesamaan kepemilikan suatu hal (things) atau kesamaan hobi. Maka, jika kebanyakan mahasiswa UNY memiliki akun twitter, KAMMI pun wajib memilikinya. Sehingga, suatu saat nanti, diharapkan KAMMI tidak memiliki jarak dengan mahasiswa, sehingga proses transformasi dakwah pun berjalan dengan apik.
Meski demikian, dunia maya tak ubahnya seperti hutan belantara. Kebebasan menjadi aturan tertinggi, pembunuhan (citra), eksistensi dan sejumlah kepentingan terselubung akan hadir disana. Bagi seorang da’i, kondisi demikian seharusnya tidak menjadikannya surut kebelakang dan mundur dari medan pertempuran (di dunia maya), tetapi justru memacu semangat untuk segera membuat dan mengoptimalkan facebook dan twitter sebagai sarana dakwah.
Mengapa saya mencantumkan kata ‘membuat’? karena pada faktanya masih banyak kader Komisariat KAMMI UNY yang belum memiliki akun twitter. Alasan yang sering dilontarkan adalah ‘tidak bisa mengoperasionalkannya’. Besarnya ketidak mampuan dalam mengoperasinalkan twitter tidak sebanding dengan jumlah pahala yang akan di dapat ketika mampu menghadirkan tweet yang beraroma positif-islamis.
Terlepas dari banyaknya kader KAMMI yang belum memiliki akun twitter, setidaknya akun lembaga harus tetap ada. Ini penting untuk eksistensi lembaga agar bisa menghirup nafas panjang dalam berdakwah di dunia maya. Adanya akun twitter KAMMI (@kammiUNY) akan memudahkan proses transformasi informasi baik kepada kader KAMMI maupun non kader KAMMI.
Ketika daily tweet rate @kammiUNY tinggi, maka poros informasi yang diberikan akan semakin banyak, terlebih jika kader KAMMI yang telah menjadi followers turut meretweet kicauan tersebut. Jika demikian, bukan tidak mungkin, kedepannya akun @kammiUNY akan menjadi nafigator informasi paling aktual bagi netcitizen di UNY.

Panca Zumbon | @5_zumbon

Kamis, 03 Januari 2013

SEPENGGAL KISAH BERGABUNG DENGAN KAMMI


Oleh: Rohmat*
Saudara ku yang di rahmati Allah, inilah sepenggal kisah setelah saya bergabung dengan KAMMI. Bagiku kehidupan adalah sebuah perubahan, dari sesuatu yang lalu menjadi sesuatu yang baru. Saya meyakini bahwa perubahan akan senantiasa mengiringi kehidupan seseorang baik perubahan dalam arti peningkatan maupun perubahan yang bermakna penurunan. Meningkat dan menurunpun menjadi jalan bergelombang yang akan ditempuh oleh setiap orang. 
 
            Perubahan menuju yang lebih baik dari sebelumnya yang harus selalu kita siapkan. Karena tidak akan berubah keadaan sebuah masyarakat dari kemungkaran dan kemaksiatan bila kita tidak berperan serta mengubahnya dari diri kita sendiri untuk melakukan perubahan menuju tatanan kehidupan yang Allah Ridlhoi. Inilah salah satu alasan  mengapa saya bergabung dengan KAMMI. Sebenarnya bergabung dengan KAMMI itu adalah sebuah  pilihan, seperti hal nya dihadapkan oleh 2 pilihan, yaitu baik dan buruk. Tapi disini saya setelah bergabung dengan KAMMI itulah wadah saya untuk menggali ilmu yang merupakan sebuah jalan untuk menemukan potensi diri saya yang terpendam. 
 
      Menggali ilmu di KAMMI pun merupakan jalan untuk menemukan potensi alam semesta yang bertebaran dimanapun kita berada, disetiap tempat dan keadaan disemua peristiwa dan kejadian, disana ada ibrah dan hikmah sebagai hasil dari penemuan terhadap alam raya ini. Dan disinilah saya menemukan potensi diri saya menumbuhkan dan meningkatkan keyakinan akan keberadaan dan kebesaran Allah sehingga lahirlah pengabdian yang utuh, tunduk kepada Allah Al-Khaliq, Allah azza wa jalla. 
 
 
      Di KAMMI saya juga menemukan ukhuwah yang indah layaknya saudara kandung. Ukhuwah bagi saya bukanlah seringnya kita berjumpa tapi ukhuwah adalah kita, kamu, aku disaat kita bisa saling memahami, meningkatkan kebersamaan dan menjalin ikatan dengan harapan semoga kita bisa berjumpa disurga kelak. Dan saya berpendapat bahwa bergabung dengan KAMMI itu adalah insya Allah kita sedang membangun, dan mempersiapkan sebuah pertemuan yang kekal, yaitu untuk menuju surganya Allah azza wa jalla. KAMMI itu adalah sebuah wadah bagi saya untuk mencari jati diri dan menegaskan diri. Karena disini saya menemukan banyak pelajaran hidup yang seharusnya dan semestinya saya lakukan untuk sebuah perubahan kearah yang lebih baik melalui potensi diri. 
 
      Dan saya yakin bahwa semua orang mempunyai potensi diri. Jika kita berbicara dengan potensi diri, yak kita ingat bahwa semua orang mempunyai akal. Ketika saya masuk di KAMMI saya baru mulai menyadari bahwa “orang yang berakal itu bukanlah orang yang dapat membadakan hal yang baik dan hal yang buruk akan tatapi, orang yang berakal adalah orang yang dapat memilih hal yang terbaik diantara kedua hal yang buruk, seperti yang pernah disampaikan oleh sahabat nabi yaitu Umar Bin Khatab. Tetapi juga perlu diketahui bahwa saya masuk di KAMMI juga pernah beberapa kali mengalami apa yang disebut dengan kekecewaan. 
 
      Tapi saya belajar menerima sebuah kekecawaan juga dari KAMMI. Bagi saya kesediaan untuk melihat manfaat pada setiap kekecewaan barangkali tampak sebagai suatu alasan klise dan nyata, tetapi bagi saya itu adalah pertanda dari orang-orang yang sukses.  
 
Dan untuk yang terakhir dari saya bahwa apapun yang sudah, sedang akan kita lakukan akan rusak, binasa bila tidak ditopang dengan keyakinan yang benar. Sebesar apapun karya kita, sehebat apaun kemampuan kita dan seluas apapun pengaruh kita, tidak akan menghasilkan buah yang bermanfaat tanpa benarnya keyakinan. Jadi, berbuat dan berkarya itu penting tapi lebih penting dari itu adalah keyakinan yang mendasari perbuatan dan karya tersebut. Keyakinan yang benar hanya akan tumbuh dan berkembang dalam area kebenaran dan lingkungan tauhid yaitu agama islam, sebagai satu-satunya system hidup yang diridlhoi  Allah Swt.
 
            “Kita masuk surga atau neraka bukan karena banyak sedikitnya amal kita, melainkan semata-mata karena Rahmat Allah SWT.” 
                                                                        *Penulis adalah Mahasiswa FIK angkatan 2011
© Blog Komisariat KAMMI UNY
Maira Gall