Selasa, 07 Mei 2013


BIDADARI KECIL
(Asih)

Langit hari ini berwarna jingga. Namun tak indah, justru warna yang menggambarkan kepedihan di tengah terik yang membakar. Kepulan asap yang membumbung sisa lemparan geranat dua jam yang lalu masih tebal, angkuh menari mengusir unsur udara yang lain.
Di sebuah bangunan yang sudah tak dapat lagi disebut bangunan, dua orang berseragam menyandra seorang anak perempuan usia enam tahun. Seorang diantara mereka tampak dengan sibuknya mengepulkan asap rokok dari mulutnya. Sesekali ia semburkan asap pengap itu ke muka orang berseragam di sampingnya yang tampak berjaga-jaga. Yang disembur diam saja, mungkin bawahannya. Beberapa saat kemudian seseorang dengan pakaian biasa datang ke tempat itu.
“Selamat datang, Dave...” si perokok itu menyapanya dingin.
“sudah kuduga kau akan datang untuk gadis kecilmu ini,” lanjutnya.
“Apa kabar, George?” tanya balik lelaki itu.
“Tentu sangat jauh lebih baik darimu, Dave” senyumnya menyeringai, angkuh dan dingin.
“Kau salah George, aku yang jauh lebih baik darimu.Sekarang aku bebas.Tidak lagi menjadi robot sepertimu”
“Sudahlah Dave, hentikan omong kosongmu!Sebentar lagi kau tidak akan bebas. Kau hanya ada dua pilihan. Kembali pada kami atau mati...”
“Aku lebih baik mati dari pada kembali pada sekumpulan orang berhati binatang seperti kalian. Aku juga yakin sebenarnya kau pun muak pada para atasanmu, tapi kau tidak berani membantah. Kau takut dibunuh.Iya kan, pecundang?” David tersenyum mencaci.
George mulai geram, ia lemparkan puntung rokok di tangannya kemudian sepatunya menggilas dengan amarah.
“Keparat…..jaga mulutmu!!”
George memberikan isyarat pada anak buahnya untuk menyerahkan anak perempuan itu pada George. Dua detik kemudian anak itu telah ada pada dekapan George, dengan sebuah pistol diarahkan tepat ke kepala anak itu.
“Paman Dave, aku tidak apa-apa,” kata anak itu tersenyum menenangkan.
“Iya, sayang. Sebentar ya, paman akan menolongmu.” Kata David dengan nada yang sangat hangat. Kuat sekali gadis kecil itu.
“Ah…dramatis sekali kalian. Kau membuang waktuku Dave, seharusnya hari ini pelantikan kenaikan jabatanku kalau saja aku tidak di perintahkan untuk menangkapmu,” matanya angkuh.
“Apa peduliku? Sekarang, serahkan anak itu!”
“Apa istimewanya anak ini Dave, hingga kau rela melepaskan posisimu sebagai prajurit terbaik, dan menjadi buronan”
“Yang jelas sangat jauh lebih berharga daripada manusia busuk sepertimu!”
***
Ya, Aisyah. Bagi David anak itu memang sungguh berharga. Tepatnya sekitar satu bulan yang lalu, saat tentara Israel, berpatroli di bumi Gaza. David saat itu kehabisan amunisi, lengannya terserempet belati kecil lontaran anak Gaza dan parahnya ia ditinggalkan begitu saja oleh kelompoknya. Ia hanya bisa mengumpat kesakitan. Tanpa diduga seorang gadis kecil berkerudung putih datang menghampirinya. Jika ditaksir kira-kira usianya enam tahunan. Apa yang ia lakukan? Membalut luka David.
“Paman sedang apa di sini?” tanyanya tenang sembari membersihkan luka David.
“E…..e….tidak, hanya sedang jalan-jalan,” David gagap, ia tahu itu adalah jawaban yang sangat konyol.
“Aku tahu, Paman dan teman-teman Paman akan membunuh kami, kan?” lagi-lagi anak itu tersenyum tenang.
“Ap…apa? Lalu kenapa kau menolongku?” David terkejut, ia sadar pertanyaannya terlalu dini untuk ditanyakan pada anak sekecil itu.
“Kata Ayah, sesama manusia itu harus saling tolong-menolong,” katanya polos.
Sesederhana itukah alasannya? Bahkan anak itu mau menolong orang yang mungkin nantinya justru akan membunuhnya. Semulia itukah anak-anak Gaza? David mulai berfikir dan meresapinya dengan hati. Kejadian sederhana dan kalimat sederhana dari seorang bocah yang membuatnya sadar dan malu.
Selama ini memang nuraninya memberontak, ia tidak pernah dengan sepenuh hati melakukan pekerjaannya. Tapi ia juga memperhitungkan resiko. Ia pasti akan dibunuh jika membelot. Pasti. Dan ia belum siap mati. Tapi itu dulu. Dulu sebelum hatinya benar-benar dipermalukan oleh gadis kecil yang baru saja ia temui, ia benar-benar merasa dipecundangi. Setelah mengenal gadis kecil itu, sedikit demi sedikit ia buang sikap dinginnya. Diam-diam ia mulai sering mengunjungi anak itu tanpa sepengetahuan atasannya. Bahkan ia juga mengunjungi keluarga dan kerabat anak itu yang tentunya sudah tak utuh lagi. Awalnya memang David kurang begitu diterima karena statusnya sebagai tentara Israel. Tapi kemudian ia diterima, entah dengan alasan apa, mungkin memang seperti itulah watak orang Gaza. David mulai merasakan kehangatan yang bahkan seumur hidup baru kali ini dia dapatkan. Berbeda dan lebih bermakna.
***
Negosiasi antara David dan George masih alot. Tenang, tapi dingin.
“Bagaimana jika anak ini aku bunuh saja?”
“Sederhana saja, aku juga akan membunuhmu dan seluruh anak buahmu, bahkan kalau perlu Jendralmu yang terhormat itu juga bisa mati di tanganku” kata David tenang, tapi sungguh hatinya bergemuruh tak rela.
“Aaarrgggh….sekarang hanya ada dua pilihan, kau kembali atau anak ini mati” George semakin kuat mencengkeram Aisyah, pistolnya masih setia di pelipis kepala.
“Duarrrr….!” bunyi pistol memuntahkan peluru.
David memuntahkan peluru dari pistolnya dengan tiba-tiba. Tepat menyerempet lengan kiri George, darah hangat mulai mengucur dari lapisan kulitnya yang terbalut kain tebal khas prajurit. Secara reflek ia pegangi lengannya, Aisyah terlepas terpelanting ke salah satu sudut ruangan. Dengan sigap, David menangkap anak itu dan melindunginya di balik badannya.
“Bodoh……. Kenapa kau diam saja?!” umpat George kepada anak buahnya yang sama sekali tidak tanggap.
“Haha…. Apa ku bilang, robot, menunggu komando majikan,” ejek David sambil tetap siaga mengacungkan pistolnya.
“Sayang, kau harus pergi dari sini, keluarlah, disini berbahaya,” pinta David pada gadis kecil kesayangannya.
“Tapi, Paman….”
“Sudah, sekarang lari dari sini….” Aisyah menuruti perintah David, ia berlari keluar. Tapi sebelum sampai di luar, anak buah George melepaskan satu tembakan hingga tepat mengenai kaki kiri Aisyah.  Seketika darah segar mengucur.
“Aaawww….” Pekiknya kesakitan.
“Kurangajar…….!!!!” Mata David memerah, marah.
Dilepaskannya dua tembakan timah panas tepat di dada kiri anak buah George. Tapat di jantung, seketika itu pula ia mati. Kemampuan menembak David memang tak diragukan lagi. Wajar karena dia memang seorang prajurit terbaik calon Jendral. Kalau ia tidak membelot.
Kini giliran George melepaskan tembakan saat David tengah terkonsentrasi pada luka Aisyah. Lontaran timah panasnya mengenai lengan kanan David. David memekik menahan sakit. Didekapnya erat gadis kecilnya agar tak terluka lagi.
“Paman, aku baik-baik saja” dalam keadaan seperti ini masih sempat ia berkata menenangkan, mungkin memang sepertu ini mental orang-orang Gaza.
George kembali siaga menembak, sebelum dengan sigapnya David mengambil selempeng pisau lipat di sepatunya, kemudian melempar hingga menancap tepat pada tangan kanan George. Pistolnya terlepas. Ia hanya bisa mengumpat, melontarkan segala sumpah serapahnya sambil bersusah payah mencabut pisau di tangannya. Darah kembali deras mengucur.
George tak kehilangan akal, diambilnya pistol cadangan yang memang sengaja ia selipkan di punggungnya. Dimuntahkan pelurunya kearah Aisyah yang masih kepayahan, dan kali ini mengenai lengan kanannya. Aisyah kembali kesakitan, tapi ditahannya.
“Hahaha…..bagaimana Dave? Mau lagi?” kelakarnya dingin dan hampa.
David semakin diburu amarah. Sialnya amunisi pistol yang dimilikinya habis. Diambilnya bongkahan batu bata yang cukup besar kemudian menyeret langkahnya ke arah George. George sadar jiwanya terancam hingga kemudian ia memutuskan melepaskan beberapa tembakan kearah David. Kini kaki kiri, lengan, perut dan bahunya dipenuhi lubang yang memancarkan cairan merah segar. Tapi kakinya tak berhenti melangkah sampai ia mendapatkan leher George. Ia pukulkan sekeras-kerasnya batu yang ia pegang dengan amarah yang tinggi. Kepala George berdarah-darah. Namun ia masih punya kesempatan untuk membalas, dipukulnya kepala David dengan pistol yang digenggamnya. David tampak kehabisan darah, ia ambruk. George tertawa penuh kemenangan, tawa yang menjijikan. Ia lengah dari kewaspadaannya hingga tanpa disadari David telah mengambil pistolnya yang terjatuh. Dalam hitungan detik di kepala George telah tercipta lubang yang mengucurkan darah nista. Dan dalam hitungan detik pula dapat dipastikan orang itu mati.
David cepat teringat pada gadis kecilnya yang masih terkapar kesakitan, darah yang dikeluarkannya cukup banyak. Ia tahu apa yang harus ia lakukan. Ia kumpulkan sisa tenaganya untuk membopong Aisyah ke perkampungan, atau setidaknya tempat yang ada cukup banyak orang untuk dimintai tolong. Lima ratus meter kali ini terasa sangat jauh bagi David. Tidak seperti biasanya ia bisa melahap berpuluh kilometer saat latihan militer, tapi kali ini keadannya berbeda. Terkadang jalanan terasa gelap, kemudian berubah warna menjadi oranye, kemudian berubah lagi seolah beribu serangga terbang di hadapannya. Matanya mulai berkunang-kunang, keringat dinginnya membanjir. Seratus meter lagi, tapi raganya sudah tidak menyanggupi. Langkahnya semakin terseok dan melemah hingga akhirnya ia ambruk di bawah pohon yang tidak terlalu tinggi. Segerombol orang melihatnya lalu mulai berisik, berteriak. David tidak mendengarnya dengan jelas, terakhir yang ia dengar adalah
“Bawa tandunya ke mari, cepat!”
Dan tiba-tiba semuanya gelap.
***

