Sejarah
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 November 2012

Bung Tomo : Patriot Bangsa Beriman Baja



Sumber Gambar:google
Jepang mendarat di pulau Jawa pada tanggal 1 Maret1942. Tujuh hari kemudian pemerintah kolonial Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang berdasarkan Perjanjian Kalijati dan Indonesia secara resmi diduduki oleh Jepang. Dijatuhkannya bom atomdi Hiroshimadan Nagasakimemaksa Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu. Momentum inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh rakyat Indonesia untuk memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.
 
Belenggu penjajahan terhadap bangsa ini ternyata belum kunjung selesai juga walaupun proklamasi telah diproklamirkan. Tentara Inggris membawa misi mengembalikan Indonesia kepada administrasi pemerintahan Belanda sebagai negeri jajahan Hindia Belanda. Bersamaan dengan hal tersebut rakyat Indonesia bergejolak dan memunculkan gerakan perlawanan rakyat Indonesia di berbagai daerah. Mayor Jenderal Robert Mansergh mengeluarkan ultimatum yang menyebutkan bahwa semua pimpinan dan orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya di tempat yang ditentukan dan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas pada 10 November 1945. Hal ini merupakan sebuah penghinaan terhadap para pejuang rakyat. Republik Indonesia saat itu sudah berdiri, dan TKR juga sudah dibentuk sebagi pasukan negara.
 
Pagi itu, tanggal 10 November, serangan besar benar-benar dilakukan oleh tentara Inggris di kota Surabaya dengan meriam dari laut dan darat. Perlawanan pasukan Indonesia kemudian berkobar di seluruh kota, dengan bantuan yang aktif dari penduduk. Ribuan penduduk sipil tak bersalah menjadi korban kekejaman tentara Inggris.
 
Blauran, Surabaya 3 Oktober 1920 itulah tanggal kelahiran seorang patriot bangsa yang rela berjuang  dengan rakyatya untuk mempertahankan kemerdekaan Republik ini. Sutomo, itulah nama asli patriot bangsa yang kita kenal akrab dengan panggilan Bung Tomo. Bung Tomo adalah seorang yang terlahir dalam kondisi masyarakat dan lingkungan keluarga yang mengalami depresi ekonomi pada tahun 1930-an. Sehingga Bung Tomo dan keluarganya harus berjuang hidup dibawah tekanan. Bung Tomo sendiri ikut bekerja membantu orangtuanya. Jiwa patriot Bung Tomo sudah mulai terasah sejak ia bergabung dalam KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia). Perolehan Lencana Elang merupakan prestasi terbaik Bung Tomo dalam KBI. Prestasi ini pula yang membuat Bung Tomo menjadi terkenal di kampungnya. Selain itu ternyata seorang Bung Tomo juga memiliki kemampuan dalam hal tulis-menulis yang pada akhirnya mengantarkan beliau menjadi wartawan Domei. PRI (Pemuda Republik Indonesia) yang tertarik dengan sosok seorang Bung Tomo yang memiliki banyak talentapun terkesima dan merekrut beliau kemudian menempatkannya dalam seksi penerangan.
 
                Kekuatan iman seorang Muslimlah yang melahirkan  jiwa patriot yang melekat pada diri Bung Tomo. Bagi Bung Tomo sebuah perjuangan dengan niat ikhlas membela kemerdekaan atas nama Allah  sangat diyakininya tidak akan mendatangkan kerugian sedikitpun. Bung tomo yang melihat pemerintah pada waktu itu dianggap terlalu lambat dalam menghadapi pergerakan belanda dan sekutu akhirnya mendirikan BPRI (Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia). Sejak tanggal 12 Oktober 1945 ia menjadi pucuk pimpinan di BPRI. 
 
Pada pertempuran 10 November, Bung Tomoadalah salah satu pemimpin revolusioner Indonesia yang paling dihormati. Pihak Inggris pun kewalahan mengahdapi perjuangn rakyat Surabaya yang dipimpin oleh Bung Tomo. Peran Bung Tomodi masyarakat untuk terus menggerakkan semangat perlawanan pemuda-pemuda Surabaya sangatlah besar.
 
Tokoh-tokoh agama pendukung perjuangan yang terdiri dari kalangan ulama serta kyai-kyai pondok Jawa seperti KH. Hasyim Asy'ari, KH. Wahab Hasbullah serta kyai-kyai pesantrenlainnya juga mengerahkan santri-santri mereka dan masyarakat sipil sebagai perlawanan (pada waktu itu masyarakat tidak begitu patuh kepada pemerintahan tetapi mereka lebih patuh dan taat kepada para kyai). Kalimat Allahu Akbar serta semboyan merdeka atau mati syahid menjadi semboyan yang sangat akrab pada perjuangan kala itu. Radio Perlawanan juga mengambil peran yang penting dalam prosesi perjuangan. Salah satu media informasi yang menampilkan semangat dan bergelora perjuangan yang kental. Hanya ada dua orang besar yang mampu mengobarkan semangat perlawanan melalui pidato-pidato yang disampaikan, Bung Tomo dan Soekarno. Selain itu Bung tomo pada rentan waktu tahun 1945-1949 juga membentuk pasukan berani mati. Yakni pasukan bom syahid yang siap mengorbankan jiwanya untuk menghancurkan pasukan belanda dan sekutu.
 
                Bung Tomo adalah seorang pejuang yang berjuang bersama para buruh, petani, tukang becak dan rakyat jelata tetap menjadi pribadi yang bersahaja dan tak mau menerima fasilitas dari pemerintah dalam bentuk apapun setelah revolusi kemerdekaan usai. Pejuang yang tetap memikirkan rakyatnya, memikirkan bangsanya, semuanya ia lakukan demi sebuah keyakinan bahwa Surga akan menanti dihadapannya.
 
