Minggu, 20 November 2016

Walayat - Siyasah Syar'iyah

Siyasah Syar’iyah Ibnu Taimiyah

(BAB 1 Walayat)
Oleh Rakhyan Risnu Sasongko
 
Siyasah syar’iyah sesungguhnya merupakan bagian dari manhaj (metode) dakwah yang turut menjaga hukum hasil kreasi manusia agar selaras dengan hukum asli ciptaan Allah. Ia hadir sebagai sebuah tafsiran cerdas akan hukum agung asli yang azali. Tersususn secara sistematis yang berisi rambu-rambu ilahiyah tentang cara mengelola sebuah amanah besar dari Allah Swt kepada manusia. Berangkat dari sebuah kegelisahan yang mendalam tentang kondisi kaum muslimin yang mengalami kemunduran, sebagai dampak dari kemrosotan politik dan agama. Buku siyasah sya’iyah hadir untuk memberikan keterangan ide Islam tentang panduan ideal mengelola bumi, manusia, dan kepemimpinan agar dapat memberikan keadilan dan menumbuhkan kembali umat ini kepada posisi seharusnya, sehingga mampu memberikan rahmat bagi seluruh semesta raya. Sebagai obat dari akidah yang telah teracuni oleh berbagai amalan bid’ah dan madzhab ilmu kalam yang menyesatkan, serta teracuni oleh filsafat.

Rabu, 21 September 2016

Catatan KAHFI #1

📝📝📝📝📝

Kamis, 18-8-16

*Al Fahmu*
Oleh: Ust. Andi Alif

- al fahmu adalah tentang kepahaman, tentang suatu hal yang tidak hanya sekedar terdengar, namun lebih mendengarkan hingga mampu lebih meyakini. Seperti iman, diyakini dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan dilakukan dengan perbuatan.

- Kepahaman itu berada di atas pengetahuan. Layaknya ilmu sebelum amal. Seperti kata Imam Syafii, ilmu tanpa amal bagaikan pohon rindang tak berbuah. Sedangkan amal tanpa ilmu seperti orang gila yang bertindak tanpa berpikir.

Senin, 19 September 2016

GERAKAN MAHASISWA DALAM PERJUANGAN INDONESIA


Zaky Mubarok Izzudin
Ketua BEM UNY 2016

Bulan Agustus 2016, belum hilang dari ingatan kita tentang berita beberapa waktu silam. Reshuffle menteri kabinet kerja Indonesia yang cukup menuai pro-kontra. Pergantian ini menjadi perbincangan banyak kalangan karena beberapa menteri yang terlihat mempunyai kebijakan yang pro-rakyat mulai disingkirkan dari percaturan politik elit.  Belum cukup sampai disitu, setelah reshuffle jilid 1 selesai Indonesia lagi-lagi diguncang dengan isu bergantinya menteri yang hanya menjabat selama 20 hari. Apa yang sedang terjadi di negeri ini? Entahlah, namun yang jelas rakyat Indonesia sedang kebingungan tentang apa yang sedang terhadap negerinya.

Selasa, 13 September 2016

Problematika Pendidikan Menantang Zaman

Bisma Putra A
Ketua BEM FIP UNY 2016
Dari seluruh rangkaian diskusi tentang pendidikan, dirasakan ada sedikit ketimpangan dalam seluruh aktivitas berfikir yang ada terhadap pendidikan. Jika menilik pada pengertian pendidikan secara sederhana dapat dimaknai sebagai suatu usaha yang direncanakan, disengaja, untuk memanusiakan manusia. Pengertian iut seakan-akan tertelan oleh luasnya cakupan "wacana modern" pendidikan.
Hal yang terkadang dilupakan oleh para praktisi pendidikan adalah membicarakan penerapan-penerapan filosofis terhadap proses pelaksanaan pendidikan itu sendiri. Konsep riil yang merupakan implementasi dari nilai-nilai filosofis pendidikan sesungguhnya sangat dibutuhkan. Hal tersebut bertujuan agar pendidikan menjadi suatu proses "mendidik" kepada peserta didik di lembaga pendidikan. Sehingga tidak melupakan bahwa sesungguhnya semua proses pendidikan itu adalah proses memanusiakan manusia.