Inilah Islammu


Manusia adalah mahluk paling sempurna yang diciptakan oleh Tuhan jika dibandingkan dengan mahluk lainnya.Kelebihan manusia ialah mempunyai akal sedang kekurangannya adalah ketika ia tidak bisa mengendalikan nafsu yang di dewakannya.Lantas,apa bedanya manusia dengan binatang?
            Ketika manusia sudah terlahir di dunia, ia bebas menentukan agamanya masing-masing.Ibaratnya,setiap manusia mempunyai dua pilihan,antara lain pilihan yang baik danyang buruk.Apabila sudah memilih salah satu diantara pilihan itu pasti ada pilihan-pilihan yang lainnya. Entah itu yang kanan atau yang kiri, mau yang lurus atau berbelok, turunan atau tanjakan seperti inilah jalan kehidupan, kita selalu dihadirkan dengan sebuah pilihan yang mentukan untuk ke depannya. Dalam hal ini bagaimana seorang manusia menentukan   sebuah agama yang terbaik ketika ia lahir sampai ia menuju ke liang lahat dan ia sanggup untuk mempertahankannya tanpa mengharapkan harta, jabatan, bahkan ucapan terima kasih? Bagaimana seorang manusia menentukan   sebuah agama sekalipun yang diharapkannyahanya balasan dari Tuhannya kelak ketika di akhirat?
            Islam merupakan agama penuntun bagi yang tersesat.Ia merupakan secercah cahaya dalam kegelapan. Islam merupakan agama penyempurna dari yang kurang sempurna.Ketika Islam belum datang di kota Mekkah,penduduk sekitar masih dalam keadaan jahiliyyah.Bahkan kedudukan seorang wanita sangat direndahkan. Kulturnya masih menyembah berhala dan masih banyak lagi  kegiatan-kegiatan buruk yang dilakukan penduduk Mekah. Ketika Islam datang, banyak sekali yang menentang agama ini namun ada pula yang menerima. Lama –kelamaan islam telah menjelma menjadi agama yang sangat ditakuti oleh musuhnya. Islam telah mengatur semua yang ada di dalam kehidupan sehari-hari mulai dari tidur  malam sampai tidur malam berikutnya, bahkan sampai sistem pemerintahan pun islam telah mengatur semuanya. Cotohnya saja, ada sebagian orang yang tidak setuju dengan adanya demokrasi karena kekuasaan tertinggi berada di tangan rakyat. Sistem ini dianggap menyimpang dari islam pada era sekarang.Apabila ada suatu negara yang menyatakan diri sebagai negara Islam, pihak-pihak yang kontra dengan Islam tidak akan tinggal diam dengan melakukan invasi militer ataupun dengan memecah belah kesatuan negara tersebut untukkarena itu dalam sistem demokrasi merupakan hal yang sangat bersejarah bagi islam untuk mengambil alih kekuasaan tanpa harus terjadi pertumpahan darah dan sebagainya. Sebelumnya di Indonesia diterapkan mulai dari VOC, komunis, dan Absolutisme sistem ini yang membuat islam sukar berkembang.Oleh karena itu di zaman Demokrasi ini dimana manusia diberikan hak kebebasan untuk berpendapat,muslim berjihad dengan argumentasi dan strategi-strategi untuk melanjutkan kereta dakwah ini.
            Risalah yang dibawa oleh Rasulullah, pada saat ini telah menyebar ke seluruh negeri dan telah menjadi ideologi bagi setiap Muslim. Islam bukan agama yang disebarkan secara individu tetapi dengan membentuk suatu jama’ah yang bertujuan ketika bergerak kita sudah mempunyai sistem untuk menentukanbagaimana cara kita bergerak.

Dadan | staff Humas

Ibnu Khaldun; (ajaran) Fanatisme Kepemimpinan


*berkaitan dengan kalimat pertama dalam catatan ini, itu karena awalnya saya memberi judul Generasi yang Hancur