Bung Tomo yang lahir sebagai patriot bangsa yang beriman baja menutup usianya ditempat yang suci dan pada hari yang dimuliakan Allah. Pada 16 Oktober 1981, setelah beliau melakukan wukuf di Arafah dalam rangkaian ibadah Hajinya, Bung Tomo menutup usianya.  [Kahar]

Bung Tomo : Patriot Bangsa Beriman Baja


Sumber Gambar:google
Jepang mendarat di pulau Jawa pada tanggal 1 Maret 1942. Tujuh hari kemudian pemerintah kolonial Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang berdasarkan Perjanjian Kalijati dan Indonesia secara resmi diduduki oleh Jepang. Dijatuhkannya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki memaksa Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu. Momentum inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh rakyat Indonesia untuk memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.
Belenggu penjajahan terhadap bangsa ini ternyata belum kunjung selesai juga walaupun proklamasi telah diproklamirkan. Tentara Inggris membawa misi mengembalikan Indonesia kepada administrasi pemerintahan Belanda sebagai negeri jajahan Hindia Belanda. Bersamaan dengan hal tersebut rakyat Indonesia bergejolak dan memunculkan gerakan perlawanan rakyat Indonesia di berbagai daerah. Mayor Jenderal Robert Mansergh mengeluarkan ultimatum yang menyebutkan bahwa semua pimpinan dan orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya di tempat yang ditentukan dan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas pada 10 November 1945. Hal ini merupakan sebuah penghinaan terhadap para pejuang rakyat. Republik Indonesia saat itu sudah berdiri, dan TKR juga sudah dibentuk sebagi pasukan negara.
Pagi itu, tanggal 10 November, serangan besar benar-benar dilakukan oleh tentara Inggris di kota Surabaya dengan meriam dari laut dan darat. Perlawanan pasukan Indonesia kemudian berkobar di seluruh kota, dengan bantuan yang aktif dari penduduk. Ribuan penduduk sipil tak bersalah menjadi korban kekejaman tentara Inggris.
Blauran, Surabaya 3 Oktober 1920 itulah tanggal kelahiran seorang patriot bangsa yang rela berjuang  dengan rakyatya untuk mempertahankan kemerdekaan Republik ini. Sutomo, itulah nama asli patriot bangsa yang kita kenal akrab dengan panggilan Bung Tomo. Bung Tomo adalah seorang yang terlahir dalam kondisi masyarakat dan lingkungan keluarga yang mengalami depresi ekonomi pada tahun 1930-an. Sehingga Bung Tomo dan keluarganya harus berjuang hidup dibawah tekanan. Bung Tomo sendiri ikut bekerja membantu orangtuanya. Jiwa patriot Bung Tomo sudah mulai terasah sejak ia bergabung dalam KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia). Perolehan Lencana Elang merupakan prestasi terbaik Bung Tomo dalam KBI. Prestasi ini pula yang membuat Bung Tomo menjadi terkenal di kampungnya. Selain itu ternyata seorang Bung Tomo juga memiliki kemampuan dalam hal tulis-menulis yang pada akhirnya mengantarkan beliau menjadi wartawan Domei. PRI (Pemuda Republik Indonesia) yang tertarik dengan sosok seorang Bung Tomo yang memiliki banyak talentapun terkesima dan merekrut beliau kemudian menempatkannya dalam seksi penerangan.
                Kekuatan iman seorang Muslimlah yang melahirkan  jiwa patriot yang melekat pada diri Bung Tomo. Bagi Bung Tomo sebuah perjuangan dengan niat ikhlas membela kemerdekaan atas nama Allah  sangat diyakininya tidak akan mendatangkan kerugian sedikitpun. Bung tomo yang melihat pemerintah pada waktu itu dianggap terlalu lambat dalam menghadapi pergerakan belanda dan sekutu akhirnya mendirikan BPRI (Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia). Sejak tanggal 12 Oktober 1945 ia menjadi pucuk pimpinan di BPRI.
Pada pertempuran 10 November, Bung Tomo adalah salah satu pemimpin revolusioner Indonesia yang paling dihormati. Pihak Inggris pun kewalahan mengahdapi perjuangn rakyat Surabaya yang dipimpin oleh Bung Tomo. Peran Bung Tomo di masyarakat untuk terus menggerakkan semangat perlawanan pemuda-pemuda Surabaya sangatlah besar.
Tokoh-tokoh agama pendukung perjuangan yang terdiri dari kalangan ulama serta kyai-kyai pondok Jawa seperti KH. Hasyim Asy'ari, KH. Wahab Hasbullah serta kyai-kyai pesantren lainnya juga mengerahkan santri-santri mereka dan masyarakat sipil sebagai perlawanan (pada waktu itu masyarakat tidak begitu patuh kepada pemerintahan tetapi mereka lebih patuh dan taat kepada para kyai). Kalimat Allahu Akbar serta semboyan merdeka atau mati syahid menjadi semboyan yang sangat akrab pada perjuangan kala itu. Radio Perlawanan juga mengambil peran yang penting dalam prosesi perjuangan. Salah satu media informasi yang menampilkan semangat dan bergelora perjuangan yang kental. Hanya ada dua orang besar yang mampu mengobarkan semangat perlawanan melalui pidato-pidato yang disampaikan, Bung Tomo dan Soekarno. Selain itu Bung tomo pada rentan waktu tahun 1945-1949 juga membentuk pasukan berani mati. Yakni pasukan bom syahid yang siap mengorbankan jiwanya untuk menghancurkan pasukan belanda dan sekutu.
                Bung Tomo adalah seorang pejuang yang berjuang bersama para buruh, petani, tukang becak dan rakyat jelata tetap menjadi pribadi yang bersahaja dan tak mau menerima fasilitas dari pemerintah dalam bentuk apapun setelah revolusi kemerdekaan usai. Pejuang yang tetap memikirkan rakyatnya, memikirkan bangsanya, semuanya ia lakukan demi sebuah keyakinan bahwa Surga akan menanti dihadapannya.
Bung Tomo yang lahir sebagai patriot bangsa yang beriman baja menutup usianya ditempat yang suci dan pada hari yang dimuliakan Allah. Pada 16 Oktober 1981, setelah beliau melakukan wukuf di Arafah dalam rangkaian ibadah Hajinya, Bung Tomo menutup usianya.  [Kahar]

Rabu, 14 November 2012

Refleksi : Menikmati Proses, Menghargai Hasil


Imam Bukhari meriwayatkan penuturan Khabbab, “Aku menghadap Rasulullah Saw. yang sedang berbaring berbantalkan sebuah selimut di dekat Ka’bah. Saat itu kami telah menerima perlakuan keras dari kaum musyrikin. Aku mengadu, ‘Apakah Anda tidak berdoa supaya Allah menolong kita?’
 
