agent of change
Tampilkan postingan dengan label agent of change. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 September 2016

GERAKAN MAHASISWA DALAM PERJUANGAN INDONESIA


Zaky Mubarok Izzudin
Ketua BEM UNY 2016

Bulan Agustus 2016, belum hilang dari ingatan kita tentang berita beberapa waktu silam. Reshuffle menteri kabinet kerja Indonesia yang cukup menuai pro-kontra. Pergantian ini menjadi perbincangan banyak kalangan karena beberapa menteri yang terlihat mempunyai kebijakan yang pro-rakyat mulai disingkirkan dari percaturan politik elit.  Belum cukup sampai disitu, setelah reshuffle jilid 1 selesai Indonesia lagi-lagi diguncang dengan isu bergantinya menteri yang hanya menjabat selama 20 hari. Apa yang sedang terjadi di negeri ini? Entahlah, namun yang jelas rakyat Indonesia sedang kebingungan tentang apa yang sedang terhadap negerinya.

Jumat, 22 April 2016

Mother Nature

Album : K'SEH
Munsyid : Shaff-Fix


Bila hutan yang hijau telah gersang ?
Bila kicau burung hanya terkurung ?
Bila bening sungai berganti kelam ?
Bila nyanyian alam menjadi hilang ?


Kemana kita harus pergi ?
Dimana kita kan mencari ?

Kerusakan di muka bumi karena tangan-tangan manusialah semata
Dan manusialah yang akan merasakan akibatnya
Let?s start to care and love mother nature

Bila mentari tertutup asap hitam ?
Bila udara tak lagi menyegarkan ?
Bila kehidupan tak pedulikan alam ?
Bila semua hanyalah keegoisan ?
Kemana kita harus pergi ?
Dimana kita kan mencari ?

Apakah kesadaran kita baru terjaga
Ketika kekuatan alam telah menurunkan bencana
Segeralah berbenah di waktu yang tersisa ?


Let?s start to care and love mother nature
Now let?s start to care and love mother nature


#Selamat Hari Bumi,
#MariRefleksi
#GerakanIntelektualProfetik


Kamis, 21 April 2016

Perempuan Hari Ini

Perempuan Hari ini

oleh Viki Adi N
(Kebijakan Publik Komisariat KAMMI UNY)



Masih dalam suasana hari Kartini dimana sebagian masyarakat kita masih membumikan tradisi-tradisi peringatan dari yang biasa sampai yang luar biasa. Masih dalam suasana hari “keteladanan” perempuan. Kita yakin bahwa masih banyak perempuan yang berjasa dalam membesarkan bangsa ini selain Ibu Kartini. Mari sejenak “menskip” hal itu, tentu bukan untuk melupakan sejarah, karena sejarah itu penting.

Namun marilah sejenak kita merenungi, di hari perempuan ini sebuah refleksi masalah apa yang sedang terjadi di Indonesia. Masalah apa yang terjadi pada perempuan Indonesia.
Komnas Perempuan mencatat 16.217 kekerasan terhadap perempuan pada tahun 2015. (baca: kompas [7 maret 2016] atau Siaran Pers Komnas Perempuan Catahu 2016) diungkapkan bahwa kekerasan terhadap perempuan semakin meluas. Khususnya dalam ranah personal kasus ini meluas sangat banyak dan ini lah yang paling banyak, ada pula masalah komunitas, dan beberapa juga terkait negara.

Belum lagi terkait masalah pribadi, dimana masalah “harga diri” perempuan sepertinya semakin kesini semakin menurun. Seperti dikutip dari CNN, Psikolog anak dan remaja Vera Itabiliana mengatakan bahwa benang merah masalah perempuan selalu berkutat pada self esteem (harga diri).
Bahkan self esteem ini akan menyangkut dalam hal fisik. Berdasarkan data yang diungkapkan oleh beliau, tahun 2013 sebanyak perempuan 33% di dunia mengaku tidak bahagia dengan bentuk fisiknya. Dan angka ini cenderung naik dari tahun ke tahun.

Ini ketika bicara dunia, apalagi di Indonesia yang bisa kita lihat bahwa proses westernisasi akibat globalisasi dari kemajuan teknologi sangat besar. Memang benar adanya seperti itu. Fisik perempuan menjadi barang eksploitasi perdagangan. Semua bermula dari harga diri. Penampilan menjadi keutamaan.

Coba kita amati saja sekilas, kita bisa menarik benang merahnya. Mulai dari masalah “personal”, “komunitas”, bahkan mengerucut pada “harga diri”. Setidaknya disini kita mengerti bahwa benar upaya perbaikan memang seharusnya dimulai dari tingkatan individu. Berarti dalam hal ini ialah perempuan.

Wajar harga diri menjadi rendah, karena memang dalam suasana pembentukan global dalam dunia ini sedang gencar-gencarnya namun tidak ada keseimbangan filter. Maka hendaknya sebagai manusia yang “katanya” memanusiakan manusia atau bahasa kerennya ialah humanisasi, pantaskah kita melihat ini sebagai hal biasa? Maka hendaknya sebagai manusia yang “katanya” adalah mahluk yang merdeka atau bebas, pantaskah kebebasan menoreh luka? Maka hendaknya manusia mengembalikan semua pada fitrahnya, bahwa pembinaan moral untuk manusia adalah hal yang utama. Bahwa pembinaan pada agama ialah yang utama.