Panca Zumbon | @5_zumbon

Ketika sebuah pembahasan telah sampai pada kesimpulan tentang hancurnya sebuah generasi. Maka disana pastilah membahas tentang kepemimpinan dan fanatisme. Kepemimpinan hanya mampu direbut oleh mereka yang memiliki fanatisme yang tinggi melebihi golongan yang berada di sekelilingnya. Pertanyaannya, apakah benar antara fanatisme dan kepemimpinan berkaitan?
Fanatisme menurut thesaurus memiliki padanan kata keyakinan, keteguhan, orthodoksi. Sedangkan dalam KBBI fanatik memiliki arti teramat sangat kuat kepercayaannya (keyakinannya) terhadap ajaran (politik, agama, dsb.). Menurut saya, kita tidak bisa menghakimi apakah fanatisme itu baik atau buruk. Karena fanatisme hanyalah sebuah kata, kita bisa memvonis fanatisme baik atau buruk ketika sudah ada praktiknya, jadi yang dinilai adalah praktik fanatisme, bukan fanatisme itu sendiri.
Ketika kepemimpinan hanya dapat diraih dengan kekuasaan, maka disana mutlak diperlukan fanatisme!. Ibnu khaldun dalam muqaddimah nya menjelaskan “fanatisme mereka yang menduduki tampuk kepemimpinan haruslah lebih kuat dibanding fanatisme-fanatisme lain yang ada diantara mereka, sehingga memungkinkannya dapat menguasai dan meraih puncak kepemimpinan dengan baik. Sebab jika kekuasaan tersebut keluar dari kalangan mereka dan berpindah ke fanatisme yang lain, maka mereka tidak dapat memimpin dengan baik. Perlu diingat, kepemimpinan tersebut tidak akan berpindah kecuali kepada golongan yang memiliki fanatisme yang lebih kuat”.
Yang menjadi menarik adalah, banyaknya fakta yang menunjukkan bahwa adanya satu golongan tunggal yang mampu mempertahankan tampuk kepemimpinan secara abadi. Ini menunjukkan bahwa sifat kepemimpinan adalah dinamis, ia senantiasa berpindah. Kepada siapakah kepemimpinan berpindah? Jelas, kepada golongan yang memiliki fanatisme atau keyakinan yang jauh lebih kuat dibanding golongan yang sedang memimpin. Pertanyaan pentingnya adalah, berapa lamakah usia fanatisme kepemimpinan mampu bertahan?
Rosulullah pernah menggambarkan ketahanan fanatisme kepemimpinan dalam sebuah hadits riwayat Bukhari dalam kitab Al-Anbiya’ “sesungguhnya orang mulia, putra orang mulia, putra orang mulia, putra orang mulia adalah Yusuf bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim.” Pun dalam taurat disebutkan “Allah Tuhanmu adalah Dzat yang mengawasi dan mencemburui. Dia akan meminta pertanggungjawaban dosa-dosa orang tua kepada anaknya selama tiga hingga empat generasi.” Hadits ini memberikan pengertian bahwa ketahanan fanatisme kepemimpinan pada umumnya hanya bertahan pada empat generasi.
Tidakkah kita bertanya, mengapa fanatisme kepemimpinan hanya bertahan pada empat generasi? Ibnu Khaldun menjelaskan dengan apik bahwa:
Generasi pertama adalah generasi yang memiliki fanatisme tinggi lantas memperjuangkan kepemimpinannya. Sehingga mereka mengetahui segala sesuatu yang dibutuhkan dalam membangun kepemimpinan tersebut. Selain itu, mereka mampu menjaga karakter yang merupakan rahasia dibalik eksistensi dan kelanggengan kepemimpinannya.
Generasi kedua adalah generasi yang melanjutkan kebesaran generasi pertama dengan bermodalkan pengajaran yang didengan dan diwarisinya dari generasi pertama. Hanya saja kualitas pengajaran dan pewarisan kebesaran tersebut mengalami kekurangan, layaknya keterbatasan pemahaman seseorang yang mendengar atas pengertian tentang sesuatu.
Generasi ketiga adalah generasi yang hanya sekedar mengikuti jejakdan melanjutkan tradisi dari dua generasi sebelumnya. Dengan realitas semacam ini, maka bisa dipastikan bahwa kualitas pengajaran yang diterima generasi ketiga tidak sepadan dengan kualitas pengajaran yang diterima generasi kedua.
Generasi keempat pada umumnya adalah generasi yang mengalami penurunan kualitas multi-aspek. Selain itu, generasi keempat memiliki persepsi bahwa kepemimpinan bukanlah hasil kerja keras, tetapi susuatu yang biasa saja yang sudah mereka terima sejak lahir. Sehingga digambarkan bahwa generasi keempat adalah generasi yang menunggu kehancuran!
Lantas bagaimana nasib generasi kelima, keenam, dst? Dalam surat Ibrahim ayat 19-20 menjelaskan “tidakkah engkau perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah telah menciptakan langit dan bumi dengan haq? Jika Dia menghendaki, niscaya Dia membinasakan kamu dan mengganti(mu) dengan makhluk yang baru, dan yang demikian itu sekali-kali tidak sukar bagi Allah.”
Berkaitan dengan surat Ibrahim ayat 19-20, saya pribadi pernah mengikuti sebuah kajian yang membahasnya. Tafsir dari ayat diatas setidaknya ada dua, gambaran ringkasnya sebagai berikut:
Pertama, jika sebuah golongan dari kalangan umat Islam tidak memiliki ghiroh yang baik dalam berdakwah dan tidak memiliki kepahaman yang bagus dalam beragama, maka akan digantikan dengan golongan yang lain yang seagama dengan mereka (Islam).
Kedua, jika umat islam tidak memiliki sensitifitas yang tinggi dalam berdakwah. Mereka lebih cenderung pasif dan tidak mau berlelah-lelah dalam berdakwah, maka akan digantikan dengan dakwah selain Islam. Bukankah fenomena kristenisasi di daerah terpencil akibat dari dakwah Islam yang tidak menjangkau wilayah tersebut?
Sebagai refleksi, dalam konstelasi kepemimpinan dakwah kampus UNY, mari kita menarik nafas dalam-dalam dan sejenak menghitung, siapakah diantara kita yang berhak mewarisi kemuliaan sebagaimana gambaran generasi pertama nya Ibnu Khaldun? Dan angkatan berapakah yang menjadi sebab sekaligus saksi kehancuran kepemimpinan dakwah kampus UNY? Dengan memohon kepada Allah, semoga generasi keempat itu bukan angkatan saya (2009).
Tidaklah menjadi penting mendiskusikan siapa yang akan menjadi generasi keempat, yang lebih penting adalah, setiap kita harus memiliki sikap skeptic pada angkatannya masing-masing. Jangan-jangan memang angkatan kita lah yang ditakdirkan sebagai generasi keempat! Pertanyaan yang muncul berikutnya adalah, apakah tampuk kepemimpinan benar-benar hanya bertahan sampai empat generasi? Tidak adakah cure atau formula untuk memperpanjangnya?
Ada. Lain ibnu khaldun lain Burns. Jika ibnu khaldun memakai fanatisme, maka Burns mengenalkan konsep kepemimpinan transformasional.
… dari penelitian  deskriptif  mengenai pemimpin-pemimpin  politik.  Burns, menjelaskan  kepemimpinan transformasional  sebagai  sebuah proses  yang  padanya  para  pemimpin dan pengikut saling menaikkan diri ke tingkat  moralitas  dan  motivasi  yang lebih  tinggi.  Para  pemimpin  tersebut mencoba menimbulkan kesadaran dari para  pengikut  dengan  menyerukan cita-cita  yang  lebih  tinggi  dan  nilai-nilai  moral  seperti  kemerdekaan, keadilan.  dan  kemanusiaan,  bukan didasarkan  atas  emosi,  seperti misalnya  keserakahan,  kecemburuan, atau  kebencian.  Kepemimpinan  yang seperti  inilah  yang  sekarang  ini diharapkan  agar  dapat  lepas  dari aneka  macam  'krisis’…
Dari sejak awal pembahasan empat generasi kepemimpinan Ibnu Khaldun sampai dengan teori kepemimpinan transformasional nya Burns, kita bisa menarik benang merah atas solusi keberlangsungan kepemimpinan. Ilmu dan motivasi. Jika proses transformasi ilmu dari generasi ke generasi berjalan dengan baik dan konsisten, maka tidak ada istilah generasi keempat. Transformasi ilmu yang saya maksud adalah transformasi ilmu agama dan kepemimpinan. Tidak ada cara yang lebih baik untuk mempelajari ilmu agama selain dengan guru (ustadz, kiyai, syaikh, dsb). Dan tidak ada cara yang paling efektif sekaligus paling menarik dalam mempelajari ilmu kepemimpinan selain dengan mencoba kepemimpinan itu sendiri!. Sedangkan motivasi adalah cara untuk membuat kita tetap mempelajari ilmu, sampai masuk liang lahat nanti.
Akhir cerita dari catatan ini adalah, dengan cara apakah kita bisa melangsungkan transformasi ilmu dan motivasi dalam rangka meneruskan estafet kepemimpinan dakwah kampus? Dengan cara apakah kita mempertahankan kekokohan fanatisme kepemimpinan generasi pertama? Tidak lain jawabannya adalah HALAQOH.
Seberapa rajinkah kita menimba ilmu?
Seberapa rajinkah kita membagi ilmu?
Berapa kelompok halaqoh yang kita kelola?
Berapa MUTAROBBI kita?


#semoga catatan ini bisa menginspirasi saya pribadi dan antum sekalian, sehingga dengan catatan ini bisa menjadi sarana penggugur dosa-dosa saya di masa lampau. Allahu wa Rosullu ‘alam bi shawab.

Netcitizen


*judul ini terinspirasi dari opini harian republika 16 april 2013 karya Moch Nurhasim

Beberapa bulan ini Komisariat KAMMI UNY telah mengalami kemajuan peradaban. Kemajuan peradaban yang dimaksud adalah dalam dunia sosial media mikro-blog. Komisariat KAMMI UNY telah memiliki akun twitter (@kammiUNY) yang dari sejak pembuatannya sampai hari ini telah mengalami kenaikan signifikan dalam jumlah followershingga mencapai 1000%.
KAMMI merupakan lembaga dakwah Islam yang targetnya adalah mahasiswa dan pemuda. Dalam konteks berdakwah, maka sudah menjadi keharusan bagi lembaga dakwah manapun untuk bisa memanfaatkan segala peluang agar dakwahnya sampai pada madu’ (objek dakwah). Salah satunya adalah dengan memanfaatkan sosial media di internet.
Data terakhir menunjukkan, pada akhir maret lalu Maltepe University Istanbul, Turki, menghelat agenda International Communication Student Congress (ISCSC) dengan tema ‘’Media, Youth and Their Future’’. Kesimpulan sederhana dari agenda tersebut, bahwa Indonesia tercatat sebagai Negara pengguna facebook dan twitter terbesar kelima sedunia. Sumber lain mengatakan, terdapat sekitar 30 juta pengguna twitter di Indonesia dengan 2 juta pengguna aktif berkicau setiap harinya.
Jika kita analisis secara sederhana, tentu saja pengguna facebook dan twitter terbesar adalah kaum muda. Apakah semua kaum muda memiliki facebook dan twitter? Jawabannya tentu saja tidak! Tetapi dapat dipastikan bahwa mahasiswa lah yang menjadi penyokong terbesar dari seluruh pemuda pengguna facebook dan twitter. Hal ini karena mahasiswa membutuhkan ruang berekspresi yang lebih besar dibandingkan masyarakat secara umum.
Pengguna facebook dan twitter dengan jumlah besar ini seharusnya dapat ditangkap oleh KAMMI sebagai peluang mensyiarkan dakwah KAMMI secara lebih luas. Sejauh ini, komisariat KAMMI UNY telah memiliki akun twitter (@kammiUNY) dan grup facebook (KAMMI Universitas Negeri Yogyakarta). Dalam pengelolaannya, kedua akun tersebut belum optimal. Menurut kepala departemen humas komisariat KAMMI UNY, salah satu cara untuk mengoptimalkan kedua akun tersebut adalah dengan menunjuk orang yang khusus untuk mengelolanya dan tentu saja sokongan danadari lembaga sangat berperan pada kontinuitas eksistensi akun @kammiUNY.
Dalam konteks dakwah islam, idealnya pengurus komisariat KAMMI UNY menciptakan hubungan sederajat antara komisariat KAMMI UNY secara kelembagaan dengan mahasiswa UNY pada umumnya. Kesederajatan tersebut akan muncul ketika adanya anggapan tentang kesamaan kepemilikan suatu hal (things) atau kesamaan hobi. Maka, jika kebanyakan mahasiswa UNY memiliki akun twitter, KAMMI pun wajib memilikinya. Sehingga, suatu saat nanti, diharapkan KAMMI tidak memiliki jarak dengan mahasiswa, sehingga proses transformasi dakwah pun berjalan dengan apik.
Meski demikian, dunia maya tak ubahnya seperti hutan belantara. Kebebasan menjadi aturan tertinggi, pembunuhan (citra), eksistensi dan sejumlah kepentingan terselubung akan hadir disana. Bagi seorang da’i, kondisi demikian seharusnya tidak menjadikannya surut kebelakang dan mundur dari medan pertempuran (di dunia maya), tetapi justru memacu semangat untuk segera membuat dan mengoptimalkan facebook dan twitter sebagai sarana dakwah.
Mengapa saya mencantumkan kata ‘membuat’? karena pada faktanya masih banyak kader Komisariat KAMMI UNY yang belum memiliki akun twitter. Alasan yang sering dilontarkan adalah ‘tidak bisa mengoperasionalkannya’. Besarnya ketidak mampuan dalam mengoperasinalkan twitter tidak sebanding dengan jumlah pahala yang akan di dapat ketika mampu menghadirkan tweet yang beraroma positif-islamis.
Terlepas dari banyaknya kader KAMMI yang belum memiliki akun twitter, setidaknya akun lembaga harus tetap ada. Ini penting untuk eksistensi lembaga agar bisa menghirup nafas panjang dalam berdakwah di dunia maya. Adanya akun twitter KAMMI (@kammiUNY) akan memudahkan proses transformasi informasi baik kepada kader KAMMI maupun non kader KAMMI.
Ketika daily tweet rate @kammiUNY tinggi, maka poros informasi yang diberikan akan semakin banyak, terlebih jika kader KAMMI yang telah menjadi followers turut meretweet kicauan tersebut. Jika demikian, bukan tidak mungkin, kedepannya akun @kammiUNY akan menjadi nafigator informasi paling aktual bagi netcitizen di UNY.