Mendengar pertanyaan itu, beliau langsung bangkit dan duduk dengan muka memerah. Kata beliau, “Orang-orang sebelum kalian dahulu di sisir tubuhnya dengan sisir besi hingga terurai daging dan uratnya dari tulang. Namun, itu tidak memalingkan mereka dari agama mereka. Allah Swt. pasti akan menyempurnakan agama Islam ini sehingga orang musafir bisa berjalan dari Shan’a ke Hadhramaut dengan aman, tanpa takut selain kepada Allah Swt. dan kepada serigala yang mungkin memangsa kambingnya. Akan tetapi, kalian ingin cepat berhasil.”
***
 
Sejarah kehidupan orang-orang terkenal menjadi hal menarik disimak karena kesuksesan dan pengaruh mereka yang sangat kuat terhadap banyak orang. Tetapi ada satu hal yang harus kita sadari, kesuksesan mereka tidaklah di dapat satu atau dua hari saja. Kesuksesan mereka berasal dari perjuangan, pengorbanan dan kesabaran yang memakan waktu cukup lama. Hanya orang-orang yang memiliki tujuan dan cita-cita saja yang berhasil meraih kesuksesan itu.
 
Eddie Cantor pernah mengatakan, membutuhkan dua puluh tahun untuk membuat kesuksesan semalam. Sedangkan Charles Spurgeon mengatakan, siput masuk ke dalam bahtera Nuh dengan ketekunan. Sebuah pengibaratan yang sangat tepat dalam memahami sebuah kesuksesan. Sarasate, pemain biola terbesar di abad sembilan belas dari Spanyol, pernah digelari pemain jenius oleh para kritikus musik. Menanggapinya, Sarasate menjawab, “Saya? Jenius? Selama tiga puluh tujuh tahun saya berlatih empat belas jam sehari, dan baru sekarang mereka mengatakan saya jenius?”
 
Kesuksesan itu juga pasti menemui hambatan, rintangan, dan kegagalan. Soichiro Honda bahkan mengatakan, keberhasilan mengandung 99% kegagalan. Lihat juga betapa banyaknya kegagalan yang dialami Thomas Alva Edison. Namun justru, dengan kegagalan itu mereka mendapat pelajaran berharga. Yaitu, tidak melewati kegagalan itu lagi dikemudian hari. Berani gagal adalah tanda orang yang berani memulai.
 
Sebagian besar manusia ingin cepat memperoleh hasil yang memuaskan, sehingga secara sadar atau tidak, manusia kerap mengikuti hawa nafsunya dan menghalalkan segala cara demi meraih kesuksesan yang diimpikannya. Jarang sekali yang berorientasi kepada proses, kebanyakan menghendaki kesuksesan instan, yang dengan cepat dapat dinikmati. Orang-orang seperti ini, seringkali menjadi budak hawa nafsunya. Hatinya tertutup, terkunci dari kebenaran. Tentu, ia akan jauh dari rahmat dan pertolongan Allah. Dan, suatu saat pasti ia akan merasakan akibat yang tidak sebanding dengan kenikmatan sesaat yang direguknya. 
 
Kita harus terus belajar untuk menikmati proses daripada menikmati hasil. Proses adalah sebuah rentang perjalanan yang mungkin teramat panjang, lama, dan penuh aral melintang. Tak jarang menimbulkan kesusahan dan kesengsaraan. Dan, kita harus terus berlatih menikmatinya. Sebagai manusia normal, kita memang merindukan tercapainya cita-cita. 
 
Semua usaha membutuhkan proses, diawali dengan niat yang ikhlas, bahwa apapun tujuan kita harus tetap dalam koridor meraih ridha-Nya. Lalu akal, pikiran, tenaga, dan waktu kita kerahkan sepenuhnya untuk berikhtiar sungguh-sungguh, mewujudkan apa yang menjadi impian kita. Subhanallah, sebenarnya inilah yang disebut sebuah proses. 
 
Walaupun sepertinya terlihat menyulitkan, namun proses ini akan menjadi ladang amal yang luar biasa. Kita dapat meraup pertolongan, barakah Allah, tentu andai kita selalu istiqamah, sabar dalam menjalani setiap proses kehidupan kita. Menjadi jalan kian dekat kepada-Nya. Dan andaikan kita mendapatkan cita-cita kita, setelah melalui proses itu, kita akan menjadi orang yang lebih menghargai hidup, lebih bersyukur atas karunia yang dilimpahkan-Nya. Karena kita yakin, bahwa hanya dengan pertolongan Allah lah kita mampu melakukan semuanya. Maka, berjuanglah untuk meniti proses demi proses dalam kehidupan kita yang cuma sebentar ini. Adapun tentang hasil, kita serahkan sepenuhnya kepada Allah. Semoga kita senantiasa diberikan kemampuan untuk tetap berjuang, bersabar agar kita dapat kian menikmati proses kehidupan yang mendewasakan diri. Wallahu’alam. [Nilaa]

Rabu, 24 Oktober 2012

Mengapa KAMMI Harus Ada


 Amin Soedarsono

“Semua ideologi yang berorientasi pada strategi revolusi, menganggap pemuda
sebagai tenaga paling revolusioner yang telah dan terjadi di seantero dunia ini”
[Fathi Yakan]

TUJUH tahun yang lalu, tepatnya tanggal 29 Maret 1998, dibacakanlah Deklarasi Malang sebagai proklamasi kelahiran sebuah organ gerakan mahasiswa muslim yang baru, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia. Pembacaan dilakukan oleh Fahri Hamzah, yang kemudian didaulat menjadi ketua pertama dengan didampingi Haryo Setyoko sebagai sekretaris umum. Peristiwa bersejarah itu kemudian diabadikan sebagai hari milad KAMMI. 

KAMMI muncul sebagai salah satu kekuatan alternatif mahasiswa yang berbasis mahasiswa muslim dengan mengambil momentum pada pelaksanaan Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus (FS-LDK) X se-Indonesia yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Malang. Acara ini dihadiri oleh 59 LDK yang berafiliasi dari 63 kampus (PTN-PTS) di seluruh Indonesia. Jumlah peserta keseluruhan kurang lebih 200 orang yang notabenenya para aktivis dakwah kampus.

Mengapa harus muncul KAMMI, sementara pada saat yang bersamaan sudah ada berbagai macam organisasi ekstra kampus yang lain, yang juga merupakan gerakan mahasiswa muslim? Pada konteks seperti apakah KAMMI menemukan momentum kelahirannya? Latar belakang, samping dan depan seperti apakah yang menyebabkan KAMMI muncul sebagai kekuatan baru bagi bangsa Indonesia? Pertanyaan itu mungkin muncul di benak para pengamat, atau bahkan pertanyaan mudah semisal, “bagaimana mungkin KAMMI mampu mengumpulkan massa sebanyak 20.000 orang saat usianya baru satu bulan?” 