Selasa, 31 Mei 2016

Pendidikan sebagai Gerakan Semesta

Pendidikan sebagai Gerakan Semesta
Oleh : Bisma Putra Aprilianta
(Kebijakan Publik Komisariat KAMMI UNY)


Bukan salah Ki Hadjar Dewantara jika semboyan tentang pendidikan yang disampaikannya justru dipakai di negara lain selain Indonesia tercinta. Bukan salah para pendiri bangsa ini pula jika Pancasila ternyata tidak menjadi dasar dari segalanya yang ada di negeri ini termasuk dalam dunia pendidikan. 

Terus salah siapa? Tak perlu dijawab juga karena tulisan ini dibuat bukan untuk mencari kesalahan namun mencoba memberikan satu usul dan saran tentang perbaikan dunia pendidikan Indonesia ke depan. Bicara soal gerakan semesta, maka seharusnya gerakan itu dilakukan di semua tempat, dalam suatu waktu yang sama, dan dalam segala kondisi. Gerakan semesta harus dipahami bukan sebagai pemaksaan kehendak satu pihak atas pihak yang lain namun berlandaskan keinginan yang sama yang berawal dari buah pikiran yang luhur untuk kemajuan bangsa. Dalam dunia pendidikan, gerakan semesta harus fokus pada tujuan besar dan bukan tujuan masing-masing wilayah. Tapi salahkah kalau punya tujuan wilayah? 

Beberapa waktu yang lalu pernah membaca artikel tentang pendidikan di Papua, dalam artikel tersebut sempat membaca ide-ide pikiran ke depan yang diutarakan salah satu pemimpin kala itu. Papua harus punya seribu orang PHD dalam 10 tahun ke depan. Papua harus bisa mengirim anak-anaknya untuk belajar di Harvard atau bahkan MIT. Sukseskah? Ya. Sukses. Kita dapat melihat berita tentang anak-anak Papua yang mulai merambah dunia. Ada yang kuliah di MIT, Harvard, dan beberapa kampus bergengsi internasional lainnya. Jadi tidak ada yang salah mempunyai tujuan wilayah, tapi tujuan wilayah harus menjadi bagian dari tujuan besar yaitu tujuan pendidikan nasional atau bangsa. 

Kesulitannya adalah bangsa ini sangat majemuk. Permasalahan di satu wilayah belum tentu menjadi masalah di wilayah lain. Kesuksesan penerapan satu program di satu wilayah bisa berbuah petaka jika diterapkan di daerah yang lain. Jadi, bagaimana caranya agar gerakan semesta dipahami di setiap wilayah sebagai gerakan luhur yang harus dilakukan bersama-sama? Jawabnya hanya satu. Kembali ke pembelajaran kontekstual. Menurut Elaine B. Johnson (2009) pembelajaran kontekstual adalah suatu sistim pengajaran yang cocok dengan otak yang menghasilkan makna dengan menghubungkan muatan akademis dengan konteks dari kehidupan sehari-hari siswa. Johnson juga menyampaikan delapan komponen utama yang ada dalam pembelajaran kontekstual, yaitu: 

1.Melakukan hubungan yang bermakna (making meaningful connections), sebagai individu yang sedang belajar siswa dapat menemukan minatnya dan memutuskan untuk memilih bekerja sendiri atau berkelompok, relasi dibangun berdasarkan kebutuhan bersama dan tujuan bersama. Dalam hal ini akan terjadi pula proses belajar sambil melakukan (learning by doing) 
2. Melakukan kegiatan-kegiatan yang signifikan (doing significant work), sebagai bagian dari suatu wilayah, bagian dari suatu masyarakat, siswa dapat berusaha menemukan masalah dalam kehidupan nyata dan berusaha mencari solusinya.
3. Belajar yang diatur sendiri (self regulated learning), untuk mencapai tujuannya siswa dapat memahami apa yang dia butuhkan. Siswa dapat mengatur apa yang harus dia pelajari terkait dengan kebutuhan tersebut 
4. Bekerjasama (collaborating), hampir semua masalah yang ditemukan tidak mungkin diselesaikan sendiri. Siswa akan belajar berkomunikasi dengan baik dan juga keterampilan untuk saling mempengaruhi.

Memang tidak semua hal dapat dicapai begitu saja sesuai uraian Johnson, namun semangat pembelajaran kontekstual ternyata sudah membuahkan hasil di beberapa tempat di Indonesia. 

Oh ya? Apa saja? Pernahkah pembaca mendengar atau membaca tentang pendidikan harmoni di Sulawesi Tengah? Siapa yang sudah lupa konflik berbau agama yang terjadi di Poso? Nah, itulah awal munculnya pendidikan harmoni ini. Anak atau siswa diajak untuk mencapai tiga harmoni yaitu harmoni dengan diri sendiri, harmoni dengan sekitarnya, dan harmoni dengan alam. Melalui tiga harmoni ini, sedari kecil anak tidak lagi diajar untuk berkonflik hanya karena beda agama, beda suku, atau beda-beda yang lainnya. 