Panca Zumbon | @5_zumbon


*judul ini terinspirasi dari opini harian republika 16 april 2013 karya Moch Nurhasim

Beberapa bulan ini Komisariat KAMMI UNY telah mengalami kemajuan peradaban. Kemajuan peradaban yang dimaksud adalah dalam dunia sosial media mikro-blog. Komisariat KAMMI UNY telah memiliki akun twitter (@kammiUNY) yang dari sejak pembuatannya sampai hari ini telah mengalami kenaikan signifikan dalam jumlah followershingga mencapai 1000%.
KAMMI merupakan lembaga dakwah Islam yang targetnya adalah mahasiswa dan pemuda. Dalam konteks berdakwah, maka sudah menjadi keharusan bagi lembaga dakwah manapun untuk bisa memanfaatkan segala peluang agar dakwahnya sampai pada madu’ (objek dakwah). Salah satunya adalah dengan memanfaatkan sosial media di internet.
Data terakhir menunjukkan, pada akhir maret lalu Maltepe University Istanbul, Turki, menghelat agenda International Communication Student Congress (ISCSC) dengan tema ‘’Media, Youth and Their Future’’. Kesimpulan sederhana dari agenda tersebut, bahwa Indonesia tercatat sebagai Negara pengguna facebook dan twitter terbesar kelima sedunia. Sumber lain mengatakan, terdapat sekitar 30 juta pengguna twitter di Indonesia dengan 2 juta pengguna aktif berkicau setiap harinya.
Jika kita analisis secara sederhana, tentu saja pengguna facebook dan twitter terbesar adalah kaum muda. Apakah semua kaum muda memiliki facebook dan twitter? Jawabannya tentu saja tidak! Tetapi dapat dipastikan bahwa mahasiswa lah yang menjadi penyokong terbesar dari seluruh pemuda pengguna facebook dan twitter. Hal ini karena mahasiswa membutuhkan ruang berekspresi yang lebih besar dibandingkan masyarakat secara umum.
Pengguna facebook dan twitter dengan jumlah besar ini seharusnya dapat ditangkap oleh KAMMI sebagai peluang mensyiarkan dakwah KAMMI secara lebih luas. Sejauh ini, komisariat KAMMI UNY telah memiliki akun twitter (@kammiUNY) dan grup facebook (KAMMI Universitas Negeri Yogyakarta). Dalam pengelolaannya, kedua akun tersebut belum optimal. Menurut kepala departemen humas komisariat KAMMI UNY, salah satu cara untuk mengoptimalkan kedua akun tersebut adalah dengan menunjuk orang yang khusus untuk mengelolanya dan tentu saja sokongan danadari lembaga sangat berperan pada kontinuitas eksistensi akun @kammiUNY.
Dalam konteks dakwah islam, idealnya pengurus komisariat KAMMI UNY menciptakan hubungan sederajat antara komisariat KAMMI UNY secara kelembagaan dengan mahasiswa UNY pada umumnya. Kesederajatan tersebut akan muncul ketika adanya anggapan tentang kesamaan kepemilikan suatu hal (things) atau kesamaan hobi. Maka, jika kebanyakan mahasiswa UNY memiliki akun twitter, KAMMI pun wajib memilikinya. Sehingga, suatu saat nanti, diharapkan KAMMI tidak memiliki jarak dengan mahasiswa, sehingga proses transformasi dakwah pun berjalan dengan apik.
Meski demikian, dunia maya tak ubahnya seperti hutan belantara. Kebebasan menjadi aturan tertinggi, pembunuhan (citra), eksistensi dan sejumlah kepentingan terselubung akan hadir disana. Bagi seorang da’i, kondisi demikian seharusnya tidak menjadikannya surut kebelakang dan mundur dari medan pertempuran (di dunia maya), tetapi justru memacu semangat untuk segera membuat dan mengoptimalkan facebook dan twitter sebagai sarana dakwah.
Mengapa saya mencantumkan kata ‘membuat’? karena pada faktanya masih banyak kader Komisariat KAMMI UNY yang belum memiliki akun twitter. Alasan yang sering dilontarkan adalah ‘tidak bisa mengoperasionalkannya’. Besarnya ketidak mampuan dalam mengoperasinalkan twitter tidak sebanding dengan jumlah pahala yang akan di dapat ketika mampu menghadirkan tweet yang beraroma positif-islamis.
Terlepas dari banyaknya kader KAMMI yang belum memiliki akun twitter, setidaknya akun lembaga harus tetap ada. Ini penting untuk eksistensi lembaga agar bisa menghirup nafas panjang dalam berdakwah di dunia maya. Adanya akun twitter KAMMI (@kammiUNY) akan memudahkan proses transformasi informasi baik kepada kader KAMMI maupun non kader KAMMI.
Ketika daily tweet rate @kammiUNY tinggi, maka poros informasi yang diberikan akan semakin banyak, terlebih jika kader KAMMI yang telah menjadi followers turut meretweet kicauan tersebut. Jika demikian, bukan tidak mungkin, kedepannya akun @kammiUNY akan menjadi nafigator informasi paling aktual bagi netcitizen di UNY.

Kamis, 25 April 2013

KAHFI 25 April 2013


KAHFI 25 April 2013  - Masa kenabian  sampai masa hijrah

Bismillah, karena Allah lah kita diberikan kenikmatan menikmati nafas hidup dan mampu beraktifitas, dan mengkaji satu hal penting yang ada dalam kehidupan kita - sejarah. Pembahasan adalah seputar sirah Nabi pada masa kenabian sampai masa hijrah. KAHFI (Kajian Harakah dan Fikrah Islam) sore ini dibersamai oleh Mas Rober Edy Sudarwan.

Dalam sejarah yang lalu hingga kini, kita dikenalkan dengan tauhid yang sama. Tauhid yang sama itu yang membuat kita menjadi saudara.

Tauhid itu diajarkan oleh Rasulullah, Muhammad SAW. Rasulullah adalah mata rantai Rasul-rasul Allah yang di berikan wahyu dan diberikan kewajiban menyampaikan tauhid kepada manusia. Tauhid yang diajarkan adalah bagaimana manusia ini bisa semakin taat dan beribadah kepada Allah, menyembah hanya pada Allah. Inilah yang dibawa oleh Rasulullah.

Sudah jelas perintah, “Hal orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu dengan sebenar-benar taqwa. “

Kematian adalah sebuah keniscayaan bagi kita. Lalu bagaimana kita mempersiapkan kehidupan kita. Dengan ketaqwaan kepada Allah SWT. Memadati hati dengan tauhid.

 “Jika diurutkan, Rasulullah itu lahir dari Klan nya Ismail, Kinanah, Quraish, Bani Hasyim, dan terpilihlah Rasulullah SAW sebagai Rasul.” “Aku adalah golongan terbaik dari golonganku,” kata Rasulullah. Ya, Rasulullah dilahirkan dari golongan terbaik, ini berarti Allah sudah mempersiapkan kemunculan Rasulullah dengan baik.

Bukti kasih sayang Allah pada Rasul nya, Ia utus Jibril untuk menemui Nabi Muhammad, Jibril membelah dada Muhammad SAW, kata Jibril, “Ini untuk membersihkan kotoran-kotoran yang ada dalam hatimu.” Teman-temannya hanya bisa lari ketakutan melihat peristiwa itu, dan orang tuanya menemukannya dalam keadaan pucat pasi.