Karena itu, merupakan suatu hal yang signifikan untuk menguak latar belakang dan situasi yang mendukung lahirnya KAMMI sebagai salah satu organ gerakan mahasiswa pembawa gerbong reformasi Indonesia.

Mahasiswa Dilarang Berpolitik !
Sangat jelas, bahwa pemerintah memiliki ketakutan luar biasa terhadap mahasiswa. Mahasiswa adalah kelompok yang mampu untuk benar-benar mengarahkan perubahan sesuai dengan keinginan rakyat. Mahasiswa adalah sosok yang mampu membongkar semua maksud-maksud besar hegemoni yang terus dilancarkan kelompok kekuasaan.
Hegemoni, meminjam istilah Antonio Gramsci, seorang marxis Italia, mengatakan bahwa proses hegemoni terjadi apabila cara hidup, cara berfikir dan pandangan pemikiran masyarakat bawah terutama kaum proletariat telah meniru dan menerima cara berfikir dan gaya hidup dari kelompok elite yang mendominasi dan mengakses mereka. Dengan kata lain, jika ideologi dari golongan yang mendominasi telah diambil alih secara sukarela oleh yang didominasi (Roger Simon, Gagasan-gagasan Politik Gramsci, 1999). Dalam konteks Orde Baru, ideologi politiknya telah benar-benar menjadi hegemonik bagi warganya sendiri. Sehingga dalam kondisi seperti itu, pemerintah yang korup dan bobrok tetap mampu mengendalikan gejolak rakyatnya. Kecuali mahasiswa !
Cara berpolitiknya mahasiswa, sebetulnya bukan politik praktis, namun politik moral (etik). Disini harus difahamkan bahwa gerakan mahasiswa harus senantiasa berangkat dari kesadaran moral di mana mereka tidak perlu masuk dalam wiayah politik kekuasaan. Tetapi bukan berarti mahasiswa tidak boleh berbicara politik. Gerakan mahasiswa harus mendorong proses politik menuju moralitas politik. Gerakan moral dapat berimplikasi politis, karena tidak ada perubahan tanpa kebijakan politik.
Dalam menjalankan pemerintahannya terutama pertengahan 70-an Soeharto mulai menuai kritik dari mahasiswa dan masyarakat oleh KKN yang dipelopori keluarga Cendana (baca: Soeharto). Peristiwa ini lebih dikenal dengan nama tragedi Malari (15 Januari 1974) yang salah satu tokohnya adalah Hariman Siregar.

Mahasiswa dengan segenap kemampuan, terus berusaha mengkritisi kebijakan pemerintah yang membuat kerugian bagi bangsa dan rakyat. Mereka turun ke jalan, masuk ke denyut parlemen, dan melakukan negosiasi dengan para decision maker di republik ini. Ternyata, hal itu membuat pemerintah gerah. Lalu, pada tahun 1978, melalui Mendikbud Daoed Joesoef, dikeluarkan sebuah SK tentang NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kampus).

Dalam konsep NKK/BKK, kegiatan kemahasiswaan diarahkan pada pengembangan diri mahasiswa sebagai bagian masyarakat ilmiah. Sehingga dunia mahasiswa pada kurun masa itu terasa jauh dari denyut nadi persoalan riil masyarakat sekitarnya. Awalnya, aktivitas mahasiswa dikatakan sebagai kegiatan politik praktis yang tidak sesuai iklim masyarakat ilmiah. Kekuatan mahasiswa kemudian “dipagari” pada wilayah minat dan bakat, kerohanian, dan penalaran. Disusul kemudian dengan kebijakan sistem kredit semester, mahasiswa digiring menjadi insan akademis yang hanya berkutat dengan pelajaran dan berlomba menyelesaikan kuliah. Mulai saat itu gerakan mahasiswa menurun massivitasnya karena pemerintah semakin otoriter, represif, paranoid dan manipulatif terhadap aksi-aksi yang dilakukan oleh mahasiswa. Beberapa aksi mahasiswa dan penentang kebijakan pemerintah selalu dikaitkan, hubungan-hubungan bahwa aksi yang dilakukan ditunggangi oleh pihak tertentu. Hampir seluruh kegiatan mahasiswa dicurigai, diteror, dan ditangkap oleh aparat antek-antek pemerintah di kampus (baca: rektor) yang sedikit banyak berdampak pada massivitas gerakan mahasiswa.

Kampus; Karantina Politik
Ada sebuah analog menarik yang disampaikan oleh Ignas Kleiden. Diawali sebuah pertanyaan, “bagaimana menjelaskan bahwa mereka yang dilarang berpolitik selama lebih dari dua dasawarsa, sekonyong-konyong menggemparkan dunia sebagai wunderkinder politik (anak-anak ajaib dalam politik)?”. Dalam tulisannya itu (Tempo, 4 Januari 1999), Kleiden mencoba menjelaskan bahwa fenomena meledaknya gerakan mahasiswa adalah karena sebetulnya, pelarangan kegiatan berpolitik bagi mahasiswa pada masa Orde Baru bukanlah “Pulau Buru” untuk politik, tetapi lebih mirip karantina yang melindungi mahasiswa dari kuman dan virus.

Untuk mereka yang hidup dalam karantina, lanjut Kleiden, politik tradisional ini penuh aksesori, tetapi terlalu sederhana dalam tematisnya: kedudukan, kekuasaan, fasilitas, keberanian korupsi dan kesediaan untuk menyenangkan kesenangan yang lebih tinggi. Yang tidak diduga adalah “anak-anak karantina” itu tidak mengenal tradisi politik demikian. Mereka rupanya telah mengamati dengan telaten apa saja yang menjadi pola strategi anti-demokrasi yang berulang-ulang diterapkan dan pada akhirnya menemukan jalan untuk menghadapinya.

Akar dari kemunculan anak-anak muda ini menurut Eep Saefullah Fatah (Catatan atas Gagalnya Politik Orde Baru, 1998) bisa dilacak sekurangnya tiga faktor. Pertama, ekses pendidikan politik Orde Baru yang tertutup yang menimbulkan banyak kekecewaan. Ketidakpuasan terhadap mekanisme pendidikan yang tertutup di awal-awal Orde Baru, membuat mereka banyak menggali dan mencari di luar jatah belajar resmi di kampus. Kedua, kemunculan anak-anak muda yang bersemangat ini adalah satu hasil dari transformasi ekonomi dan sosial masyarakat. Makin besarnya peluang berpendidikan tinggi, makin terbuka peluang mobilitas vertikal secara ekonomis. Hal itu menumbuhkan komunitas kritis dan well informed di tengah masyarakat. Ketiga, ekspresi dari kekecewaan terhadap politik pembangunan (developmentalisme) yang menimbulkan ketimpangan sosial yang parah. 