Konon kabarnya semangat pendidikan harmoni ini sudah tertular ke banyak sekolah di Sulawesi Tengah. Apa lagi? Pernahkan pembaca mendengar atau membaca tentang sekolah hijau di Kalimantan? Tepatnya di daerah Sajingan di dekat perbatasan RI-Malaysia? Nah, awalnya di daerah ini marak dengan pembukaan lahan sawit yang bertubi-tubi. Seolah-olah hanya untuk sawit. Hanya untuk bekerja di kebun orang. Wawasan sempit dan tidak berkembang. Konsep pendidikan menawarkan sesuatu yang lain. Anak bisa belajar dari keterbatasan. Belajar dari apa yang ada yang mereka dapat temukan dari kehidupan sehari-hari. Anak bisa belajar matematika dari menghitung setiap helai guguran daun yang jatuh tiap hari, memantaunya selama beberapa hari, dan kemudian belajar polanya sehingga akhirnya tahu berapa helai daun yang mungkin jatuh pada hari ketujuh. Hebat bukan? Bukan, karena itu hanya pikiran saya sendiri. Tidak ada pengajaran seperti itu. Tapi, kira-kira seperti itulah yang terjadi.

Referensi
1. Urgensi Pendidikan Karakter di Indonesia - Akhmad Muhaimin
2. Ilmu Pendidikan - Dwi Siswoyo dkk
3. Pendidikan dalam Perspektif Globalisasi - Nurani Soyomukti

*#Gerakan Intelektual Profetik*

Find us 📭

👥Facebook : Komisariat KAMMI UNY
🗣Twitter : @kammiuny
📸Instagram : @kammiuny
📚Website : uny-kammi.blogspot.com
💌Email : kammikomsatuny@gmail.com

Wujudkan Cita-Cita Reformasi Pendidikan Indonesia

Wujudkan Cita-Cita Reformasi Pendidikan Indonesia
Oleh : Bisma Putra Aprilianta

dalam Diskusi Kebijakan Publik Komisariat KAMMI UNY
Gaza, Karangmalang Blok B19A
Rabu, 18 Mei 2016
16.00