Ada banyak Ihrash, (tanda-tanda kenabian) pada diri Rasulullah. Pada saat itu Nabi Muhammad diberikan gelar Al Amin, di saat semua perguruan tinggi tidak ada yang berani memberikan gelar tersebut pada seorang pun. Muhammad kecil sudah dijaga oleh Allah SWT sejak kecil. Ia adalah sosok yang sangat dibanggakan oleh Bani Hasyim, dengan tanda-tanda kenabiannya. Allah memberikan tanda-tanda itu untuk menunjukkan bahwa Rasulullah adalah orang yang sangat dicintai oleh Nya.

Perjuangan Kemandirian Nabi Muhammad
Bagaimana i’tikad Nabi kecil untuk menghidupi dirinya sendiri? (Jika kita tidak mandiri, maka di sana letak kajatuhan kita, inilah ibrah yang bisa diambil dari kemandirian Nabi Muhammad menghidupi diri sendiri). Ia ikut dengan Abi Thalib, dan Allah memberikan kehidupan yang layak kepada hamba-hamba NyA yang Soleh. Dan sungguh hal itu sangat mudah bagi Allah.

Jadi, kita lihat di sana, perjalanan rasulullah dalam menghidupi diri sendiri, ada proses yang panjang yang diperlukan manusia untuk memenuhi level/ tingkat kebutuhan manusia tersebut. Maka kita harus berusaha, sesuai ibrah yang bisa kita ambil dari Muhammad kecil. Ia menggembala kambing, ia berniaga, dan lain-lain.

Nabi Muhammad, dalam menggembala kambing, orang begitu percaya pada Muhammad. Ia memiliki karakter yang tidak dimiliki pemuda-pemuda lain, Al Amin itu sendiri, dapat dipercaya, itu karena Allah selalu menjaga Rasulullah dari sifat-sifat yang nista.

Tidak mungkin bagi kita untuk menyamai Rasulullah, namun kewajiban kita adalah berusaha, berusaha untuk memiliki kapasitas dan integritas dalam waktu yang bersamaan. Kapasitas dan iintegritas Rasulullah dapat diambil dari kisahnya bersama Khadijah.

Perdagangan Siti Khadijah dan Rasulullah. Ada yang menarik.
Jika kita berbicara pada dimensi masyarakat madinah, ada suatu keseimbangan, anak-anak muda, diberikan modal dari orang-orang tua, dan kemudian melakukan perniagaan. Ada satu yang menarik, seorang Muhammad Muda, beliau sangat luar biasa dalam menjaga kepercayaan. Ia tidak pernah menawarkan sesuatu yang tidak terdapat dalam barang tersebut. Cepat lambat, orang melihat amanah beliau sebagai orang yang mengemban perdagangan dari satu sifatnya, jujur. Lalu bagaimana dengan kita, diberikan kepercayaan dari orang tua bagaimana, diberikan kepercayaan dari dosen bagaimana, jangan-jangan kita tidak jujur selama ini?

Sampai akhirnya, Khadijah tertarik dengan Muhammad, yang menjadi pertanyaan, mengapa Rasulullah mau menikah dengan seorang janda yang kedua suaminya sudah meninggal dunia. Kenapa Muhammad muda tidak mencari yang lebih muda darinya, yang lebih cantik?

Khadijah, Seorang janda kaya raya. Dan Muhammad memilih Khadijah, namun Rasulullah tidak memiliki tendensi mencari keuntungan duniawi. Orang sering menyudutkan bahwa rasulullah hanya mengejar harta Khadijah, maka bisa dipatahkan, dengan mahar Unta merah sejumlah 100 ekor, yang berasal dari hasil perniagaan nya (sekitar 4 milyar). Beliau sosok yang begitu kuat dalam aspek finansial. Kita bagaimana? Sudah adakah kekuatan finansial yang kita punya?

Lantas apa yang membuat Rasulullah, menerima Khadijah? Ia lah ketulusan dan cinta yang menjadi pointer, bagaimana hidup .”Tidak ada lagi yang melebihi Khadijah,” kata Rasulullah. Ketika Rasulullah lelah, banyak orang yang mendustakan risalah yang dibawanya, namun Khadijah lah yang menyokongnya. Pun bisa dilihat riwayat Khadijah, pernah dikatakan dalam riwayat Bukhari, Perempuan yang terbaik adalah Maryam (wanita langit)bin Imran. Perempuan (wanita langit yang ada di bumi) terbaik adalah Khadijah. Ia dijuluki wanita yang terhormat lagi suci.

Air susu Khadijah kering sudah, ketika menyusui Fatimah, yang keluar adalah darah. Ah terlalu besar cinta Khadijah, hingga ia mampu melakukan semua itu. 

Khadijah ditanya oleh Muhammad ketika kepala Muhammad SAW sedang dalam pangkuannya, "Dulu kau bangsawan, dulu kau hartawan, sekarang kau harus berjuang dengan ku dalam keterbatasan, masihkah kau mau bertahan?"

Khadijah menjawabnya, "Jika suatu saat nanti kau berada dalam hutan dan akan membuat sebuah jembatan, sedangkan tak ada ranting untuk jembatanmu itu, galilah liang lahatku..." 

Bahkan ia pastikan pengorbanannya tak hanya ketika ia hidup, ia mempersiapkan kematiannya pula. Sampai ia menjaminkan tulang belulangnya tetap mendukungnya dalam dakwah, agar tulang belulang yang tak bisa apa-apa itu tetap berguna.

Ah ibu kita satu ini... luar biasa :')

#Romansa Kesetiaan Khadijah
Kapasitas Nabi Muhammad SAW dalam hal finansial sudah tak dapat diragukan lagi. Begitupun dalam mengelola keluarga. Selain Kapasitas, integritas yang dimilikinya sungguh kuat. Terkisah dalam cerita permasalahan penempatan Hajar Aswad.
Perselisihan Kabilah
Ketika Nabi Muhammad menyelesaikan permasalahan kabilah-kabilah pada masa itu dalam masalah pembenahan hajar aswad. Rasulullah datang paling pagi, maka sesuai perjanjian, ia lah yang berhak menentukan penyelesaian. Ada yang menarik, Rasulullah berhasil menyelesaikan teka-teki Hajar Aswad itu, ia menjadi penengah, menjadi penyelamat mereka dari bahaya perang yang mungkin bisa pecah. Upaya upaya yang dilakukan Rasulullah secara bertahap dari kecil, remaja, hingga dewasa, bisa membuat semua orang percaya padanya, kapasitas personal lah yang ia bangun, bukan atas nama kebangsawanannya, meski ia seorang bangsawan Quraisy. Maka untuk mendapatkan kepercayaan, maka ada dua hal yang harus dimiliki: kapasitas dan integritas.

Ihtisyamah Zuhaidah

KAHFI 25 April 2013


KAHFI 25 April 2013  - Masa kenabian  sampai masa hijrah

Bismillah, karena Allah lah kita diberikan kenikmatan menikmati nafas hidup dan mampu beraktifitas, dan mengkaji satu hal penting yang ada dalam kehidupan kita - sejarah. Pembahasan adalah seputar sirah Nabi pada masa kenabian sampai masa hijrah. KAHFI (Kajian Harakah dan Fikrah Islam) sore ini dibersamai oleh Mas Rober Edy Sudarwan.

Dalam sejarah yang lalu hingga kini, kita dikenalkan dengan tauhid yang sama. Tauhid yang sama itu yang membuat kita menjadi saudara.

Tauhid itu diajarkan oleh Rasulullah, Muhammad SAW. Rasulullah adalah mata rantai Rasul-rasul Allah yang di berikan wahyu dan diberikan kewajiban menyampaikan tauhid kepada manusia. Tauhid yang diajarkan adalah bagaimana manusia ini bisa semakin taat dan beribadah kepada Allah, menyembah hanya pada Allah. Inilah yang dibawa oleh Rasulullah.