Dalam halnya mahasiswa muslim, ruang karantina itu menjadi semakin steril ketika bertemu dengan variabel masjid. Hal inilah yang disinggung oleh Eep (Hidayatullah, Edisi 01/Th. XI Muharram 1419) ketika menganalisis bahwa pertemuan antara masjid, sebagai ruang “suci” dan penuh nuansa religius spiritual, dengan kampus—simbol intelektualitas dan pencetak tenaga pembangun bangsa—merupakan sinergi yang sangat mendukung berkembangnya bibit KAMMI di kemudian hari.
Kampus merupakan ruang yang relatif aman untuk bergerak di tengah kokohnya negara. Sedangkan masjid adalah simbol primordial yang kini memperoleh ruang yang sama amannya dengan kampus. “Saat ini masjid merupakan suatu tempat dimana kalangan Islam sedang diberi ruang untuk berpolitik,” katanya. Menurutnya, KAMMI berhasil memanfaatkan dua variabel itu dengan baik. “Mereka muncul dari basis kampus dan bergerak ke masjid”. Karenanya ia memandang KAMMI berpotensi menjadi kekuatan yang diperhitungkan. “KAMMI memiliki massa yang besar dean berkemampuan membangun jaringan kekuatan yang luas di luar kampus,” ramal Eep.

Islam Politik Dikebiri
Umat Islam di Indonesia, sejatinya mengalami pengebirian politik. Menurut Kuntowijoyo (Identitas Politik Umat Islam, 1997), Islam Politik inilah yang dibenci dan ditekan oleh negara agar tidak berkembang. Mengapa Islam secara politik dihalangi oleh negara? Menurut Kunto, mitos politik tentang pembangkangan Islam sangat dalam terpateri dalam kesadaran sejarah bangsa, yaitu sejak kerajaan-kerajaan tradisional, zaman Belanda dan NKRI (“DI/TII”) menyebabkan pengambil kebijakan Orde Baru bersikap sangat kritis terhadap “Islam politik”.

Sejak kemerdekaan, Indonesia memang telah mengalami berbagai sistem politik. Pemilu pertama dalam sistem parlementer menghasilkan pemerintahan yang sering dikatakan tidak stabil. Ujung-ujungnya, Soekarno mengeluarkan dekrit pada 1959 yang mengembalikan Indonesia ke UUD 1945, sekaligus memberikan kekuasaan besar kepada Presiden Soekano. Orde Baru muncul menggantikan Orde Lama, yang kemudian bertahan selama 32 tahun. 

Pada awal Orde Baru (1966-1967) ketika akan dibentuk PDII (Partai Demokrasi Islam Indonesia), negara menolaknya. Demikian juga ketika Masyumi akan direhabilitasi. Tahun 1968, berdiri Parmusi (Partai Muslimin Indonesia), namun menjadi mandul karena diisi hanya oleh orang-orang yang pro-pemerintah. Asas Tunggal Pancasila pada tahun 1978 dengan sangat terpaksa diterima oleh umat, yang sebenarnya itu bagian dari usaha politik untuk melemahkan Islam. Sejalan dengan itu, jatuhlah korban di Tanjung Priok, Lampung, Jakarta dan berbagai tempat lain dengan motif tuduhan  “tindakan subversif”.

Tahun 1998, muncul Orde Reformasi, yang diharapkan mampu membawa perbaikan kepada masyarakat dalam berbagai bidang. Namun, apa yang terjadi? Umat Islam memang mendapatkan ruang yang luas untuk beraktivitas politik, namun seperti diungkapkan oleh Adian Husaini (Hidayatullah.com, 25/04/2004) selama Orde Reformasi, Indonesia masih mengalami berbagai keterpurukan. Kebebasan di berbagai bidang memang dinikmati masyarakat. Termasuk kebebasan melakukan dan menyebarkan berbagai kemaksiatan melalui media massa. Utang Indonesia pun bukannya mengecil, masih sekitar Rp 1.300 trilyun. Pemberantasan korupsi masih menjadi perbincangan ideal, dan bahkan semakin menyebar dan merata ke pelosok-pelosok, sejalan dengan program otonomi daerah. Pengangguran masih melangit. Angka kemiskinan masih cukup tinggi.
Kondisi seperti ini, bagi mahasiswa muslim merupakan sebuah ironi. Dan sebagai elemen masyarakat yang memiliki kemampuan dan kepedulian tinggi, mahasiswa terpanggil untuk berperan menyelamatkan bangsa. Kondisi pengebirian politik dan kebobrokan multi dimensi di republik ini adalah beberapa sebab kemunculan KAMMI di kemudian hari. Selain variabel intinya: ideologisasi Islam.

Di Kampus Bersemai Islam
“KAMMI beranggotakan individu-individu yang punya basis kultur religius, yang selama 20 tahun aktivitasnya di LDK terus terjadi pengutan-penguatan visi keagamaan dan juga politik,” demikian diungkapkan oleh Haryo Setyoko—Sekretaris Umum KAMMI pertama—ketika menjawab tudingan bernada curiga, “bagaimana bisa suatu organisasi berumur sehari mengeluarkan sikap politik yang demikian solid dan merangkum 60 LDK?”

Hal ini diperjelas dengan analisis Ali Said Damanik (Fenomena Partai Keadilan, Transformasi 20 Tahun Gerakan Tarbiyah di Indonesia, 2002), bahwa ada dua faktor penting yang mengkonstruksi pola baru aktivitas keislaman mahasiswa. Pertama, munculnya kelompok anak muda yang memiliki semangat tinggi dalam mempelajari dan mengamalkan Islam, sebagai respon dari tekanan politik pemerintahan Orde Baru terhadap umat Islam. Kedua, adanya sebuah public sphere (ruang publik) yang relatif lapang, yang bernama masjid atau mushalla kampus, tempat di mana idealisme kaum muda Islam itu mengalami persemaian ideal dan pengecambahan secara cepat.