Pendidikan merupakan usaha yang dilakukan dengan sengaja dan sistematis untuk mendorong, membantu serta membimbing seseorang untuk mengembankan segala potensinya sehingga ia mencapai kualitas diri yang lebih baik. Hal ini berarti berbagai masalah kehidupan manusia menjadi masalah global atau setidaknya tidak dapat dilepaskan dari pengaruh kejadian dibelahan bumi yang lain, baik masalah politik atau sosial. Kesetiakawanan semakin kental berarti kepedulian umat manusia terhadap sesamanya semakin merupakan tugas setiap manusia, pemerintah, sistem pendidikan nasional.
Reformasi memiliki arti yaitu perubahan radikal untuk perbaikan dalam bidang sosial, politik atau agama di dalam suatu masyarakat atau Negara. Orang-orang yang melakukan atau memikirkan reformasi itu disebut reformis yang tak lain adalah orang yang menganjurkan adanya usaha perbaikan tersebut tanpa   kekerasan. Usaha-usaha untuk mementingkan nilai-nilai kemanusiaan dalam pendidikan telah melahirkan kembali pendekatan pendidikan yang mementingkan pengembangan kreatifitas dalam kepribadian anak. Inilah yang disebut gerakan humanisasi dalam proses pendidikan yang sedang kondang dibanyak Negara, baik Negara maju maupun Negara berkembang. Gerakan humanisasi ini meminta reformasi yang mendasar dalam pendidikan baik dalam metodologi belajar mengajar, kepada manajemen sampai kepada perencana pendidikan.
Saat ini fokus kerja-kerja pemerintah masih bertumpu pada sektor pendidikan formal. Untuk kinerja itupun pemerintah Indonesia, menurut data dari UNDP (United Nations Development Programs) dalam “Human Development Report 2015” untuk kualitas pembangunan manusia diganjar peringkat 108 dari 177 negara didunia. Potret UNDP itu sebangun dengan data BPS (Biro Pusat Statistik) tahun 2015 tentang angka penangguran menurut pendidikan dan wilayah desa-kota: persentase pengangguran tamatan SMA ke atas lebih besar disbanding tamatan SMP kebawah. Artinya, sistem pendidikan nasional belum berhasil mengantarkan anak bangsa untuk  survive mandiri dan terampil berwiusaha untuk kelangsungan hidupnya sendiri. Laporan terbaru Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD), Education at Glance 2015 Indonesia mendapati peringkat 2 di dunia angka putus sekolah setalah China dengan presentasi 60%.
Diantara permasalahan pelik tentang kondisi pendidikan dinIndonesia tentu saja aspek moral tidak boleh dilupakan. Sekolah adalah tempat menumbuhsuburkan nilai-nilai luhur dalam diri aanak bangsa  yang menjadi peserta didik. Tawuran perilaku asusila sebagian oknum pelajar/ mahasiswa adalah cermin belum terimplementasikannya amanat UUD 1945 dan UU system pendidikan  nasional tentang nilai-nilai agama. Kegiatan sekolah lebih besar porsinya untuk pengajaran. Padahal pengajaran tanpa bingkai pendidikan moral hanya menciptakan orang pintar yang kehilangan arah dari hakikat kemuliaan eksistensinya sebagai makhluk mulia yang bertakwa kepada tuhan yang maha esa.
Tujuan reformasi pendidikan nasional  memiliki agenda strategis yang harus dilakukan untuk memperbaiki dan membangun dunia pendidikan, diantaranya :
1.      Melakukan pembangunan sisitem pendidikan nasional yang komprehensif, integratif dan aplikatif.
2.      Meningkatkan wajib belajar dari sembilan tahun menjadi dua belas tahun.
3.      Meningkatkan kompetensi, kesejahteraaan dan perlindungan terhadap profesi guru.
4.      Mengawal realisasi anggaran pendidikan yang besarnya 20% dari total APBN.
5.      Melakukan monitoring dan evaluasi system terhadapberbagai aspek onsep dan operasional sistem pendidikan nasional.
6.      Menerapkan desentralisasi penyelenggaraan pendidikan.
7.      Meninkatkan kualitas pengelolaan manajemen sekolah.
8.      Terselenggaranya pendidikan yang terjangkau dan bermutu.
9.      Memberi perhatian yang khusus pada anak ABK di dunia pendidikan.

Karena itu, untuk tercapainya reformasi pendidikan secara komprehensif tentu seluruh komponen bangsa haurs bersatu padu dan meningkatkan komitmen untuk merumuskan merealisasikan kebijakan peningkatan mutu pendidikan. Sebab, pembangunan dan penyelenggara pendidikan nasional yang benar dan efektif merupakan amanat konsttusi sekaligus tuntutan zaman yang tak bisa dielakan.tanpa itu, bangsa besar ini akan masuk dalam daftar sejarah sebagai bangsa yang kalah dan musnah. Termasuk mereformasi di satu aspek yang didalamnya menentukan arah paradaban dunia kedepan.

Senin, 02 Mei 2016

PENDIDIKAN DAN POLITIK



Oleh: Bisma Putra Aprilianta
Kebijakan Publik Komisariat KAMMI UNY 2016
Ketua BEM FIP UNY 2016

Sejatinya pendidikan adalah usaha yang disengaja untuk mengembangkan potensi sumber daya manusia yang mampu menjawab tantangan kehidupan dan dapat memaknai kehidupan, baik pribadinya maupun untuk masyarakatnya. Secara teoritis, pendidikan harus mencakup empat aspek yakni : learning to know, learning to be, learning to do and learing to live together.

Diskusi : Benarkah Pemerintah sudah memberikan jaminan?





Kajian Diskusi tentang Kondisi Pendidikan Tinggi Nasional
Benarkah Pemerintah sudah memberikan jaminan?

Tanggal: 29 Maret 2016
Tempat: Gedung IEC Lt.2, UNY

Penyaji:
1. Deni Hardianto, M.Pd.
2. Ficky Fristiar, S.Pd.




Penyaji Pertama,
Sebenarnya ketika berbicara pendidikan, maka masalah yang sering terjadi ialah berkaitan dengan pembiayaan dan aksesibilitas. Perguruan Tinggi, sejak dikeluarkan UU no 12 tahun 2012. Perguruan tinggi itu berbadan hukum, jadi dia otonom. Punya karakter dan ciri khas masing-masing.

Jumat, 22 April 2016

Mother Nature

Album : K'SEH
Munsyid : Shaff-Fix


Bila hutan yang hijau telah gersang ?
Bila kicau burung hanya terkurung ?
Bila bening sungai berganti kelam ?
Bila nyanyian alam menjadi hilang ?