Sudah jelas perintah, “Hal orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu dengan sebenar-benar taqwa. “

Kematian adalah sebuah keniscayaan bagi kita. Lalu bagaimana kita mempersiapkan kehidupan kita. Dengan ketaqwaan kepada Allah SWT. Memadati hati dengan tauhid.
 “Jika diurutkan, Rasulullah itu lahir dari Klan nya Ismail, Kinanah, Quraish, Bani Hasyim, dan terpilihlah Rasulullah SAW sebagai Rasul.” “Aku adalah golongan terbaik dari golonganku,” kata Rasulullah. Ya, Rasulullah dilahirkan dari golongan terbaik, ini berarti Allah sudah mempersiapkan kemunculan Rasulullah dengan baik.
Bukti kasih sayang Allah pada Rasul nya, Ia utus Jibril untuk menemui Nabi Muhammad, Jibril membelah dada Muhammad SAW, kata Jibril, “Ini untuk membersihkan kotoran-kotoran yang ada dalam hatimu.” Teman-temannya hanya bisa lari ketakutan melihat peristiwa itu, dan orang tuanya menemukannya dalam keadaan pucat pasi.
Ada banyak Ihrash, (tanda-tanda kenabian) pada diri Rasulullah. Pada saat itu Nabi Muhammad diberikan gelar Al Amin, di saat semua perguruan tinggi tidak ada yang berani memberikan gelar tersebut pada seorang pun. Muhammad kecil sudah dijaga oleh Allah SWT sejak kecil. Ia adalah sosok yang sangat dibanggakan oleh Bani Hasyim, dengan tanda-tanda kenabiannya. Allah memberikan tanda-tanda itu untuk menunjukkan bahwa Rasulullah adalah orang yang sangat dicintai oleh Nya.
Perjuangan Kemandirian Nabi Muhammad
Bagaimana i’tikad Nabi kecil untuk menghidupi dirinya sendiri? (Jika kita tidak mandiri, maka di sana letak kajatuhan kita, inilah ibrah yang bisa diambil dari kemandirian Nabi Muhammad menghidupi diri sendiri). Ia ikut dengan Abi Thalib, dan Allah memberikan kehidupan yang layak kepada hamba-hamba NyA yang Soleh. Dan sungguh hal itu sangat mudah bagi Allah.
Jadi, kita lihat di sana, perjalanan rasulullah dalam menghidupi diri sendiri, ada proses yang panjang yang diperlukan manusia untuk memenuhi level/ tingkat kebutuhan manusia tersebut. Maka kita harus berusaha, sesuai ibrah yang bisa kita ambil dari Muhammad kecil. Ia menggembala kambing, ia berniaga, dan lain-lain.
Nabi Muhammad, dalam menggembala kambing, orang begitu percaya pada Muhammad. Ia memiliki karakter yang tidak dimiliki pemuda-pemuda lain, Al Amin itu sendiri, dapat dipercaya, itu karena Allah selalu menjaga Rasulullah dari sifat-sifat yang nista.
Tidak mungkin bagi kita untuk menyamai Rasulullah, namun kewajiban kita adalah berusaha, berusaha untuk memiliki kapasitas dan integritas dalam waktu yang bersamaan. Kapasitas dan iintegritas Rasulullah dapat diambil dari kisahnya bersama Khadijah.
Perdagangan Siti Khadijah dan Rasulullah. Ada yang menarik.
Jika kita berbicara pada dimensi masyarakat madinah, ada suatu keseimbangan, anak-anak muda, diberikan modal dari orang-orang tua, dan kemudian melakukan perniagaan. Ada satu yang menarik, seorang Muhammad Muda, beliau sangat luar biasa dalam menjaga kepercayaan. Ia tidak pernah menawarkan sesuatu yang tidak terdapat dalam barang tersebut. Cepat lambat, orang melihat amanah beliau sebagai orang yang mengemban perdagangan dari satu sifatnya, jujur. Lalu bagaimana dengan kita, diberikan kepercayaan dari orang tua bagaimana, diberikan kepercayaan dari dosen bagaimana, jangan-jangan kita tidak jujur selama ini?
Sampai akhirnya, Khadijah tertarik dengan Muhammad, yang menjadi pertanyaan, mengapa Rasulullah mau menikah dengan seorang janda yang kedua suaminya sudah meninggal dunia. Kenapa Muhammad muda tidak mencari yang lebih muda darinya, yang lebih cantik?
Khadijah, Seorang janda kaya raya. Dan Muhammad memilih Khadijah, namun Rasulullah tidak memiliki tendensi mencari keuntungan duniawi. Orang sering menyudutkan bahwa rasulullah hanya mengejar harta Khadijah, maka bisa dipatahkan, dengan mahar Unta merah sejumlah 100 ekor, yang berasal dari hasil perniagaan nya (sekitar 4 milyar). Beliau sosok yang begitu kuat dalam aspek finansial. Kita bagaimana? Sudah adakah kekuatan finansial yang kita punya?
Lantas apa yang membuat Rasulullah, menerima Khadijah? Ia lah ketulusan dan cinta yang menjadi pointer, bagaimana hidup .”Tidak ada lagi yang melebihi Khadijah,” kata Rasulullah. Ketika Rasulullah lelah, banyak orang yang mendustakan risalah yang dibawanya, namun Khadijah lah yang menyokongnya. Pun bisa dilihat riwayat Khadijah, pernah dikatakan dalam riwayat Bukhari, Perempuan yang terbaik adalah Maryam (wanita langit)bin Imran. Perempuan (wanita langit yang ada di bumi) terbaik adalah Khadijah. Ia dijuluki wanita yang terhormat lagi suci.
Air susu Khadijah kering sudah, ketika menyusui Fatimah, yang keluar adalah darah. Ah terlalu besar cinta Khadijah, hingga ia mampu melakukan semua itu. 
Khadijah ditanya oleh Muhammad ketika kepala Muhammad SAW sedang dalam pangkuannya, "Dulu kau bangsawan, dulu kau hartawan, sekarang kau harus berjuang dengan ku dalam keterbatasan, masihkah kau mau bertahan?"
Khadijah menjawabnya, "Jika suatu saat nanti kau berada dalam hutan dan akan membuat sebuah jembatan, sedangkan tak ada ranting untuk jembatanmu itu, galilah liang lahatku..." 
Bahkan ia pastikan pengorbanannya tak hanya ketika ia hidup, ia mempersiapkan kematiannya pula. Sampai ia menjaminkan tulang belulangnya tetap mendukungnya dalam dakwah, agar tulang belulang yang tak bisa apa-apa itu tetap berguna.
Ah ibu kita satu ini... luar biasa :')
#Romansa Kesetiaan Khadijah
Kapasitas Nabi Muhammad SAW dalam hal finansial sudah tak dapat diragukan lagi. Begitupun dalam mengelola keluarga. Selain Kapasitas, integritas yang dimilikinya sungguh kuat. Terkisah dalam cerita permasalahan penempatan Hajar Aswad.
Perselisihan Kabilah
Ketika Nabi Muhammad menyelesaikan permasalahan kabilah-kabilah pada masa itu dalam masalah pembenahan hajar aswad. Rasulullah datang paling pagi, maka sesuai perjanjian, ia lah yang berhak menentukan penyelesaian. Ada yang menarik, Rasulullah berhasil menyelesaikan teka-teki Hajar Aswad itu, ia menjadi penengah, menjadi penyelamat mereka dari bahaya perang yang mungkin bisa pecah. Upaya upaya yang dilakukan Rasulullah secara bertahap dari kecil, remaja, hingga dewasa, bisa membuat semua orang percaya padanya, kapasitas personal lah yang ia bangun, bukan atas nama kebangsawanannya, meski ia seorang bangsawan Quraisy. Maka untuk mendapatkan kepercayaan, maka ada dua hal yang harus dimiliki: kapasitas dan integritas.

Minggu, 21 April 2013

Daurah Marhalah 1

Durah Marhalah 1 KAMMI UNY telah banyak mencetak pemimpin-pemimpin di banyak tempat di bumi ini. Mari daftarkan diri menjadi the next Leader!

DM1 KAMMI UNY akan dilaksanakan pada 3-5 Mei 2013.

BEDAH BUKU "HUMAS GERAKAN"


Jangan lupa untuk datang dalam BEDAH BUKU "HUMAS GERAKAN"
22 April 2013 pukul 15.30 di serambi Masjid Mujahidin UNY