Tahun 80 sampai 90-an, para aktivis dakwah telah memulai membangun pilar-pilar dakwah sebagai pemantik kebangkitan Islam di Indonesia yang merupakan  bagian dari komunitas kaum muslimin di dunia. Aktivis dakwah ini telah menempuh langkah strategis; membidik dunia kampus dan pendidikan. Kampus adalah pusat peradaban dan pusat pembangunan generasi terdidik bangsa yang akan meneruskan tongkat perjuangan bagi generasi sebelumnya. Terbangunnya kaum intelektual kampus dengan sibghah Islam merupakan sebuah kemenangan yang luar biasa, sebuah kontribusi yang amat sangat berharga bagi perkembangan dakwah selanjutnya.

Lalu, diawali oleh masjid kampus pertama di Indonesia, masjid Salman al-Farisi di Institut Teknologi Bandung (ITB), dimulailah membentuk pengajian-pengajian kecil, dengan materi seputar aqidah dan pemurnian makna Laa ilaaha Illaallah. Dengan membentuk para individu unggulan ini diharapkan akan dapat menjadi tumpuan bagi keluarga unggulan, yang kehidupannya mencerminkan sebuah keluarga dengan kemurnian aqidah. Dan dari situ diharapkan akan terbentuk sebuah masyarakat yang mempunyai karakteristik perilaku yang Islami.

Perkumpulan pengajian yang ada di kampus-kampus ini kebanyakan termotivasi dengan adanya beberapa pergerakan yang menawarkan ide-ide pemurnian terhadap pemahaman Islam dengan kembali kepada Allah dan Rasul-Nya, dengan melaksanakan ajaran-Nya serta sunnah Rasul-Nya dalam setiap jengkal kehidupan. Nama-nama dan pemikiran Ikhwanul Muslimin [Mesir], Hizbut Tahrir [Yordania], Salafy, Al-Haramain, dan Jama’at al-Islami [Pakistan] banyak mewarnai pemikiran aktivis dakwah kampus saat itu. Ide-ide penegakan kembali persatuan Islam Internasional, Khilafah Islamiah, merupakan ide-ide yang tidak pernah lepas dari kajian-kajian juga. Demikian pula penanaman sikap anti imperialisme dan Barat dengan ghazwul fikrinya. Hingga dalam beberapa waktu terbentuklah sosok-sosok mahasiswa yang tampil secara ekslusif dengan pemahaman keislamannya. Para pemuda berjenggot dan para wanita dengan kerudung [jilbab] lebar telah mulai bersemi dalam kampus, yang kelak ternyata akan tumbuh dengan rimbunnya. Para mahasiswa dengan al-Qur’an kecil di saku bajunya ternyata menjadi fenomena yang lama kelamaan kian bertambah.

Dengan terbentuknya masjid-masjid di kampus serta dengan terbukanya ruang untuk membentuk perkumpulan kajian di kampus, maka benih-benih dakwah kampus yang telah dibangun melalui kajian-kajian ini selanjutnya menyatu dalam wadah yang telah terorganisasi. Dalam tingkatan perguruan tinggi maka masjid kampus akhirnya telah menjadi basis perjuangan dakwah bagi para aktivis mahasiswa Islam di kampus.

Tahun-tahun terakhir menjelang reformasi 1998, gerakan dakwah kampus ini mulai mempunyai bargaining position (posisi tawar) dalam dunia perpolitikan, baik internal kampus dalam bentuk BEM, SM; maupun perpolitikan negara. Saat itulah kemudian, gerakan dakwah kampus mengalami transformasi dalam bentuk ormas Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI).

Kutub Kebangkitan Islam
Kelahiran KAMMI lewat Deklarasi Malang tak bisa dipisahkan dari konteks sejarah Indonesia saat itu yang tengah dilanda krisis kepemimpinan, ekonomi, sosial, politik dan keamanan, menjelang kejatuhan rezim Soeharto. Aktivis LDK yang disebut-sebut sebagai ikon kebangkitan Islam di kampus terpanggil untuk mengarahkan dan mengamankan proses perubahan Indonesia, dan sepakat membentuk KAMMI sebagai wadah perjuangannya. Hingga kemudian KAMMI tercatat sebagai salah satu motor gerakan reformasi Mei 1998. 

Dalam analisa Imam Mardjuki—anggota pendiri KAMMI, Ketua KAMMI Semarang 2000-2002, Ketua LDK Undip 1998-1999—(www.kammi.or.id., 29/10/04) perjuangan KAMMI berangkat dari tiga kutub kebangkitan. Pertama, kutub revivalisasi. Revivalisasi lahir dari semangat ingin mengambil ajaran Islam secara murni dengan merujuk langsung kepada orisinalitas dan integralitas Islam generasi pertama. Revivalisasi adalah upaya membangun kembali Islam secara kaffah sebagaimana diajarkan dan diteladankan Nabi Muhammad SAW. 

Semangat kembali kepada ajaran salaf (generasi awal Islam) ini merupakan perlawanan atas sekularisasi yang telah menjauhkan umat Islam dari ajaran agamanya serta memunculkan pemikiran dan praktik keislaman yang parsialistik. Karena itulah, revivalisasi KAMMI ingin membangun Islam secara utuh mencakup seluruh aspek kehidupan. 

Kedua, kutub adaptasi. Islam di mata KAMMI bukanlah dogma beku, kolot, antiperubahan atau kontra-modernisme. Islama adalah ideologi dinamis yang menyeimbangkan antara hal-hal yang tetap (ats-tsawabit) dan fleksibel (mutaghayyirat), karena Islam pada dasarnya idealita yang hanya bermakna bila direalisasikan di alam nyata. Di mata Sayyid Quthb, kesejatian seorang muslim bukanlah pada apa yang mereka pikirkan atau percayai, melainkan apa yang mereka perbuat di dunia ini. Pada kenyataannya, penerapan Islam di alam realita ini membutuhkan adaptasi-adaptasi. 

Karena itu, semangat kembali kepada ajaran salaf yang didakwahkan KAMMI sangat welcome terhadap dinamika zaman di era khalaf (mutakhir). KAMMI sependapat dengan ulama kontemporer Syekh Yusuf Qordhowi bahwa pembumian Islam dari ranah idealita ke ranah realita di era modern harus memperhatikan tiga konsepsi pemahaman: fiqhul waqi’i (pemahaman atas realitas), fiqhul aulawiyat (pemahaman atas prioritas kebutuhan) dan fiqhul muwazanat (pemahaman atas perkembangan zaman). 