Kemana kita harus pergi ?
Dimana kita kan mencari ?

Kerusakan di muka bumi karena tangan-tangan manusialah semata
Dan manusialah yang akan merasakan akibatnya
Let?s start to care and love mother nature

Bila mentari tertutup asap hitam ?
Bila udara tak lagi menyegarkan ?
Bila kehidupan tak pedulikan alam ?
Bila semua hanyalah keegoisan ?
Kemana kita harus pergi ?
Dimana kita kan mencari ?

Apakah kesadaran kita baru terjaga
Ketika kekuatan alam telah menurunkan bencana
Segeralah berbenah di waktu yang tersisa ?


Let?s start to care and love mother nature
Now let?s start to care and love mother nature


#Selamat Hari Bumi,
#MariRefleksi
#GerakanIntelektualProfetik


Kamis, 21 April 2016

Perempuan Hari Ini

Perempuan Hari ini

oleh Viki Adi N
(Kebijakan Publik Komisariat KAMMI UNY)



Masih dalam suasana hari Kartini dimana sebagian masyarakat kita masih membumikan tradisi-tradisi peringatan dari yang biasa sampai yang luar biasa. Masih dalam suasana hari “keteladanan” perempuan. Kita yakin bahwa masih banyak perempuan yang berjasa dalam membesarkan bangsa ini selain Ibu Kartini. Mari sejenak “menskip” hal itu, tentu bukan untuk melupakan sejarah, karena sejarah itu penting.

Namun marilah sejenak kita merenungi, di hari perempuan ini sebuah refleksi masalah apa yang sedang terjadi di Indonesia. Masalah apa yang terjadi pada perempuan Indonesia.
Komnas Perempuan mencatat 16.217 kekerasan terhadap perempuan pada tahun 2015. (baca: kompas [7 maret 2016] atau Siaran Pers Komnas Perempuan Catahu 2016) diungkapkan bahwa kekerasan terhadap perempuan semakin meluas. Khususnya dalam ranah personal kasus ini meluas sangat banyak dan ini lah yang paling banyak, ada pula masalah komunitas, dan beberapa juga terkait negara.

Belum lagi terkait masalah pribadi, dimana masalah “harga diri” perempuan sepertinya semakin kesini semakin menurun. Seperti dikutip dari CNN, Psikolog anak dan remaja Vera Itabiliana mengatakan bahwa benang merah masalah perempuan selalu berkutat pada self esteem (harga diri).
Bahkan self esteem ini akan menyangkut dalam hal fisik. Berdasarkan data yang diungkapkan oleh beliau, tahun 2013 sebanyak perempuan 33% di dunia mengaku tidak bahagia dengan bentuk fisiknya. Dan angka ini cenderung naik dari tahun ke tahun.

Ini ketika bicara dunia, apalagi di Indonesia yang bisa kita lihat bahwa proses westernisasi akibat globalisasi dari kemajuan teknologi sangat besar. Memang benar adanya seperti itu. Fisik perempuan menjadi barang eksploitasi perdagangan. Semua bermula dari harga diri. Penampilan menjadi keutamaan.

Coba kita amati saja sekilas, kita bisa menarik benang merahnya. Mulai dari masalah “personal”, “komunitas”, bahkan mengerucut pada “harga diri”. Setidaknya disini kita mengerti bahwa benar upaya perbaikan memang seharusnya dimulai dari tingkatan individu. Berarti dalam hal ini ialah perempuan.

Wajar harga diri menjadi rendah, karena memang dalam suasana pembentukan global dalam dunia ini sedang gencar-gencarnya namun tidak ada keseimbangan filter. Maka hendaknya sebagai manusia yang “katanya” memanusiakan manusia atau bahasa kerennya ialah humanisasi, pantaskah kita melihat ini sebagai hal biasa? Maka hendaknya sebagai manusia yang “katanya” adalah mahluk yang merdeka atau bebas, pantaskah kebebasan menoreh luka? Maka hendaknya manusia mengembalikan semua pada fitrahnya, bahwa pembinaan moral untuk manusia adalah hal yang utama. Bahwa pembinaan pada agama ialah yang utama.

Mengembalikan konsep pembinaan perempuan dalam moral agama menjadi hal utama dewasa ini. Sehingga fitrah perempuan tidak ternodai oleh nilai westernisasi yang jelas bisa kita lihat bahwa itu tidak sesuai dengan ideologi bangsa kita. Mari bangkitkan kembali nilai-nilai profetik dalam pembinaan perempuan.