Rabu, 10 April 2013

MEJA TELEPON IBU


Siti Horiah
Mahasiswa Program Studi Teknik Nuklir 2012
Disudut ruang tamu kami, yang luasnya tidak lebih dari 4m2 itu terletak sebuah meja kecil berwarna hitam. Meja itu adalah sebuah meja telepon rumah yang sudah beralih fungsi sebagai meja belajarku. Meja itu adalah satu-satunya meja yang ada di rumah kami, meja yang sampai saat ini masih dibiarkan ibuku tetap berdiri tegak dan masih tetap berada dirumah kami dengan sebuah alasan yang tak aku ketahui.
Beginilah kondisi rumah kami setelah peristiwa kebangkrutan usaha ayahku. Demi menyambung nyawa keluarga kami, ibu rela menjual barang-barang berharga yanga ada di rumah kami pada tetangga sekitar. Ibuku tidak tahu lagi harus berbuat apa, dan tidak tahu lagi bagaimana caranya mendapatkan uang untuk membeli beras. Beliau menjual satu persatu barang-barang berharga kami, setiap kali datang waktu makan. Mulai dari beberapa pakaian ibuku yang paling beliau suka, alat-alat dapur seperti gelas, piring, panci, dispenser, bahkan sendok dan garpu pun ikut habis terjual.
Ayahku tidak dapat berbuat banyak setelah peristiwa kebangkrutan usahanya. Beliau hanya mampu menjadi kuli dipasar tradisional di kota kami. Upah yang dia terima tidak mampu menutupi kebutuhan keluarga besar kami.
Suatu siang, aku melihat adikku Rafi menangis sambil menghampiri ibu yang sedang duduk lemas menonton tv tanpa antena itu. Aku memperhatikan gerak-gerik ibu yang kepanikan, beliau tidak ingin membiarkan Rafi adikku menangis terlalu lama.
“ibu, ibu aku lapar!” jerit Rafi.
Ibu yang tak bisa berkata apa-apa langsung pergi menuju dapur, mengambil beberapa piring. Aku pun terus memperhatikan gerak-gerik ibu. Aku heran apa yang akan ibu lakukan dengan kelima buah piring itu. Sempat aku berpikir kalau ibu akan mengambilkan nasi untuk Rafi, namun aku teringat kalau dari kemarin aku belum memasak nasi untuk keluarga kami. Dengan masih tetap memperhatikannya dari balik pintu, aku melihat air mata ibuku jatuh berlinang membasahi pipinya yang pucat, namun dengan cepat beliau langsung menghapusnya takut-takut kalau air matanya akan terlihat olehku. Aku pura-pura tidak sadar dengan apa yang ibu lakukan didapur, aku menyibukan diriku dengan menggendong dan menimang Rafi agar dia tidak menangis.
Kubiarkan ibu dengan kesibukannya, kulihat beliau keluar rumah dengan kelima piringnya itu. Tak beberapa lama kemudian beliau kembali dengan uang ribuan yang lusuh sebanyak lima lembar. Aku terheran-heran atas apa yang ibu lakukan. Ibu langsung menyuruhku pergi kewarung membeli setengah liter beras, dan satu butir telur. Tanpa berpikir panjang aku pun langsung pergi menuruti perintah ibu.
Aku kembali dengan apa yang ibu minta dan ibu langsung menyuruhku memasaknya. Ibu menyuruhku membuat telur dadar dengan mencampurkan telur itu dengan terigu, agar satu telur itu menjadi besar dan cukup untuk dimakan oleh kami bersembilan. Aku menarik napas dalam-dalam, air mataku pun tak kuat dibendung, menetes jatuh. Aku tak kuat menahan ini semua, bagaimana tidak, setiap harinya kami hanya makan satu kali sehari. Berbagi setengah liter nasi untuk sembilan orang, satu butir telur saja harus dibagi sembilan, sering kamipun membagi 2 bungkus mie instans untuk sembilan orang. Terkadang ayah memilih pergi dari rumah saat tiba waktu makan, beliau pergi sambil menitip pesan padaku agar jatah makanannya diberikan pada adik-adikku saja.
Ibu sangat sayang pada kami, beliau tidak pernah membagi penderitaanya pada kami semua. Selagi ayah menjadi kuli dipasar, ibu selalu menggantikan peran ayah. Ibu tak pernah terlihat sedih dengan penderitaanya. Ibu rela berkorban demi kami semua. Ibu rela menjual tempat tidurnya dan memilih tidur dilantai dengan beralaskan kasur yang tipis saja.
Hampir seluruh barang berharga dirumah kami terpaksa beliau jual, demi menutupi pendapatan ayah yang besarnya tak kurang dari sepuluh ribu rupiah. Hanya satu buah meja telepon yang ibu sisakan diruang tamu kami. Aku heran kenapa ibu tidak pernah mau menjual meja tersebut, beliau lebih memilih menjual beberapa pakaiannya ketimbang menjual meja tersebut. Sampai pada saatnya aku tak sanggup melihat pakaian terbaik ibu harus ikut terjual, akupun menawarkan meja telepon itu untuk dijual pada ibu. Namun ibu menolak dengan kata-kata yang membuatku menangis sendiri.
“Selapar apapun kita nanti, ibu tidak akan menjual tempat yang kau gunakan untuk mengantungkan cita-citamu itu nak, pakailah terus meja itu.” Ungkapnya sambil pergi kerumah tetangga untuk menjual baju terbaiknya selama ini, demi sepiring nasi untuk keenam adikku.
Aku lemas mendengarnya, jadi selama ini ibu tidak mau menjualnya hanya karena aku sering memakai meja yang panjangnya tidak lebih dari 30 cm itu untuk belajar. Aku tersadar selama ini aku memang selalu menggunakan meja itu untuk belajar karena itu adalah satu-satunya meja yang ada dirumah kami.
Itulah kondisi yang selama ini aku alami, tak ada yang bisa aku lakukan banyak ketika itu. Saat itu kondisinya aku sedang duduk dikelas tiga. Ditengah kondisi seperti ini aku harus tetap berjuang untuk bisa lulus SMA. Setiap malam aku bangun untuk belajar dan mengerjakan tugas, aku menggunakan meja telepon itu sebagai alasku belajar. Terbayang betapa menderitanya belajar di atas meja yang luasnya lebih kecil dari luas buku tulisku.
Namun tidak ada pilihan lain bagiku, aku tak mampu menunduk lama untuk belajar bila memilih belajar diatas lantai yang dingin. Meja itu adalah teman terbaik bagiku. Dia selalu menemaniku dimalam hari disaat semua orang terlelap, aku harus bangun untuk belajar. Semua itu aku lakukan karena aku tidak memiliki waktu disiang hari untuk belajar.
Benar kata ibuku meja itu adalah tempat aku menggantungkan semua cita-citaku. Tempat aku memulai perubahan pada hidup keluargaku. Ibuku berharap besar padaku, karena aku adalah anak pertama. Jadi setelah aku lulus SMA nanti aku bisa langsung bekerja, dan ibu optimis terhadap diriku kalau aku nanti akan mendapatkan pekerjaan yang layak. Karena ibu tahu aku termasuk murid yang berprestasi disekolah.
Tanpa disadari aku memang menyayangi meja kecil hitam itu, meja itu selalu aku bersihkan setiap harinya, walaupun meja itu kecil dan sempit tapi aku masih bersyukur bisa tetap menulis diatas meja. Meja itu adalah satu-satunya tempat aku berbagi rahasia, tempat aku mengukir sebuah mimpi. Hanya meja itu yang menjadi saksi kalau aku memiliki sebuah mimpi yang selama ini aku rahasiakan dari dunia.
Aku punya sebuah mimpi yang benar-benar tidak bisa aku ungkapkan pada siapapun. Aku takut kalau mimpiku yang satu ini kuberitahu pada orang tuaku itu akan menjadi beban padanya, kalau aku beritahu pada teman-teman atau orang banyak aku takut mimpiku yang ini akan ditertawakan mereka. Jadi selama ini hanya meja kecil ini yang bersaksi kalau aku sering mengukir sebuah nama Universitas yang aku impikan pada catatan sekolahku. Ya, mimpiku yang tidak dapat aku beritahukan kepada siapa pun termasuk orang tuaku sendiri adalah duduk di bangku KULIAH.
Sebenarnya setiap kali orang tuaku membahas tentang pekerjaan yang nantinya aku lakoni setelah lulus SMA, hati kecilku menangis merintih tak terdengar siapapun.
“ayah, mama, aku gak mau kerja aku mau kuliah kaya temen-temen, aku mau masuk UGM aku mau ke Jogja, aku gak bisa KERJA!” jerit hati kecil ini.
Saat-saat seperti ini semua teman-temanku sibuk mencari tempat bimbel yang terbaik dikota kami, sebagai salah satu persiapan sebelum menghadapi SNMPTN. Bagi seorang Siti Horiah jangankan mengikuti program bimbel, buku paduan SNMPTN saja tak punya. Aku tak pernah memiliki niat untuk membeli buku SNMPTN yang harganya selangit itu. Untuk makan adik-adiku saja setiap subhu aku dan ibu masih harus keliling pasar untuk menjajakan kue cucur buatan ibuku.
Bagaimana aku mau menabung, uang jajan yang ibu berikan itu hanya sebesar tiga ribu rupiah saja, itupun hanya cukup untuk ongkos naik angkutan umum. Kalau kue kami tidak terjual satupun itu berarti aku harus berjalan kaki sejauh 3 km untuk sekolah. Aku tak sanggup meminta uang sepeserpun unutuk membeli buku SNMPTN pada ayahku yang menjadi kuli dipasar, apalagi berkata pada ayah kalau aku ingin kuliah ke JOGJA. Sudahlah bagiku kuliah adalah mimpi-mimpi basi seorang siswa SMA kelas 3 seperti aku ini.
Itulah sebabnya aku menyembunyikan mimpi besar hidupku ini dari orang banyak. Bagiku mimpi ini hanya akan menjadi pisau kecil bagi keluarga kami. Mimpi yang akan menusuk dan mengiris perasaan kedua orang tuaku. Tak pernah sekalipun aku berniat untuk mengkhayal menduduki bangku kuliah. Aku takut kalau kedua orang tuaku tahu tentang mimpi ini, mereka pasti akan merasa kalau mereka bukan orang tua yang baik, orang tua yang tidak bisa membahagiakan anak-anaknya. Biarlah mimpiku yang ini hanya aku, meja kecil itu dan Tuhan yang tahu.