Kutub ketiga adalah visi. Visi KAMMI adalah membentuk masyarakat Islami di Indonesia (GBHO KAMMI 2004-2006 Bab II Pasal 2), selain melahirkan pemimpin bangsa masa depan bagi umat dan bangsa ini. Umat Islam memang mayoritas di Indonesia, tapi hanya mayoritas statistik, bukan mayoritas substantif. Kenyataan ini menjadikan perjuangan KAMMI akan menjadi sangat beralasan untuk mendapat dukungan penuh dari seluruh elemen umat Islam di Indonesia.

Khatimah
Kelahiran KAMMI merupakan sebuah keniscayaan sejarah. Latar belakang yang menyebabkan lahirnya KAMMI menuntut untuk terus berdiri kokoh menentang kedzaliman di muka bumi ini. Idealisme kemahasiswaan dan keindonesiaan yang dimiliki KAMMI niscaya menjadi pemantik bagi bara perjuangan berikutnya.

Saat ini, ketika sudah bertambah umur, KAMMI harus lebih matang. Baik dalam pengelolaan kadernya maupun ketika mengambil keputusan politik etis-strategisnya. Jangan sampai KAMMI terjebak dalam euforia politik praktis yang seringkali menjerembabkan dalam jurang pragmatisme.***


*) Amin Sudarsono, Ketua Departemen Kajian Strategis KAMMI Daerah Istimewa Yogyakarta 2004-2006; mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta.
           

Sabtu, 20 Oktober 2012

KILAS BALIK SEJARAH LAHIRNYA KAMMI

Dasar Kemunculan
1. Adanya indikator yang mematikan potensi bangsa.
2. Urgensi Sebuah Tuntutan Reformasi
3. Adanya Kepentingan Umat Islam Untuk Segera Berbuat
4. Aksi Demontrasi dan Mimbar Bebas Semakin Menjamur.
5. Mahasiswa Islam Merupakan Elemen Sosial.
6. Suara Umat Islam Mulai Terabaikan.
7. Depolitisasi Kampus Memandulkan Peran Mahasiswa.
Waktu Kelahiran
KAMMI muncul sebagai salah satu kekuatan alternatif Mahasiswa yang berbasis mahasiswa Muslim dengan mengambil momentum pada pelaksanaan Forum Silahturahmi Lembaga Dakwah Kampus (FS-LDK) X seindonesia yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Malang. Acara ini dihadiri oleh 59 LDK yang berafiliasi dari 63 kampus (PTN-PTS) diseluruh Indonesia . Jumlah peserta keseluruhan kurang lebih 200 orang yang notabenenya para aktifis dakwah kampus. KAMMI lahir para ahad tanggal 29 April 1998 PK.13.00 wib atau bertepatan dengan tanggal 1 Dzulhijah 1418 H yang dituangkan dalam naskah Deklarasi Malang .
Pemilihan Nama
Pemilihan nama Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia yang kemudian disingkat KAMMI mengandung makna atau memiliki konsekwensi pada beberapa hal yaitu :
  1. KAMMI adalah sebuah kekuatan terorganisir yang menghimpun berbagai elemen Mahasiswa.
  2.  Muslim baik perorangan maupun lembaga yang sepakat bekerja dalam format bersama KAMMI.
  3. KAMMI adalah sebuah gerakan yang berorientasi kepada aksi real dan sistematis yang dilandasi gagasan konsepsional yang matang mengenai reformasi dan pembentukan masyarakat Islami (berperadaban).
  4. Kekuatan inti KAMMI adalah kalangan mahasiswa pada berbagai stratanya yang memiliki komitmen perjuangan keislaman dan kebangsaan yang jelas dan benar.
  5. Visi gerakan KAMMI dilandasi pemahaman akan realitas bangsa Indonesia dengan berbagai kemajemukannya, sehingga KAMMI akan bekerja untuk kebaikan dan kemajuan bersama rakyat, bangsa dan tanah air Indonesia.
Perjalanan Kepengurusan

Kepengurusan pertama adalah periode al-akh Fahri Hamzah, yakni sejak Deklarasi sampai Muktamar I di Bekasi pada bulan November 1998. Periode ini memfokuskan aktivitasnya kepada aktualisasi jaringan nasional untuk mengambil peran historis secara heroik dalam proses reformasi di Indonesia, yakni dengan menggiatkan aksi secara simultan, merata, kontinyu, dan menegaskan komitmen reformasi yang jelas. Periode ini adalah masa launching ke hadapan publik dan positioning awal KAMMI sebagai elemen gerakan mahasiswa yang diharap selalu mengambil peran terdepan dalam perjalanan sejarah Indonesia.
Periode kedua adalah masa al-akh Fitra Arsil, yang terpilih untuk menggantikan akh Fahri dalam Muktamar I dan menjalankan amanah sampai Muktamar II di Yogyakarta pada bulan November 2000. Periode ini memiliki tugas untuk secara serius menata infrastruktur organisasi KAMMI yang establish dan merancang sistem kaderisasi KAMMI yang lebih terstruktur. Juga melakukan berbagai aksi sosial dan kemanusiaan untuk ikut mengatasi beban rakyat yang ditimbulkan oleh krisis berkepanjangan.
Periode ketiga adalah masa al-akh Andi Rahmat yang terpilih dalam Muktamar II KAMMI di Yogyakarta dan direncanakan menjabat sampai tahun 2002. Periode ini menekankan pentingnya positioning strategis KAMMI di tengah pluralitas gerakan yang ingin mewarnai proses transisi di Indonesia. Namun hal tersebut tidak berlangsung lama, akh Andi Rahmat menyatakan mundur dari jabatannya pada bulan Maret 2001.
Menyikapi hal tersebut, Badan Permusyawaratan (BP) KAMMI Pusat berinisiatif untuk menyelenggarakan Muktamar Luar Biasa (MLB) KAMMI di Bandung pada tanggal 20-22 April 2001. Muktamar tersebut memutuskan untuk merubah sistem kepemimpinan terpusat menjadi sistem kepemimpinan kolektif, yang akhirnya memilih sembilan orang sebagai anggota Pimpinan Pusat (PP) KAMMI, yakni:
* Akbar Zulfakar (Ketua Umum);
* Purwoko Kurniawan (Ketua Kaderisasi);
* Muhammad Badaruddin (Ketua Kastrat);
* Elvis Bakri (Ketua Teritorial/KT I);
* Ach. Fauzi I. (KT-II);
* Supriyadi (KT-III);
* Hermawan (KT-IV);
* Suparmono (KT-V); dan
* Yusran (KT-VI).
Muktamar III Lampung tanggal 1-9 September 2002 memutuskan untuk memilih:
* Muhammad Hermawan, S.Si sebagai Ketua Umum dan
* Fahmi Rusdi, LC sebagai Sekretaris Jendral,
juga dipilih anggota Pimpinan Pusat (PP) KAMMI, yakni
* Marwansyah (Ketua Teritorial/KT I);
* Febriansyah (KT-II);
* Yuli Widi Astono (KT-III);
* Teguh, ST (KT-IV);
* Imron Rosyadi (KT-V); dan
* M. Dwi Tanjuri(KT-VI),
* Jauhari (KT-VII)


ingin tahu lebih lanjut klik di sini.