Selamat hari Kartini, selamat berjuang!
#Mari lakukan perbaikan bersama

#GerakanIntelektualProfetik

Selasa, 29 Desember 2015

Kredo Gerakan Kammi Dan Filosofinya




KREDO GERAKAN KAMMI
1. Kami adalah orang-orang yang berpikir dan berkendak merdeka. Tidak ada satu orang pun yang bisa memaksa kami bertindak. Kami hanya bertindak atas dasar pemahaman, bukan taklid, serta atas dasar keikhlasan, bukan mencari pujian atau kedudukan.
2. Kami adalah orang-orang pemberani. Hanyalah Allah yang kami takuti. Tidak ada satu makhluk pun yang bisa menggentarkan hati kami, atau membuat kami tertunduk apalagi takluk kepadanya. Tiada yang kami takuti, kecuali ketakutan kepada selain-Nya.
3. Kami adalah para petarung sejati. Atas nama al-haq kami bertempur, sampai tidak ada lagi fitnah di muka bumi ini. Kami bukan golongan orang yang melarikan diri dari medan pertempuran atau orang-orang yang enggan pergi berjihad. Kami akan memenangkan setiap pertarungan dengan menegakkan prinsip-prinsip Islam.
4. Kami adalah penghitung risiko yang cermat, tetapi kami bukanlah orang-orang yang takut mengambil risiko. Syahid adalah kemuliaan dan cita-cita tertinggi kami. Kami adalah para perindu surga. Kami akan menyebarkan aromanya di dalam kehidupan keseharian kami kepada suasana lingkungan kami. Hari-hari kami senantiasa dihiasi dengan tilawah, dzikir, saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran, diskusi-diskusi yang bermanfaat dan jauh dari kesia-siaan, serta kerja-kerja yang konkret bagi perbaikan masyarakat.Kami adalah putra-putri kandung dakwah, akan beredar bersama dakwah ini ke mana pun perginya, menjadi pembangunnya yang paling tekun, menjadi penyebarnya yang paling agresif, serta penegaknya yang paling kokoh.
5. Kami adalah orang-orang yang senantiasa menyiapkan diri untuk masa depan Islam. Kami bukanlah orang yang suka berleha-leha, minimalis dan loyo. Kami senantiasa bertebaran di dalam kehidupan, melakukan eksperimen yang terencana, dan kami adalah orang-orang progressif yang bebas dari kejumudan, karena kami memandang bahwa kehidupan ini adalah tempat untuk belajar, agar kami dan para penerus kami menjadi perebut kemenangan yang hanya akan kami persembahkan untuk Islam.
6. Kami adalah ilmuwan yang tajam analisisnya, pemuda yang kritis terhadap kebatilan, politisi yang piawai mengalahkan muslihat musuh dan yang piawai dalam memperjuangkan kepentingan umat, seorang pejuang di siang hari dan rahib di malam hari, pemimpin yang bermoral, teguh pada prinsip dan mampu mentransformasikan masyarakat, guru yang mampu memberikan kepahaman dan teladan, sahabat yang tulus dan penuh kasih sayang, relawan yang mampu memecahkan masalah sosial, warga yang ramah kepada masyarakatnya dan responsif terhadap masalah mereka, manajer yang efektif dan efisien, prajurit yang gagah berani dan pintar bersiasat, prajurit, diplomat yang terampil berdialog, piawai berwacana, luas pergaulannya, percaya diri yang tinggi, semangat yang berkobar tinggi.

FILOSOFI GERAKAN KAMMI

ASAS KAMMI
KAMMI berasaskan Islam

VISI KAMMI
Wadah perjuangan permanen yang akan melahirkan kader-kader pemimpin bangsa masa depan yang tangguh dalam upaya mewujudkan masyarakat Islami di Indonesia.

MISI KAMMI
1. Membina keislaman, keimanan, dan ketaqwaan mahasiswa muslim Indonesia.
2. Menggali, mengembangkan, dan memantapkan potensi dakwah, intelektual, sosial, dan politik mahasiswa.
3. Mencerahkan dan meningkatkan kualitas masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang rabbani, madani, adil, dan sejahtera.
4. Memelopori dan memelihara komunikasi, solidaritas, dan kerjasama mahasiswa Indonesia dalam menyelesaikan permasalahan kerakyatan dan kebangsaan.
5. Mengembangkan kerjasama antar elemen masyarakat dengan semangat membawa kebaikan, menyebar manfaat, dan mencegah kemungkaran (amar ma`ruf nahi munkar).