Sahabatku Ana selalu ada untukku, memberika support. Cita-citanya menjadi dokter membuat aku tersenyum miris sendiri. Aku selalu berpikir kenapa aku tidak seberani dirinya bermimpi dan bercita-cita. Namun aku sadar aku tidak seperti dirinya, aku bukan anak siapa-siapa yang boleh bermimpi setinggi itu. Kalau kata adikku yang pertama “MIMPI ITU MAHAL KAK!” buat bermimpi saja itu sulit apa lagi merealisasikannya pada kenyataan.
Sesulit itukah bermimpi pikirku kalau mimpi saja dianalogikan dan disamakan dengan kata mahal. Kata-kata yang membuat keluarga miskin seperti kami gempar mendengarnya. Kata mahal itu bagi kami berarti mustahil dijangkau. Maklumlah, bagi keluarga miskin seperti kami harga sebutir telur naik seratus rupiah pun sudah membuat kepala ayahku sakit.
Saat aku berkunjung kerumah Ana, orang tuanya memberikanku uang sebesar seratus ribu rupiah. Tanganku gemetar menerimanya. Orang tua Ana memberikan uang itu untuk aku gunakan sebagai ongkos pulang kerumah, yang pada kenyataannya ongkos yang aku gunakan hanya empat ribu rupiah. Setelah kuputuskan sisa uang tersebut kuberanikan saja untuk kubelikan sebuah buku SNMPTN bekas dipasar. Agar harganya tidak mahal dan aku dapat memberikan sisa uangnya pada ibuku. Aku sangat senang sekali saat itu, aku berpikir walaupun aku tak ada niat untuk kuliah namun apa salahnya kalau aku juga ikut menimba ilmu seperti teman-temanku.
“Kamu mau kuliah?” sahut ayahku didepan ibu dan adik-adiku.
Aku kaget bukan main terhadap pertanyaan itu, dari mana ayah tahu mimpi yang aku sembunyikan dari dunia itu, mimpi yang tidak pernah terucap oleh lidahku sendiri walau dalam doa di sholatku, mimpi yang hanya ikut mengalir bersama air mata sebelum tidurku, mimpi yang bahkan akupun sendiri malu bercerita pada Tuhan.
Ternyata ayah menyadari hal itu semua karena buku SNMPTN yang baru aku beli kemarin ku letakan diatas meja kecil hitam itu. Ibuku yang hanya lulusan SD menggeleng-gelengkan kepala mendengar ucapan ayah. Ibu marah mendengar hal itu, ibu menyuruhku mengubur mimpi tersebut, ibu takut kalau nantinya aku stress karena mimpiku yang ini tidak akan pernah terwujud.
Aku tertunduk menangis, adik-adiku iba melihat kearahku. Ayah menenangkanku tersenyum padaku, ayah berkata padaku agar aku belajar yang baik dan mencari tempat kuliah yang aku inginkan. Ayah berkata kalau beliau akan berusaha mati-matian agar aku bisa kuliah. Aku tersenyum melihat ayah yang bijak berkata seperti itu, entahlah aku sempat berpikir kalau ayah hanya ingin menenangkan diriku saja.
Suatu sore saat aku sedang menyapu halaman rumah, seorang ibu yang sebaya dengan ibuku menegurku.
“kamu mau kuliah yah neng?”. Tegurnya sambil tertawa kecil.
Aku kaget dibuatnya, Ibu itu berkata kalau kemarin ibuku bercerita pada dirinya bahwa aku merengek meminta meneruskan sekolah. Ibu itu menasihati diriku, dia berkata padaku kalau kita sebagai orang susah jangan ‘kebanyakan tingkah’, aku sebagi anak pertama jangan menyusahkan kedua orangtua dengan merengek-rengek minta kuliah. Kuliah itu mahal katanya, upah ayahmu itu tidak cukup untuk makan dua kali sehari, apalagi untuk biaya kuliah. Kasihan adikmu ada banyak mau makan apa mereka.
Hatiku bergetar, ingin rasanya aku membentaknya. Namun aku hanya mampu membalas perkataannya dengan senyum termanis yang aku miliki.
Keesokan harinya ibuku bercerita, kalau teman-teman ayahku dipasar itu mengolok-olok ayahku karena ayahku bercerita pada mereka kalau aku ingin kuliah. Mereka berkata pada ayahku kalau tidak akan ada universitas yang mau menerima orang miskin seperti aku ini.
Aku berlari menuju meja kecil hitam di ruang tamuku, ku buka buku catatanku yang pernah kutulisi tulisan grafiti nama sebuah universitas impianku. Kurobek dan kulempar bukunya, aku marah saat itu. Karena orang yang paling aku sayang itu dihina oleh orang lain, dicaci maki. Aku tersadar kalau itu semua karena mimpi ‘konyolku’ berkuliah. Itulah sebabnya selama ini aku malu dan memutuskan untuk menguburkan niat dan impianku berkuliah sedalam-dalamnya. Sudah kukira akan berakhir dengan penghinaan kedua orangtuaku seperti ini. Aku kesal, orang tuaku dihina seperti itu. Aku malu karena itu semua adalah ulah dari mimpi tidur indahku.
***
Keesokan harinya disekolah teman-temanku bersorak dan memanggilku.
“Selamat yah sit, lu masuk daftar undangan SNMPTN tuh!” ucap Lidia
Jantungku bergetar, aku tak percaya kalau namaku bisa masuk dalam jajaran murid-murid pintar yang bisa mengikuti SNMPTN undangan. Aku pun girang bukan main, ku hampiri guru bimbingan konselingku. Aku menceritakan masalah keluargaku selama ini, awalnya aku tak mau bercerita namun karena mimpiku berkuliah saat ini sudah ada di depan pelupuk mata. Maka akupun memutuskan untuk menceritakan semuanya agar aku mendapatkan jalan keluar yang terbaik.
Guruku itu langsung memeluk tubuhku yang kaku, dia memiliki impian besar terhadap diriku. Dia mencarikan solusi untuk masalahku ini dengan menawarkan beasiswa BIDIKMISI. Tanpa berpikir panjang aku menyetuji ajakannya. Aku pulang kerumah dan menyiapkan berkas-berkas yang ada, saat itu aku merasa bersyukur sekali karena impianku yang kurasa buruk itu akan segera terwujud. Aku sengaja tidak memberitahu informasi ini pada kedua orangtuaku, aku ingin membuat semua ini menjadi kejutan bagi mereka.
Segala macam persyaratan pendaftaran SNMPTN itu pun telah dipenuhi, aku memutuskan untuk memilih UNIVERSITAS GADJAH MADA dan prodi TEKNIK NUKLIR pada pilihan pertama. Entahlah dengan hanya bermodal menyukai kimia dan fisika. Maka aku putuskan untuk memilih program studi ini. Besar harapanku untuk diterima. Setelah semuanya selesai , baru ku beritahu ayah dan mama. Mereka sangat senang karena beasiswa Bidik Misi ini mereka berdua tidak perlu mengeluarkan uang sampai aku lulus nanti. Kedua orang tuaku pun senang dengan pilihan program studi yang aku pilih itu.
Semuanya tinggal ku pasrahkan pada Tuhan. Kalau memang rezeki aku pasti akan mendaptkannya pesan ayah padaku yang selalu ku ingat.Aku senang dan aku ingin membuktikan pada semua orang yang telah menghina mimpiku.Aku ingin membuktikan kalau impianku ini akan segera terwujud.
Dua bulan lamanya aku menunggu pengumuman, selama itu aku mempersiapkan diriku untuk bisa mengikuti SNMPTN tulis, aku belajar sedikit demi sedikit dari buku soal-soal SNMPTN yang aku miliki. Semangatku berkuliah setiap harinya semakin kencang. Ditengah-tengah semangatku ini, masih saja ada tetangga yang mengolok-olok mimpiku. Ada tetangga yang berkata pada ibuku seperti ini.
“Hati-hati bu, itu anaknya bukan mau kuliah tapi mau jual diri.” Ucapnya sinis
Ingin rasanya aku menampar orang yang berbicara seperti itu pada ibuku, tapi ibuku menyadarkanku kalau ucapan mereka adalah batu loncatan bagi prestasiku. Aku harus tetap rajin belajar dan membuktikan pada dunia kalau mimpiku itu akan mengubah dunia menjadi lebih baik.
Semua hinaan, cacian maki tetangga-tetangga sampai saudara-saudara terdekat kami kemarin terhadap mimpi besarku, kini lenyap sudah. Air mata kedua orang tuaku kini warnanya berubah sebening permata, keringatnya yang bercucuran itu menjadi keringat kebanggaan mereka terhadapku, simpulan senyum guru-guruku mengguratkan harapan besar padaku.
Ya, aku diterima di Universitas kerakyatan yang menjadi kebanggaan negara ini. Universitas bergengsi dan nomor satu terbaik di Negri ini. Gadjah Mada namanya, di sana namaku tertera di Teknik Nuklir. Program studi sarjana Nuklir satu-satunya di ASEAN dan memiliki lulusan terbaik se-Asia.
Aku tak bisa berkata apa-apa, melihat kebahagiaan kedua orang tuaku. Melihat mimpiku yang kini menjadi nyata, mimpi yang tak pernah berani aku ungkapkan pada dunia. Mimpi yang tak seharusnya aku tutupi dari orang lain. Sekarang aku sadar kalau semua itu memang berasal dari mimpi. Mimpi yang bukan hanya sekedar mimpi, mimpi yang harus segera diwujudkan, bukan dibiarkan tetap tidur bersama angan-angan semata.
Aku pun tersadar sekarang kalau tak ada satupun hal yang mustahil dalam hidup ini, aku masih memiliki Allah. Tuhanku yang tak pernah tidur, yang selalu mau mendengarkan mimpi kecil kita. Aku tak akan menyia-nyiakan amanat besarmu ini Tuhan. Aku tersenyum mengingat semua pengorbanan aku dan kedua orangtuaku demi mimpi manis ini kemarin. Terimakasih meja kecilku yang setia menemaniku merogoh mimpi ini. Terimakasih Tuhan mengijinkanku merajut asa ini untuk meraih impian.
From: tf.ugm.ac.id
© Blog Komisariat KAMMI UNY
Maira Gall