Mengembalikan konsep pembinaan perempuan dalam moral agama menjadi hal utama dewasa ini. Sehingga fitrah perempuan tidak ternodai oleh nilai westernisasi yang jelas bisa kita lihat bahwa itu tidak sesuai dengan ideologi bangsa kita. Mari bangkitkan kembali nilai-nilai profetik dalam pembinaan perempuan.

Selamat hari Kartini, selamat berjuang!
#Mari lakukan perbaikan bersama

#GerakanIntelektualProfetik

Selasa, 30 Oktober 2012

Hai Maba, Bersiaplah..!

Sepertinya, kesadaran akan pendidikan semakin tinggi saja di Indonesia ini. Lihat saja jumlah peminat Perguruan Tinggi yang semakin besar tiap tahunnya. Maka tidak heran jika sekarang Politeknik, Akademi maupun Universitas swasta ramai bermunculan. Menyenangkan sekali mengetahui perkembangan tersebut bukan?
 
Tahun ajaran baru seperti saat ini mengantarkan ribuan Mahasiswa Baru (Maba) ke satu tempat yang sama. Riuh, mereka datang dari tempat yang berbeda. Sebagian berasal dari tempat yang jauh sekali, bahkan harus meretas laut dan selat, dan sebagian ada juga yang berasal dari tempat yang dekat kampus. Tapi pada intinya, toh status mereka sama; Mahasiswa. Kebutuhan mereka hampir sama. Bahkan kondisi mereka pun hampir sama. Polos, lugu dan bingung. Walaupun tidak semuanya dalam kondisi sama, namun sebagian besar iya.
 
Mungkin semua Maba yang datang ke kampus ini membawa satu tujuan yang pasti. Cita-cita akademik yang sangat di patrikan, tanpa peduli bahkan tahu bahwa status Mahasiswa membawa banyak tanggung jawab yang melelahkan. Hampir semua maba masih terlena dengan seragam putih abu-abunya yang sudah melekat selama tiga tahun. Walaupun demikian lambat laun maba akan menyadari bahwa lepasnya seragam putih abu-abu menandai dimulainya satu fase baru dalam kehidupannya.
 
Satu hal yang harus diingat sebagai seorang mahasisiwa adalah bahwa ia telah menjadi warga negara sebenarnya. Ia sudah memiliki tempat untuk memulai debutnya sebagai warga negara. Bukan sebagai masyarakat biasa pada umumnya, tapi sebagai agent of change. Agen Perubahan. Mahasisiwa memiliki kekuatan, bukan kekuasaan untuk menjadi perubah arah atas banyak realitas dan kebijakan yang ada di negeri ini. Maka mahasiswa tidak boleh serta merta pasif dan diam melihat suatu keganjilan dalam sebuah pengambilan kebijakan oleh pemerintah ataupun kondisi rakyat yang memprihatinkan ( jika ada ). Status baru sebagai agen perubabahan bahkan memosisikan mahasiswa dapat berinteraksi langsung dengan pemerintah bukan? Dalam sejarahnya bahkan mahasiswa telah menorehkan sebuah prestasi dahsyat sebagai agen perubahan. Merubah sebuah era pemerintahan. Meretas zaman. Tidak hanya berbasah peluh dan berlinang air mata, tapi juga berdarah-darah meregang nyawa. Sekarang, kita tinggal nikmati hasil dari pelaksanaan fungsi mahasiswa di tahun 1998. Tidak dengan cara diam, tapi mempertahankan kondisi ideal yang diharapkan dari sebuah negara.
 
Mahasiswa tidak akan ideal jika memiliki pola pikir kekanak-kanakan yang hanya ingin bersenang senang dengan hidupnya. Sekali lagi, ada beban yang mulai dipikulkan kepada mahasiswa, maka mulai berfikir dewasa adalah tindakan bijak. Mulai berorientasi pada bangsa dan negara, bukan egoisme semata. Mulai memahami tugas akhirat sebagai manusia seutuhnya dan kembali pada agama. Ada banyak organisasi yang siap menjadi kepompong metamorfosis di universitas ini. Ada beragam komunitas yang siap menerima idealisme dan kemampuan Maba di kampus ini. Jangan disia-siakan. Jangan hanya menjadi mahasiswa yang hanya tahu bagaimana cara mendapat nilai bagus, tapi jadilah mahasiswa yang tahu bagaimana cara berpredikat bagus. Prestatif dan kontributif di satu waktu. Mahasiswa itu bukan tukang teori, tapi lebih dari itu telah berada dalam tataran amal.
 
            Apapun juga, tugas mahasiswa pertama dan terutama tetap belajar. Menyiapkan fisik dan kepandaian untuk sebuah generasi baru yang jelas akan mengisi pos-pos strategis di negara ini. mahasiswa hanyalah satu tahapan kecil dalam sebuah rangkaian tahapan-tahapan regenerasi bangsa menjadi bangsa yang besar dan mampu bersaing global. Maka ketika ada mahasiswa yang berdalih mengabaikan belajarnya demi organisasi dan kepentingan kita bersama, maka itu adalah bohong! Mereka tidak lebih hanyalah mengkambing hitamkan organisasi untuk rasa malas dan bosannya pada kegiatan perkuliahan.
 
Ayo, semangat Adik-adik! Dunia menantikan langkah sucimu. [Olia]
© Blog Komisariat KAMMI UNY
Maira Gall