PRINSIP GERAKAN KAMMI
1. Kemenangan Islam adalah jiwa perjuangan KAMMI
2. Kebathilan adalah musuh abadi KAMMI
3. Solusi Islam adalah tawaran perjuangan KAMMI
4. Perbaikan adalah tradisi perjungan KAMMI
5. Kepemimpinan umat adalah strategi perjuangan KAMMI
6. Persaudaraan adalah watak muamalah KAMMI

Jumat, 22 Mei 2015

Pers Release aksi memperingati 17 tahun Reformasi

KESATUAN AKSI MAHASISWA MUSLIM INDONESIA 
KOMISARIAT UNIVERSITAS GADJAH MADA
17 Tahun Reformasi Indonesia

Sudah 17 tahun yang lalu bangsa Indonesia mengalami masa terburuk dalam sejarah pemerintahan yang pada saat itu di duduki oleh presiden Soeharto, Presiden yang duduk di kursi pemerintahan selama 32 tahun dan telah membangun begitu banyak perubahan pada Negara Indonesia dengan menggunakan dana hutang yang sampai pada saat ini masih di rasakan oelh rakyat Indonesia. Total jumlah hutang yang menjadi beban Indonesia pada saat itu USD 171 Miliar yang menyebabkan krisis moneter pada tahun 1996 dan puncaknya pada tahun 1998. Nila Rupiah semakin  melemah dan pada saat itu mahasiswa mengadakan demo besar-besaran yang membuat Soeharto turun dari kursi kepemimpinannya.

17 tahun sudah sejarah reformasi, namun hingga saat ini tidak banyak perubahan yang terjadi pada bangsa ini. Rakyat miskin jumlahnya masih sangat banyak, pendidikan yang belum merata, harga barang yang semakin mencekik, dan banyak kebijakan pemerintah ang tidak mensejahterakan rakyat di berbagai aspek. Di sisi lain, campur tangan asing untuk menjajah negri ini membuat rakyat seakan tidak memiliki negrinya sendiri. Lantas, setelah 17 tahun berlalu, milik siapakah negri yang kaya ini?