Rabu, 17 Oktober 2012

Sejarah Berdirinya KAMMI

KILAS BALIK SEJARAH LAHIRNYA KAMMI
Dasar Kemunculan
1. Adanya indikator yang mematikan potensi bangsa.
2. Urgensi Sebuah Tuntutan Reformasi
3. Adanya Kepentingan Umat Islam Untuk Segera Berbuat
4. Aksi Demontrasi dan Mimbar Bebas Semakin Menjamur.
5. Mahasiswa Islam Merupakan Elemen Sosial.
6. Suara Umat Islam Mulai Terabaikan.
7. Depolitisasi Kampus Memandulkan Peran Mahasiswa.
Waktu Kelahiran
KAMMI muncul sebagai salah satu kekuatan alternatif Mahasiswa yang berbasis mahasiswa Muslim dengan mengambil momentum pada pelaksanaan Forum Silahturahmi Lembaga Dakwah Kampus (FS-LDK) X seindonesia yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Malang. Acara ini dihadiri oleh 59 LDK yang berafiliasi dari 63 kampus (PTN-PTS) diseluruh Indonesia . Jumlah peserta keseluruhan kurang lebih 200 orang yang notabenenya para aktifis dakwah kampus. KAMMI lahir para ahad tanggal 29 April 1998 PK.13.00 wib atau bertepatan dengan tanggal 1 Dzulhijah 1418 H yang dituangkan dalam naskah Deklarasi Malang .
Pemilihan Nama
Pemilihan nama Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia yang kemudian disingkat KAMMI mengandung makna atau memiliki konsekwensi pada beberapa hal yaitu :
  1. KAMMI adalah sebuah kekuatan terorganisir yang menghimpun berbagai elemen Mahasiswa.
  2.  Muslim baik perorangan maupun lembaga yang sepakat bekerja dalam format bersama KAMMI.
  3. KAMMI adalah sebuah gerakan yang berorientasi kepada aksi real dan sistematis yang dilandasi gagasan konsepsional yang matang mengenai reformasi dan pembentukan masyarakat Islami (berperadaban).
  4. Kekuatan inti KAMMI adalah kalangan mahasiswa pada berbagai stratanya yang memiliki komitmen perjuangan keislaman dan kebangsaan yang jelas dan benar.
  5. Visi gerakan KAMMI dilandasi pemahaman akan realitas bangsa Indonesia dengan berbagai kemajemukannya, sehingga KAMMI akan bekerja untuk kebaikan dan kemajuan bersama rakyat, bangsa dan tanah air Indonesia.
Perjalanan Kepengurusan
Kepengurusan pertama adalah periode al-akh Fahri Hamzah, yakni sejak Deklarasi sampai Muktamar I di Bekasi pada bulan November 1998. Periode ini memfokuskan aktivitasnya kepada aktualisasi jaringan nasional untuk mengambil peran historis secara heroik dalam proses reformasi di Indonesia, yakni dengan menggiatkan aksi secara simultan, merata, kontinyu, dan menegaskan komitmen reformasi yang jelas. Periode ini adalah masa launching ke hadapan publik dan positioning awal KAMMI sebagai elemen gerakan mahasiswa yang diharap selalu mengambil peran terdepan dalam perjalanan sejarah Indonesia.
Periode kedua adalah masa al-akh Fitra Arsil, yang terpilih untuk menggantikan akh Fahri dalam Muktamar I dan menjalankan amanah sampai Muktamar II di Yogyakarta pada bulan November 2000. Periode ini memiliki tugas untuk secara serius menata infrastruktur organisasi KAMMI yang establish dan merancang sistem kaderisasi KAMMI yang lebih terstruktur. Juga melakukan berbagai aksi sosial dan kemanusiaan untuk ikut mengatasi beban rakyat yang ditimbulkan oleh krisis berkepanjangan.
Periode ketiga adalah masa al-akh Andi Rahmat yang terpilih dalam Muktamar II KAMMI di Yogyakarta dan direncanakan menjabat sampai tahun 2002. Periode ini menekankan pentingnya positioning strategis KAMMI di tengah pluralitas gerakan yang ingin mewarnai proses transisi di Indonesia. Namun hal tersebut tidak berlangsung lama, akh Andi Rahmat menyatakan mundur dari jabatannya pada bulan Maret 2001.
Menyikapi hal tersebut, Badan Permusyawaratan (BP) KAMMI Pusat berinisiatif untuk menyelenggarakan Muktamar Luar Biasa (MLB) KAMMI di Bandung pada tanggal 20-22 April 2001. Muktamar tersebut memutuskan untuk merubah sistem kepemimpinan terpusat menjadi sistem kepemimpinan kolektif, yang akhirnya memilih sembilan orang sebagai anggota Pimpinan Pusat (PP) KAMMI, yakni:
* Akbar Zulfakar (Ketua Umum);
* Purwoko Kurniawan (Ketua Kaderisasi);
* Muhammad Badaruddin (Ketua Kastrat);
* Elvis Bakri (Ketua Teritorial/KT I);
* Ach. Fauzi I. (KT-II);
* Supriyadi (KT-III);
* Hermawan (KT-IV);
* Suparmono (KT-V); dan
* Yusran (KT-VI).
Muktamar III Lampung tanggal 1-9 September 2002 memutuskan untuk memilih:
* Muhammad Hermawan, S.Si sebagai Ketua Umum dan
* Fahmi Rusdi, LC sebagai Sekretaris Jendral,
juga dipilih anggota Pimpinan Pusat (PP) KAMMI, yakni
* Marwansyah (Ketua Teritorial/KT I);
* Febriansyah (KT-II);
* Yuli Widi Astono (KT-III);
* Teguh, ST (KT-IV);
* Imron Rosyadi (KT-V); dan
* M. Dwi Tanjuri(KT-VI),
* Jauhari (KT-VII)
© Blog Komisariat KAMMI UNY
Maira Gall