Indonesia negri yang kaya raya, karena kekayaannya itulah negri ini berwarna bagaikan pelangi indah yang membentang luas dari Sabang hingga Merauke. Namun sekarang pelangi itu sedang redup karena tidak dikelola dengan baik. Oleh karena itu, pada hari ini 21 Mei 2015 Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia mengadakan aksi untuk memperingati 17 tahun reformasi yang memiliki tema pelangi reformasi yang menggambarkan bahwa pemikiran reformasi saat ini banyak mengalami perkembangan sejalan dengan majunya teknologi informasi dan berkembangnya pemikiran orang-orang Indonesia. Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia Universitas Gadjah Mada mengajukan tuntutan “SAPTA REFORMASI INDONESIA 2015” yaitu tujuh tuntutsn reformasi yang harus di lakukan oleh pemerintah pada saat ini dengan rincian:
1.       Reformasi Lembaga Independen Negara
Lembaga Independen yang seharusnya memiliki ke-netral-an dalam melakukan segala kebijakan yang berkaitan dengan fungsinya sebagai lembaga independent. Yang sudah kita ketahui bahwa lembaga independent sekelas Mahkamah Konstitusi diketuai oleh anggota salah satu partai nasional yang dilantik langsung oleh presiden. Ini mengindikasikan adanya campur tangan kepentingan politik yang masuk dalam ranah Lembaga Independent yang harus diubah dan diperbaiki sepenuhnya.
2.       Reformasi Peraturan Pendidikan
Pendidikan adalah sarana yang paling baik untuk menanamkan sebuah ideology kepad seseorang yang kita kehendaki dan pendidikan juga dapat membuat bangsa ini mampu bersaing di ranah dunia dan membawa nama baik bangsa ini. Dari dunia inilah muncul seorang motivator-motivator muda penggagas pembaruan di muka bumi ini. Bahkan dalam kemerdekaan Indonesia para pelajar juga mengambil bagian dalam prosesnya. Di dalam dunia perkuliahan mahasiswa juga di tuntut untuk memikirkan negaranya dan kebijakan-kebiajakan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Namun, sekarang mahasiswa dipersempit pergerakannya dengan membatasi masa studi kuliah, apakah ini cara lain pmerintah untuk menumbuhkan bibit anti-sosial kepada generasi masa depan ataukah ini cara pemerintah untuk membungkam Mahasiswa.
3.       Reformasi Susunan Kabinet
Sebuah Negara yang besar harus dipimpin oleh pemimpin yang besar itu adalah kutipan dari kata-kata pemuda di masa lalu. Namun, ini berlawanan sekarang jika kita merujuk ke cabinet pemerintahan yang dibentuk oleh presiden kita, Ir. Joko Widodo, begitu mudahnya beliau memilih mentrinya dengan kepentingan politik dan kini sudah berencana mereshuffle kabinetnya. Ini menunjukkan tidak profesionalnya seorang presiden kita menentukan wakilnya di masing-masing kementrian untuk melaksanakan tugas yang baik dan dapat diterima oleh rakyat.
4.       Reformasi supremasi hukum Indonesia
Hukum adalah cara terbaik untuk menyelesaikan sebuah perkara atau kasus yang terjadi dimanapun kita berada. Hukum adalah alat terkuat untuk menirikan keadilan di Indonesia ini. Namun sekarang hukum dijadikan lading bisnis bagi oknum-oknum di dalamnya dan tidak adanya pengawasan oleh pemerintah yang menindaklanjuti masalah ini, bagaikan tombak yang tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Hanya orang yang memiliki lembaran rupiah yang banyak yang bisa menghirup udara bebas ketika mereka melakukan sebuah kesalahan.
5.       Reformasi kebijakan
Kebijakan yang diterapkan pada pemerintah saat ini mengedepankan kepentingan asing dengan dalih agar bisa bersaing di MEA 2015. Pemerintah membuka seluas-luasnya kesempatan investor asing dan memperkecil investor local karena kurang kesiapan rakyat Indonesia sendiri dan tidak adanya kebijakan yang melindungi kepentingan bangsa sendiri maka akan semakin terpuruknya rakyat di negri sendiri dan hanya bisa menjadi penonton di tengah panggung lakon penonton di tengah panggung sandiwara.
6.       Reformasi Politik
Politik di Indonesia seperti wadah empuk ajang pencarian kekuasaan dan juga wadah empuk untuk menjaga eksistensi perusahaan dan melindunginya dengan kebijakan-kebijakan yang dihasilkan oleh wakil rakyat. Perpolitikan di Indonesia sudah mencapai batas ketidakwajaran, bahkan pemerintah mengintervensi ranah yang seharusnya tidak boleh diintervensi. Apakah Indonesia akan dijadikan boneka kaum-kaum penguasa?
7.       Reformasi Kepemimpinan
Pada tuntutan terakhir tentang reformasi kepemimpinan ini, KAMMI UGM menuntut sikap dari presiden kita Ir. Joko Widodo agar tegas dalam segala bidang di pemerintahan dan tidak ada lagi alasan apapun untuk melupakan mandate yang diberikan kepada beliau untuk mensejahterakan rakyat dan memberikan penghidupan yang layak untuk seluruh masyarakat yang  berwarganegara Indonesia.


Dengan ke-tujuh masalah yang harus direformasi kembali ini, maka Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia Komisariat UGM menyatakan sikap untuk menyelesaikan SAPTA REFORMASI INDONESIA:
1.       Reformasi lembaga Independen Negara dengan melepaskan dari kepentigan politik tertentu
2.       Reformasi Peraturan Pendidikan dengan melepaskan pendidikan dari kapitalisme, dan menghapuskan pembatasan masa studi 5 tahun.
3.       Reformasi susunan cabinet, dengan memprioritaskan sumber daya professional dan melepaskan kepentingan politik.
4.       Reformasi Supremasi hukum dengan membersihkan institusi hukum Indonesia dari oknum-oknum nakal dan suap-menyuap
5.       Reformasi kebijakan dengan memperhatikan kebutuhan rakyat dan menghilangkan kepentingan politik golongan
6.       Reformasi politik dari kepentingan penguasa dan kepentingan asing
7.       Reformasi kepemimpinan dengan wibawa NKRI.

Dengan Ketujuh reformasi ini diharapkan Indonesia akan kembali lagi berdiri tegak di atas Negara-negara besar lain dan tidak dianggap remeh oleh mereka dan rakyat akan mendapatkan kesejahteraan yang seharusnya mereka dapatkan sesuai dengan UU no. 11 tahun 2009 dan kesetaraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia tanpa membedakan ras, golongan agama dan kekayaan.
Sleman, 21 Mei 2015

KAMMI UGM
© Blog Komisariat KAMMI UNY
Maira Gall